Oleh : Saifudin Zebod
(Penulis adalah Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Khodim
Pondok Pesantren Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun.)
Ganti
Mentri ganti kebijakan dan ganti kurikulum itu tren pendidikan kita. Menyikapi
tren tersebut, santri Pondok Pesantren Bah Sarimah ikut mendiskusikanya.
Namanya diskusi santri, tentu yang penting baginya berpendapat tidak disibukan
dengan landasan ilmiah layaknya para pakar. Kesimpulan diskusi santri
menghasilkan pendidikan negeri ini harus berpijakan pada aqidah, yakni harus berani memilih menjadi “dokter”
spesialis ketimbang menjadi “bidan” puskesmas kampung, alias bertauhid dalam
pendidikan.
Tauhid itu masdar ghoir mimnya lafadz “Wahhada”.
Wahhada-yuwahhidu-tauhidan. Pungsi pemindahan wazan ini adalah ta’diyah.
Singkatnya tauhid itu adalah usaha
untuk menjadikan semua ke arah satu.
Rencana
Pemerintah merampingkan dan menekankan karekter juga menambah jam mata
pelajaran agama pada kurikulum pendidikan tahun depan, selagi beritikad untuk
memajukan pendidikan, harus kita apresiasi. Terlebih dalam point
menyederhanakan pelajaran.
Puluhan mata
pelajaran di sekolah yang harus dipahamai oleh siswa, kata santri, sebagai
pelakunya, terasa berat untuk dipahami semua. Sehingga bukanya menjadi murid
yang berpengetahuan luas, berpengetahuan disegala bidang, yang ada hanya murid
yang berpengetahuan setengah – setengah. Lagian, masih katanya, bahasa bisa
menguasai segala bidang ilmu adalah bahasa yang enak kendengaranya, bahasa yang
memberikan magic, sihir kepada pendengarnya, namun belum tentu seperti itu pada
tingkat pelaksanaanya. Masih katanya, siapa dari kita yang bisa menguasi semua
pelajaran. Disamping itu, dengan banyaknya mata pelajaran berarti telah lari
dari pakem yang disediakan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui.
“ Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk
(menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis
(ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak
itu (pula)." Q.S 18 :109
Pada ayat ini,
katanya, terkandung pemberitahuan bahwa manusia tidak akan sanggup untuk
menguasai segala bidang ilmu. Karenanya, haruslah rela dan berusaha untuk
mendalami satu bidang ilmu saja agar menjadi pakar dibidangnya masing-masing.
Andaikan manusia ngotot berhayal menguasai semua ilmu, yang ada hanya
mendzolimi diri sendiri. Sebab jelas tidak akan mampu. Lautan saja kering
duluan sebelum habis ilmu Allah ditulis olehnya, dan andaikan didatangkan air
sejumlah lautan yang pertama, tetap saja hasilnya sama: kehabisan sebelum habis
ilmu Allah.
“man ‘arafa
nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, ” siapa yang mengenal dirinya, maka
sungguh mengenal Tuhanya. Kalimat ini pun juga bisa menjadi penguat terhadap
harus bergerak ke arah satu titik. Dengan bahasa lain, kalau tidak berlebihan,
dan tidak terkesan memaksakan, bisa disebut bahwa siswa tidak akan mempunyai
karakter kokoh, manakala masih tetap dipaksakan untuk menguasai seluruh mata
pelajaran. Seseorang tidak akan mendapati dirinya kokoh karakter kalau ia sibuk
berusaha mengetahui orang lain.
Seseorang
disuruh untuk bisa mengenali dirinya terlebih dulu, maka insyallah akan
mengenal Tuhanya dengan baik. Mengenali dirinya saja yang cuma satu, masih
katanya, mungkin tidak akan bisa mengenal secara kaaffah berhubung banyaknya
unsur terbentuknya diri seseorang, seperti mata, telinga, hidung dan lainya.
Konon lagi berusaha mengenali orang lain, sudah bisa dipastikan yang ada hanya
kebingungan. Begitu juga dalam masalah ilmu, mendalami satu bidang ilmu saja,
seseorang akan kehabisan waktu untuk dapat mengetahuinya secara menyeluruh.
Sebut saja mendalami ilmu nahu, berapa waktu yang diperlukan untuk memahami bab
per babnya. Dari bab kalam sampai bab idofah. Belum lagi memahami ilmu lain
yang berkaitan dengan kesempurnaanya seperti shorof, balaghah. Jelas butuh
waktu tidak sebentar.
Spesialis
Usaha
pemerintah, menurut hemat penulis, adalah langkah nyata dalam menuju ke arah
sana. Dengan disederhanakan, bukankah itu mengandung usaha untuk membentuk
siswa menjadi spesialis? Dan jika kurikulum tersebut dipertahankan,
disempurnakan sedikit demi sedikit, bukan tidak mungkin karakter spesialis
siswa akan bersemi. Dan pada ahirnya, jika dirawat dengan sungguh –sungguh,
karakter tersebut tumbuh subur. Orang tua manapun akan lebih ridho anaknya
mahir di satu bidang ilmu walaupun dibidang lainya kurang ketimbang setengah –
setengah semuanya.
Dalam
kalimat tauhid, “ Tiada tuhan selain Allah”, juga memberikan ketegasan akan hal
spesialis ini. Demikian juga alam sekitar kita. Jika kita mau mentauhidkan
pendidikan, maka akan lahir kalimat seperti ini, “ tiada ilmu selain ilmu itu”.
Tauhid mengarahkan manusia untuk menjadi spesialis. Semestinya kalimat agung
itu selalu menjadi ingatan pikiran kita dimana, bagaimanpun keadaanya, baik
duduk, berdiri, berbaring, agar terpatri dalam diri yang pada ahirnya
mempengaruhi tindakan.
Mungkin
sebagian mempunyai was-was jika anaknya hanya mengetahui bidang ilmu tertentu
saja. Bisa jadi. Apalagi ditengah kemajuan seperti sekarang ini. Tetapi was-was
itu perlahan akan pudar jika memperhatikan dan mencermati peringatan dari alam
sekitar kita. Dalam dunia olah raga, misalnya, belum terdengar seseorang bisa
menjuarai kejuaraan dunia pada cabang olah raga berbeda. Lebih mengerucut lagi,
dalam sepak bola, tidak ada penonton mencaci penyerang yang tidak bisa jadi
libero handal. Begitu juga sebaliknya, tidak terdengar cemoohan penonton
terhadap penjaga gawang yang tidak bisa mencetak gol.
Tidak
ada juga orang yang marah melihat api tidak bisa memberikan kesegaran, air
tidak bisa memberi kehangatan, malam tidak memberikan cahaya, gunung tidak
memberi tiupan, angin tidak memberi buah-buahan, matahari tidak memberi
kedipan, bintang tidak memberi sorotan. Tidak ada juga orang mrepet melihat
kuda, sapi, kambing tidak bisa bertelor seperti ayam. Berarti semua ridho
dengan spesialisnya masing –masing.
Syeh
Ibrahim Bin Ismail dalam Ta’lim Muta’alim-nya, dalam mentafsiri
hadis, “ mencari ilmu fardlu atas orang muslim dan muslimah,” berkata
bahwa yang wajib bukan terhadap semua ilmu, melainkan ilmu hal yakni
ilmu yang membahas tingkah, keselamatan diri di dunia dan ahirat.
Penegasan
spesialis juga bisa terlihat dalam Q.S. Al-Anbiya : 22 berikut, “Sekiranya ada di langit dan di bumi
tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak...” Jika ada Tuhan di
langit, dan di bumi juga ada Tuhan sendiri, maka akan rusak kedua-duanya. Bukan
langit atau bumi saja yang rusak, tetapi kedu-duanya. Dua saja rusak apalagi
puluhan.
Penutup
Dalam diskusi santri, ada
santri mbeling yang bertanya lari dari materi diskusi. Dia melemparkan
pertanyaan, “ kira – kira sampai kapan pemerintah akan senang menggonta- ganti
kurikulum pendidikan kita?” setelah semua anggota diskusi tidak ada yang bisa
menjawab. Dia menjawab sendiri. Katanya pemerintah akan tetap mengotak –atik
kurikulum sampai hanya satu mata pelajaran tersisa sehingga siswa betul –betul
mendalami dan menjadi spesialis atau
paling tidak sampai kembali seperti era PGAA, PGA, SGO, era 60-70-an karena,
katanya, alumni era itu rata-rata mempunyai karakter dan bisa dibanggakan.
Sambil berlagak seperti pakar sejarah, dia melemparkan pertanyaan kembali. “
Kenapa dokter spesialis duitnya lebih banyak dibanding bidan puskesmas
kampung?” Dia menjawab sendiri, sambil pasang muka keren. “ Karena bidan
kampung bisa menangani bisul, sakit mata,ibu melahirkan, cacaran, korengan, sedangkan
dokter spesialis hanya bisa menangani satu penyakit”
Wallahu’alam bishawab.
Alamat penulis : Pondok
Pesantren Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun Hp 085362004911
0 komentar:
Posting Komentar