Jumat, 17 Mei 2013

Tauhid Pendidikan



Oleh : Saifudin Zebod 


(Penulis adalah Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Khodim Pondok Pesantren Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun.)


Ganti Mentri ganti kebijakan dan ganti kurikulum itu tren pendidikan kita. Menyikapi tren tersebut, santri Pondok Pesantren Bah Sarimah ikut mendiskusikanya. Namanya diskusi santri, tentu yang penting baginya berpendapat tidak disibukan dengan landasan ilmiah layaknya para pakar. Kesimpulan diskusi santri menghasilkan pendidikan negeri ini harus berpijakan pada aqidah,  yakni harus berani memilih menjadi “dokter” spesialis ketimbang menjadi “bidan” puskesmas kampung, alias bertauhid dalam pendidikan.
            Tauhid itu  masdar ghoir mimnya lafadz “Wahhada”. Wahhada-yuwahhidu-tauhidan. Pungsi pemindahan wazan ini adalah ta’diyah. Singkatnya tauhid itu adalah   usaha untuk menjadikan semua ke arah satu.
Rencana Pemerintah merampingkan dan menekankan karekter juga menambah jam mata pelajaran agama pada kurikulum pendidikan tahun depan, selagi beritikad untuk memajukan pendidikan, harus kita apresiasi. Terlebih dalam point menyederhanakan pelajaran.
Puluhan mata pelajaran di sekolah yang harus dipahamai oleh siswa, kata santri, sebagai pelakunya, terasa berat untuk dipahami semua. Sehingga bukanya menjadi murid yang berpengetahuan luas, berpengetahuan disegala bidang, yang ada hanya murid yang berpengetahuan setengah – setengah. Lagian, masih katanya, bahasa bisa menguasai segala bidang ilmu adalah bahasa yang enak kendengaranya, bahasa yang memberikan magic, sihir kepada pendengarnya, namun belum tentu seperti itu pada tingkat pelaksanaanya. Masih katanya, siapa dari kita yang bisa menguasi semua pelajaran. Disamping itu, dengan banyaknya mata pelajaran berarti telah lari dari pakem yang disediakan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui.
“ Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." Q.S 18 :109
Pada ayat ini, katanya, terkandung pemberitahuan bahwa manusia tidak akan sanggup untuk menguasai segala bidang ilmu. Karenanya, haruslah rela dan berusaha untuk mendalami satu bidang ilmu saja agar menjadi pakar dibidangnya masing-masing. Andaikan manusia ngotot berhayal menguasai semua ilmu, yang ada hanya mendzolimi diri sendiri. Sebab jelas tidak akan mampu. Lautan saja kering duluan sebelum habis ilmu Allah ditulis olehnya, dan andaikan didatangkan air sejumlah lautan yang pertama, tetap saja hasilnya sama: kehabisan sebelum habis ilmu Allah.
“man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, ” siapa yang mengenal dirinya, maka sungguh mengenal Tuhanya. Kalimat ini pun juga bisa menjadi penguat terhadap harus bergerak ke arah satu titik. Dengan bahasa lain, kalau tidak berlebihan, dan tidak terkesan memaksakan, bisa disebut bahwa siswa tidak akan mempunyai karakter kokoh, manakala masih tetap dipaksakan untuk menguasai seluruh mata pelajaran. Seseorang tidak akan mendapati dirinya kokoh karakter kalau ia sibuk berusaha mengetahui orang lain.
Seseorang disuruh untuk bisa mengenali dirinya terlebih dulu, maka insyallah akan mengenal Tuhanya dengan baik. Mengenali dirinya saja yang cuma satu, masih katanya, mungkin tidak akan bisa mengenal secara kaaffah berhubung banyaknya unsur terbentuknya diri seseorang, seperti mata, telinga, hidung dan lainya. Konon lagi berusaha mengenali orang lain, sudah bisa dipastikan yang ada hanya kebingungan. Begitu juga dalam masalah ilmu, mendalami satu bidang ilmu saja, seseorang akan kehabisan waktu untuk dapat mengetahuinya secara menyeluruh. Sebut saja mendalami ilmu nahu, berapa waktu yang diperlukan untuk memahami bab per babnya. Dari bab kalam sampai bab idofah. Belum lagi memahami ilmu lain yang berkaitan dengan kesempurnaanya seperti shorof, balaghah. Jelas butuh waktu tidak sebentar.
Spesialis
Usaha pemerintah, menurut hemat penulis, adalah langkah nyata dalam menuju ke arah sana. Dengan disederhanakan, bukankah itu mengandung usaha untuk membentuk siswa menjadi spesialis? Dan jika kurikulum tersebut dipertahankan, disempurnakan sedikit demi sedikit, bukan tidak mungkin karakter spesialis siswa akan bersemi. Dan pada ahirnya, jika dirawat dengan sungguh –sungguh, karakter tersebut tumbuh subur. Orang tua manapun akan lebih ridho anaknya mahir di satu bidang ilmu walaupun dibidang lainya kurang ketimbang setengah – setengah semuanya.
Dalam kalimat tauhid, “ Tiada tuhan selain Allah”, juga memberikan ketegasan akan hal spesialis ini. Demikian juga alam sekitar kita. Jika kita mau mentauhidkan pendidikan, maka akan lahir kalimat seperti ini, “ tiada ilmu selain ilmu itu”. Tauhid mengarahkan manusia untuk menjadi spesialis. Semestinya kalimat agung itu selalu menjadi ingatan pikiran kita dimana, bagaimanpun keadaanya, baik duduk, berdiri, berbaring, agar terpatri dalam diri yang pada ahirnya mempengaruhi tindakan.
Mungkin sebagian mempunyai was-was jika anaknya hanya mengetahui bidang ilmu tertentu saja. Bisa jadi. Apalagi ditengah kemajuan seperti sekarang ini. Tetapi was-was itu perlahan akan pudar jika memperhatikan dan mencermati peringatan dari alam sekitar kita. Dalam dunia olah raga, misalnya, belum terdengar seseorang bisa menjuarai kejuaraan dunia pada cabang olah raga berbeda. Lebih mengerucut lagi, dalam sepak bola, tidak ada penonton mencaci penyerang yang tidak bisa jadi libero handal. Begitu juga sebaliknya, tidak terdengar cemoohan penonton terhadap penjaga gawang yang tidak bisa mencetak gol.
Tidak ada juga orang yang marah melihat api tidak bisa memberikan kesegaran, air tidak bisa memberi kehangatan, malam tidak memberikan cahaya, gunung tidak memberi tiupan, angin tidak memberi buah-buahan, matahari tidak memberi kedipan, bintang tidak memberi sorotan. Tidak ada juga orang mrepet melihat kuda, sapi, kambing tidak bisa bertelor seperti ayam. Berarti semua ridho dengan spesialisnya masing –masing.
Syeh Ibrahim Bin Ismail dalam Ta’lim Muta’alim-nya, dalam mentafsiri hadis, “ mencari ilmu fardlu atas orang muslim dan muslimah,” berkata bahwa yang wajib bukan terhadap semua ilmu, melainkan ilmu hal yakni ilmu yang membahas tingkah, keselamatan diri di dunia dan ahirat.

Penegasan spesialis juga bisa terlihat dalam Q.S. Al-Anbiya : 22 berikut, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak...” Jika ada Tuhan di langit, dan di bumi juga ada Tuhan sendiri, maka akan rusak kedua-duanya. Bukan langit atau bumi saja yang rusak, tetapi kedu-duanya. Dua saja rusak apalagi puluhan.
Penutup
Dalam diskusi santri, ada santri mbeling yang bertanya lari dari materi diskusi. Dia melemparkan pertanyaan, “ kira – kira sampai kapan pemerintah akan senang menggonta- ganti kurikulum pendidikan kita?” setelah semua anggota diskusi tidak ada yang bisa menjawab. Dia menjawab sendiri. Katanya pemerintah akan tetap mengotak –atik kurikulum sampai hanya satu mata pelajaran tersisa sehingga siswa betul –betul mendalami  dan menjadi spesialis atau paling tidak sampai kembali seperti era PGAA, PGA, SGO, era 60-70-an karena, katanya, alumni era itu rata-rata mempunyai karakter dan bisa dibanggakan. Sambil berlagak seperti pakar sejarah, dia melemparkan pertanyaan kembali. “ Kenapa dokter spesialis duitnya lebih banyak dibanding bidan puskesmas kampung?” Dia menjawab sendiri, sambil pasang muka keren. “ Karena bidan kampung bisa menangani bisul, sakit mata,ibu melahirkan, cacaran, korengan, sedangkan dokter spesialis hanya bisa menangani satu penyakit”
Wallahu’alam bishawab.


Alamat penulis : Pondok Pesantren Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun Hp 085362004911

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut