Jumat, 17 Mei 2013

MEMBONCENG “LA ILAHA ILLA ALLAH”

Kenapa kita, yang fitrahnya sebagai pemimpin, menjadi umat yang kalah? Adakah yang salah dalam menjalani hidup. Bukankah ibadah sudah dilakukan dengan semampunya?
Kita , sekarang ini terjebak dalam ‘aweh-aweh’ dunia. Asal dianggap menguntungkan untuk urusan dunia, ramai – ramai mengejarnya. Sehingga, sudah konsekwensi, muncul  kebingungan memahami sebenarnya siapa diri kita. Karena memang itu sifat dunia ; selalu berubah – ubah, membingungkan.
Generasi kita kebingungan mau bekerja apa setelah menyelesaikan sekolahnya. Tidak yang santri, tidak yang mahasiswa merasa nasib tidak bersahabat denganya, manakala ia belum menemukan tempat untuk bekerja. Pikiran rugi telah mengeluarkan banyak pengorbanan baik materi maupun fisik, waktu  selalu menghantui. Emosi dalam bathin  menaik levelnya saat melihat orang – orang yang sudah bekerja akan tetapi terhadap kerjaanya kurang menjiwai. Timbulah pemberontakan lewat mengeluarkan kata – kata yang cenderung menyalahkan system pemerintah dalam menerima pegawai, system perusahan yang masih bermandikan KKN. Jarang sekali, kalau tidak disebut tidak ada, yang menyikapi dengan introveksi.
Dimanakah kehidupan agama yang dulu mampu menentramkan kehidupan. Dimanakah jiwa – jiwa penerima itu. Tidak mungkin teori Allah lemah. Tetapi kenapa sekarang teori itu ditinggalkan?
Dan masih banyak pertanyaan senada yang timbul dalam hati. Pertanyaan itu haruslah dipelihara agar berusaha untuk mencari jawabanya. Untuk lebih memfokuskan terhadap masalah, penulis berusaha menghidupkan pertanyaan, kenapa kita umat Islam bingung mencari kerja?
Pertanyaan ini terasa lebih hangat untuk dimunculkan sebab realitanya banyak yang bingung mau bekerja apa. Sementara tuntutan memenuhi kebutuhan tidak bisa diundur barang sesenti –dua senti.
            Islam dengan syariatnya menjawab segala kebutuhan umat. Pemahaman ini bisa dimengerti dari firmanNya, Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” Q.S. Al Anbiyaa’ : 107
 Makna rahmat bagi semua alam tentunya bukan teruntuk hanya orang Islam saja, melainkan semua ayang ada di alam ini.
            Menjadi rahmatnya syariat bagi alam semua bukan berarti langsung muncul begitu saja. Tetap harus melalui pencarian, usaha untuk mewujudkan rahmat tersebut. Sebab sudah sunatullah semua yang di dunia itu berawal dari ketiadaan. Jadi perlu usaha untuk mengadaakan apa – apa yang menjadi keinginan agar terasa makna rahmat dalam kehidupan. Baca hadits Qudsi berikut, “…Hai hamba – hambaKu kamu semua tersesat kecuali orang yang Saya beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu, niscaya Saya memberi petunjuk pada kamu. Hai hambaKu kamu semua lapar, kecuali orang yang Saya beri makan. Maka minta makanlah kamu kepadaKu, niscaya Saya beri makan kamu…”
            Dari sinilah pembahasan buku ini dimulai. Allah swt dengan jelas mengatakan bahwa manusia pada awalnya berada di ‘ketidak-adaan’. Bahkan bukan hanya manusia saja yang mempunyai ketidak-adaan pada awalnya, melainkan semua alam dunia ini. Perhatikan proses kejadian diri kita. Bukankah sebelum kita dilahirkan, kita berada di garis tidak ada. Setelah ada usaha dari kedua orang tua baru Allah meng-ijabahi- usaha keduanya. Usaha kedua orang tua merupakan sebuah doa yang menjadikan Allah mewujudkan kita. Begitu juga terhadap apa-apa yang ada pada manusia. Seperti pakaian, rezeqi, jabatan dan lain – lain semuanya berawal dari tidak ada.
Perhatikan tauhid ketuhanan kita. Jelas sekali memberitahukan bahwa ketidak-adaan itu awal dari semua. LAA ILAHA ILLAA ALLAH ( Laa : tidak ada.  Ilaha: Tuhan. Illaa : Kecuali. Allah : Tuhan itu ).
Negative dulu digunakan dalam kesaksian ketuhanan. Artinya memberitahukan bahwa awal adalah tidak ada. Tidak ada Tuhan dikatakan duluan bukan berarti bermakna tuhan itu tidak ada. Dan kemudian manusia membiarkan diri dengan ketidak-adaan tuhan. Melainkan ada kandungan pengertian bahwa manusia sadar atau tidak sadar pasti akan mencari Tuhanya. Pencarian atau langkah menuju ke arah sana inilah yang menjadi mesteri dalam kehidupan. Karena itulah, manusia tidak semuanya sampai ke arah sana. Ada yang berbelok ; ada yang membentur kesana-kesini dan berhenti ditengah jalan ; ada juga yang sampai ke haribaanya.
Pencarian itu lebih terasa sulit, manakala tidak memakai senter ditangan sebagai alat Bantu untuk meniti jalan. Karena memang kegelapan yang menyertai perjalananya. Maka sangatlah wajar terjebak dalam kebingungan. Sungguhpun demikian, tetap saja perjalanan harus dilanjutkan sampai batas yang telah ditentukan olehNya. Pengertian ini bisa dilihat dalam Q.S


4.  Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .



0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut