Kenapa kita, yang fitrahnya sebagai pemimpin, menjadi umat yang
kalah? Adakah yang salah dalam menjalani hidup. Bukankah ibadah sudah dilakukan
dengan semampunya?
Kita , sekarang ini terjebak dalam ‘aweh-aweh’ dunia. Asal
dianggap menguntungkan untuk urusan dunia, ramai – ramai mengejarnya. Sehingga,
sudah konsekwensi, muncul kebingungan
memahami sebenarnya siapa diri kita. Karena memang itu sifat dunia ; selalu
berubah – ubah, membingungkan.
Generasi kita kebingungan mau bekerja apa setelah menyelesaikan
sekolahnya. Tidak yang santri, tidak yang mahasiswa merasa nasib tidak
bersahabat denganya, manakala ia belum menemukan tempat untuk bekerja. Pikiran
rugi telah mengeluarkan banyak pengorbanan baik materi maupun fisik, waktu selalu menghantui. Emosi dalam bathin menaik levelnya saat melihat orang – orang
yang sudah bekerja akan tetapi terhadap kerjaanya kurang menjiwai. Timbulah
pemberontakan lewat mengeluarkan kata – kata yang cenderung menyalahkan system
pemerintah dalam menerima pegawai, system perusahan yang masih bermandikan KKN.
Jarang sekali, kalau tidak disebut tidak ada, yang menyikapi dengan introveksi.
Dimanakah kehidupan agama yang dulu mampu menentramkan kehidupan.
Dimanakah jiwa – jiwa penerima itu. Tidak mungkin teori Allah lemah. Tetapi
kenapa sekarang teori itu ditinggalkan?
Dan masih banyak pertanyaan senada yang timbul dalam hati.
Pertanyaan itu haruslah dipelihara agar berusaha untuk mencari jawabanya. Untuk
lebih memfokuskan terhadap masalah, penulis berusaha menghidupkan pertanyaan, kenapa
kita umat Islam bingung mencari kerja?
Pertanyaan ini terasa lebih hangat untuk dimunculkan sebab
realitanya banyak yang bingung mau bekerja apa. Sementara tuntutan memenuhi
kebutuhan tidak bisa diundur barang sesenti –dua senti.
Islam dengan
syariatnya menjawab segala kebutuhan umat. Pemahaman ini bisa dimengerti dari
firmanNya, “Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” Q.S. Al Anbiyaa’ : 107
Makna rahmat bagi semua alam
tentunya bukan teruntuk hanya orang Islam saja, melainkan semua ayang ada di
alam ini.
Menjadi rahmatnya
syariat bagi alam semua bukan berarti langsung muncul begitu saja. Tetap harus
melalui pencarian, usaha untuk mewujudkan rahmat tersebut. Sebab sudah sunatullah
semua yang di dunia itu berawal dari ketiadaan. Jadi perlu usaha untuk
mengadaakan apa – apa yang menjadi keinginan agar terasa makna rahmat dalam
kehidupan. Baca hadits Qudsi berikut, “…Hai hamba – hambaKu kamu semua
tersesat kecuali orang yang Saya beri petunjuk, maka mintalah petunjuk
kepadaKu, niscaya Saya memberi petunjuk pada kamu. Hai hambaKu kamu semua
lapar, kecuali orang yang Saya beri makan. Maka minta makanlah kamu
kepadaKu, niscaya Saya beri makan kamu…”
Dari sinilah
pembahasan buku ini dimulai. Allah swt dengan jelas mengatakan bahwa manusia
pada awalnya berada di ‘ketidak-adaan’. Bahkan bukan hanya manusia saja yang
mempunyai ketidak-adaan pada awalnya, melainkan semua alam dunia ini.
Perhatikan proses kejadian diri kita. Bukankah sebelum kita dilahirkan, kita
berada di garis tidak ada. Setelah ada usaha dari kedua orang tua baru Allah
meng-ijabahi- usaha keduanya. Usaha kedua orang tua merupakan sebuah doa
yang menjadikan Allah mewujudkan kita. Begitu juga terhadap apa-apa yang ada
pada manusia. Seperti pakaian, rezeqi, jabatan dan lain – lain semuanya berawal
dari tidak ada.
Perhatikan tauhid ketuhanan kita. Jelas sekali
memberitahukan bahwa ketidak-adaan itu awal dari semua. LAA ILAHA ILLAA
ALLAH ( Laa : tidak ada. Ilaha:
Tuhan. Illaa : Kecuali. Allah : Tuhan itu ).
Negative dulu digunakan dalam kesaksian ketuhanan.
Artinya memberitahukan bahwa awal adalah tidak ada. Tidak ada Tuhan dikatakan
duluan bukan berarti bermakna tuhan itu tidak ada. Dan kemudian manusia
membiarkan diri dengan ketidak-adaan tuhan. Melainkan ada kandungan pengertian
bahwa manusia sadar atau tidak sadar pasti akan mencari Tuhanya. Pencarian atau
langkah menuju ke arah sana
inilah yang menjadi mesteri dalam kehidupan. Karena itulah, manusia tidak
semuanya sampai ke arah sana.
Ada yang
berbelok ; ada yang membentur kesana-kesini dan berhenti ditengah jalan ; ada
juga yang sampai ke haribaanya.
Pencarian itu lebih terasa sulit, manakala tidak memakai
senter ditangan sebagai alat Bantu untuk meniti jalan. Karena memang kegelapan
yang menyertai perjalananya. Maka sangatlah wajar terjebak dalam kebingungan.
Sungguhpun demikian, tetap saja perjalanan harus dilanjutkan sampai batas yang
telah ditentukan olehNya. Pengertian ini bisa dilihat dalam Q.S
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
0 komentar:
Posting Komentar