Sabtu, 23 Januari 2016

Petir dalam Kehidupan Kita



Oleh : Saifudin Zainuri
(Ketua MUI KEC. Silau Kahean Pengasuh Pones bah Sarimah)
“Dan ketika kamu berkata kepada Musa, tidak bakalan kami percaya kepadamu sampai kami melihat Tuhanmu dengan jelas. Kemudian kalian tersambar petir dan kalian melihat. Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian supaya kalian bersyukur.”QS 2:

Kawan, berapa kali kita meneliti apa –apa kejiadian yang menimpa kita? Lalu berpikirkah kita bahwa apa –apa yang menimpa kita adalah karena ulah kita?
Alkisah. Seorang ulama berangkat sholat jumat dengan tidak melaksanakan sunah mandi jum,at terlebih dahulu. Di tengah perjalanan putus sandalnya. Beliau tidak berhenti mengucapkan istigfar. Sambil terus istigfar ia mengakui kedzaliman yang ia buat: tidak mandi, sehingga rusak sandalnya.
Bagi kita, orang awam mungkin tidak akan beerpikir bahwa putusnya sandal disebabkan oleh kesalahan tidak mengikuti perintah mandi sebelum jum’at. Memang dalam ayat “Janganlah kamu merusak bumi” ,  perusakan bumi ditafsiri oleh para ulama dengan sebab maksiat. Memang, kalau kita mau meneliti lebih dalam sedikit terhadap lingkungan kita, maka kita akan menemukan bahwa kampung –kampung yang terlihat banyak kemaksiatanya, kita temukan  rusak jalanya. Jika siratan demikian dimengerti oleh kita, baik masyarakatnya, maupun pemimpinya, maka akan mudah mencari solusinya. Contohnya ada gang yang  becek dalam satu kampung, hancur jalanya misalnya, maka kepala desa tinggal mencari tahu masyarakat sekitar itu dan pasti akan menemukan beberapa  daari mereka yang menyalahi aturan.
Keterpurukan yang menimpa kita, baik ekonomi, keluarga, karir, masalah, semua   itu “petir” yang bertujuan untuk mengingatkan kita. begitulah yang diinformasikan oleh al-qur’an. Dalam menyikapi itu, sedikit kurang pas kalau menganggap itu sebuah ujian, kalau “petir” itu mengenai kita. tapi, jika mengenai orang lain, baru pas berkata itu adalah ujian. Begitulah yang diajarkan oleh para ulama dalam menyikapi apa –apa yang menimpa.
Kalau masalah yang sama terus menimpa, berarti kesalahan yang sama terulang juga. Belum lulus –lulus, itu singkatnya. Kalau terlihat pada seseorang yang selalu maksiat kenikmatan, kesenangan, kebahagian itu semata cuman kelihatanya. Atau bisa karena diulur oleh Alloh swt untuk diberikan kesempatan bertaubat. Jika ada pengeluran itu adalah anugrah. Namun, perlu hati –hati pada yang selalu diberi anugrah, karena biasanya dibelakang ada adzab yang sangat pedih. Tidakah Fir’aun diberi semua yang serba lebih, tapi ujungnya ia ditenggelamkan di laut?
Kalau kita merasakan hukuman itu langsung diberikan setiap kali berbuat kekeliruan, berbahagilah sebab denganya, kita tidak terlena, sehingga kita akan bisa memperbaiki tindak laku kita. dan ini adalah anugrah Alloh swt yang besar yang patut disyukuri bukan malah mengeluh lantaran terasa kesengsaraan selalu menimpa. Lagian, kesengsaraan itukan karena ulah kita sendiri. Yang paling bagus menyadari dan berusaha memperbaiki diri agar “petir” itu tidak mengenai. Dengan memahami filosofi ini, ada beberapa kebijaksanaan.  Diantaranya, dengan paham itu tidak merasa sok akrab dengan Alloh. Selalu merasa hamba yang banyak dosa,  dengan demikian tidak sembrono melakukan kesalahan lagi dan lagi. akrab itu bagus, lah sok akrab, ngeneki!
Musibah yang menimpa sejatinya untuk menyadarkan manusia agar jangan terlalu jauh dalam keterpelesetanya. Agar manusia pandai bersyukur. Biasanya seseorang akan merasakan syukur setelah mengalami kebalikanya. Misalnya, nikmat sehat tidak pernah dianggap nikmat sehingga tidak  pernah mensyukurinya. Tapi, setelah terkena penyakit barulah ia sadar betapa sehat adalah nikmat yang besar. Dan lebih nikmatnya lagi, disamping sebagai pengingat, musibah menjadi ladang subur untuk memanen pahala.
Kedzaliman terus menerus yang menarik datangnya musibah kepada kita. dzalim pada orang lain maupun dzalim kepada diri sendiri. Terlebih –lebih dzalim kepada Alloh swt.
Semua memang dari Alloh, tapi yang memulai kita. itulah sunatullahnya. Tidak rezeki, tidak musibah, semua dari Allah tapi kita yang mendahuluinya. Dalam rezeki, misalnya, Allah menunggu manusia memulai dengan berdoa dan berusaha terlebih dahulu, baru Dia memberikan rezekinya. Jadi tidak dibenarkan kalau ada seseorang hamba meminta banyak rezeki dengan tidak memulai kerja apa –apa sebagai pembukanya. Bagaimana dengan sakit? Sama. Pembukaanya adalah kita. contohnya karena tidak menyeimbangkan pola makan, maka sakit seperti kolestrol, gula akan datang menghampirinya; seperti orang yang terkena Aids adalah karena tidak tekontrolnya sahwat.  Jadi sangat tepat kalau apa pun yang menimpa itu berawal dari kita. karenanya, lebih mengena jika musibah yang menghampiri itu dirasakan sebagai hukuman, sehingga ada inisiatif untuk perbaikan.
Menyadari semua milik Alloh termasuk hidup-mati kita  juga memberikan energi lebih yang bisa membantu untuk lebih nerimo terhadap apa pun yang terjadi ;  lebih “sopan” berpersangka kepadaNya. dalam keterangan lain, semuanya, termasuk hidup –mati adalah uji coba untuk menyaring siapa –siapa yang baik. Kalau demikian, dengan lebih merasa banyak kesalahan –sehingga merasa apa –apa yang menimpa adalah hukuman, akan lebih nyambung dalam menghantarkan diri sebagai yang masuk dalam golongan baik.
Sekalipun hukuman, tetap saja itu kebaikan. Karena tujuanya adalah terciptanya kesadaran yang denganya manusia mendapati kebahagian. Kebahagiaan sebagai manusia yang bisa nurut sesuai asal penciptaanya, kebahagian mendapatkan balasan di akhirat.
Lalu, dengan melihat ayat di atas tentang tujuan dihidupkanya kembali setelah terkena petir itu guna bersyukur, bisa diambil pemahaman untuk tidak terkena “petir’” yah harus selalu bersyukur. Jangan menunggu ada petir terlebih dahulu baru bersyukur. Agaknya pijakan ini yang digunakan oleh orang –orang tua dulu. Sehingga mereka mampu menciptakan budaya yang kental dengan nuansa bersyukur. Itu bisa dilihat dengan banyaknya among –among ; seringnya kita mendengar ungkapan “alhamdulilah, Cuma terkilir. Padahal dilihat jatuhnya ukuranya patah” dan ungkapan –ungkapan yang senada denganya. Itu semua cerminan syukur.
Orang yang pandai bersyukur akan mendapati dirinya selalu bahagia. Namun sayang kebahagian sering dikuntet-kan hanya kepada duit banyak. Padahal kenyataanya duit banyak tidak selamanya membuat bahagia. Dimana letak bahagia orang bersyukur? Lihatlah orang  yang selalu bersyukur selalu bisa menikmati keidupan dengan senyum, dengan ringan. Jauh sekali resah dan hawatir dari kehidupan mereka. Tidak sedikit orang kaya yang merindukan kehidupan seperti orang yang sederhana dengan syukurnya. Dengan bersyukur, seseorang akan menikmati dan mengambil selalu sisi baik terhadap apapun. Misalnya, makan singkong itu terasa nikmat kalau tidak menghayal keju. Karena keinginan lah manusia tidak bisa menikmati apa yang ada. Dan yang begitu hanya bersyukur jalan keluarnya. Yang lebih extrim efeknya, bersyukur membuat seseorang sehat. Mungkin inilah janji bertambahnya nikmat bagi orang yang mensyukuri rezeki. Dari segi mana bersyukur itu ada kaitanya dengan kesehatan? Dari ketentraman hati. Itulah kaitanya. Sudah menjadi pengetahuan umum dalam dunia kesehatan bahwa banyaknya masalah yang mengakibatkan kacaunya pemikiran dan terlalu resahnya hati  bisa mengakibatkan munculnya berbagai penyakit. Sebut saja orang yang terkena penyakit gula, darah tinggi, maka baginya harus menjauhi banyak berpikir, kalau kepingin penyakitnya tidak kambuh. Dan semacam itu tidak bisa terlaksana kecuali dengan banyak bersyukur.
Wallahu’alam bishawab.

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut