Oleh
: Saifudin Zainuri
(Ketua
MUI KEC. Silau Kahean Pengasuh Pones bah Sarimah)
“Dan ketika kamu
berkata kepada Musa, tidak bakalan kami percaya kepadamu sampai kami melihat
Tuhanmu dengan jelas. Kemudian kalian tersambar petir dan kalian melihat.
Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian supaya kalian
bersyukur.”QS 2:
Kawan, berapa kali kita meneliti apa –apa kejiadian yang menimpa kita?
Lalu berpikirkah kita bahwa apa –apa yang menimpa kita adalah karena ulah kita?
Alkisah. Seorang ulama berangkat sholat jumat dengan tidak melaksanakan
sunah mandi jum,at terlebih dahulu. Di tengah perjalanan putus sandalnya.
Beliau tidak berhenti mengucapkan istigfar. Sambil terus istigfar ia mengakui
kedzaliman yang ia buat: tidak mandi, sehingga rusak sandalnya.
Bagi kita, orang awam mungkin tidak akan beerpikir bahwa putusnya
sandal disebabkan oleh kesalahan tidak mengikuti perintah mandi sebelum jum’at.
Memang dalam ayat “Janganlah kamu merusak bumi” , perusakan bumi ditafsiri oleh para ulama
dengan sebab maksiat. Memang, kalau kita mau meneliti lebih dalam sedikit
terhadap lingkungan kita, maka kita akan menemukan bahwa kampung –kampung yang
terlihat banyak kemaksiatanya, kita temukan
rusak jalanya. Jika siratan demikian dimengerti oleh kita, baik
masyarakatnya, maupun pemimpinya, maka akan mudah mencari solusinya. Contohnya
ada gang yang becek dalam satu kampung,
hancur jalanya misalnya, maka kepala desa tinggal mencari tahu masyarakat
sekitar itu dan pasti akan menemukan beberapa
daari mereka yang menyalahi aturan.
Keterpurukan yang menimpa kita, baik ekonomi, keluarga, karir, masalah,
semua itu “petir” yang bertujuan untuk
mengingatkan kita. begitulah yang diinformasikan oleh al-qur’an. Dalam
menyikapi itu, sedikit kurang pas kalau menganggap itu sebuah ujian, kalau
“petir” itu mengenai kita. tapi, jika mengenai orang lain, baru pas berkata itu
adalah ujian. Begitulah yang diajarkan oleh para ulama dalam menyikapi apa –apa
yang menimpa.
Kalau masalah yang sama terus menimpa, berarti kesalahan yang sama
terulang juga. Belum lulus –lulus, itu singkatnya. Kalau terlihat pada
seseorang yang selalu maksiat kenikmatan, kesenangan, kebahagian itu semata
cuman kelihatanya. Atau bisa karena diulur oleh Alloh swt untuk diberikan
kesempatan bertaubat. Jika ada pengeluran itu adalah anugrah. Namun, perlu hati
–hati pada yang selalu diberi anugrah, karena biasanya dibelakang ada adzab
yang sangat pedih. Tidakah Fir’aun diberi semua yang serba lebih, tapi ujungnya
ia ditenggelamkan di laut?
Kalau kita merasakan hukuman itu langsung diberikan setiap kali berbuat
kekeliruan, berbahagilah sebab denganya, kita tidak terlena, sehingga kita akan
bisa memperbaiki tindak laku kita. dan ini adalah anugrah Alloh swt yang besar
yang patut disyukuri bukan malah mengeluh lantaran terasa kesengsaraan selalu
menimpa. Lagian, kesengsaraan itukan karena ulah kita sendiri. Yang paling
bagus menyadari dan berusaha memperbaiki diri agar “petir” itu tidak mengenai.
Dengan memahami filosofi ini, ada beberapa kebijaksanaan. Diantaranya, dengan paham itu tidak merasa
sok akrab dengan Alloh. Selalu merasa hamba yang banyak dosa, dengan demikian tidak sembrono melakukan
kesalahan lagi dan lagi. akrab itu bagus, lah sok akrab, ngeneki!
Musibah yang menimpa sejatinya untuk menyadarkan manusia agar jangan
terlalu jauh dalam keterpelesetanya. Agar manusia pandai bersyukur. Biasanya
seseorang akan merasakan syukur setelah mengalami kebalikanya. Misalnya, nikmat
sehat tidak pernah dianggap nikmat sehingga tidak pernah mensyukurinya. Tapi, setelah terkena
penyakit barulah ia sadar betapa sehat adalah nikmat yang besar. Dan lebih
nikmatnya lagi, disamping sebagai pengingat, musibah menjadi ladang subur untuk
memanen pahala.
Kedzaliman terus menerus yang menarik datangnya musibah kepada kita.
dzalim pada orang lain maupun dzalim kepada diri sendiri. Terlebih –lebih
dzalim kepada Alloh swt.
Semua memang dari Alloh, tapi yang memulai kita. itulah sunatullahnya.
Tidak rezeki, tidak musibah, semua dari Allah tapi kita yang mendahuluinya.
Dalam rezeki, misalnya, Allah menunggu manusia memulai dengan berdoa dan
berusaha terlebih dahulu, baru Dia memberikan rezekinya. Jadi tidak dibenarkan
kalau ada seseorang hamba meminta banyak rezeki dengan tidak memulai kerja apa
–apa sebagai pembukanya. Bagaimana dengan sakit? Sama. Pembukaanya adalah kita.
contohnya karena tidak menyeimbangkan pola makan, maka sakit seperti kolestrol,
gula akan datang menghampirinya; seperti orang yang terkena Aids adalah karena
tidak tekontrolnya sahwat. Jadi sangat
tepat kalau apa pun yang menimpa itu berawal dari kita. karenanya, lebih
mengena jika musibah yang menghampiri itu dirasakan sebagai hukuman, sehingga
ada inisiatif untuk perbaikan.
Menyadari semua milik Alloh termasuk hidup-mati kita juga memberikan energi lebih yang bisa
membantu untuk lebih nerimo terhadap apa pun yang terjadi ; lebih “sopan” berpersangka kepadaNya. dalam
keterangan lain, semuanya, termasuk hidup –mati adalah uji coba untuk menyaring
siapa –siapa yang baik. Kalau demikian, dengan lebih merasa banyak kesalahan
–sehingga merasa apa –apa yang menimpa adalah hukuman, akan lebih nyambung
dalam menghantarkan diri sebagai yang masuk dalam golongan baik.
Sekalipun hukuman, tetap saja itu kebaikan. Karena tujuanya adalah
terciptanya kesadaran yang denganya manusia mendapati kebahagian. Kebahagiaan
sebagai manusia yang bisa nurut sesuai asal penciptaanya, kebahagian
mendapatkan balasan di akhirat.
Lalu, dengan melihat ayat di atas tentang tujuan dihidupkanya kembali
setelah terkena petir itu guna bersyukur, bisa diambil pemahaman untuk tidak
terkena “petir’” yah harus selalu bersyukur. Jangan menunggu ada petir terlebih
dahulu baru bersyukur. Agaknya pijakan ini yang digunakan oleh orang –orang tua
dulu. Sehingga mereka mampu menciptakan budaya yang kental dengan nuansa
bersyukur. Itu bisa dilihat dengan banyaknya among –among ; seringnya
kita mendengar ungkapan “alhamdulilah, Cuma terkilir. Padahal dilihat jatuhnya
ukuranya patah” dan ungkapan –ungkapan yang senada denganya. Itu semua cerminan
syukur.
Orang yang pandai bersyukur akan mendapati dirinya selalu bahagia.
Namun sayang kebahagian sering dikuntet-kan hanya kepada duit banyak. Padahal
kenyataanya duit banyak tidak selamanya membuat bahagia. Dimana letak bahagia
orang bersyukur? Lihatlah orang yang
selalu bersyukur selalu bisa menikmati keidupan dengan senyum, dengan ringan.
Jauh sekali resah dan hawatir dari kehidupan mereka. Tidak sedikit orang kaya
yang merindukan kehidupan seperti orang yang sederhana dengan syukurnya. Dengan
bersyukur, seseorang akan menikmati dan mengambil selalu sisi baik terhadap
apapun. Misalnya, makan singkong itu terasa nikmat kalau tidak menghayal keju.
Karena keinginan lah manusia tidak bisa menikmati apa yang ada. Dan yang begitu
hanya bersyukur jalan keluarnya. Yang lebih extrim efeknya, bersyukur membuat
seseorang sehat. Mungkin inilah janji bertambahnya nikmat bagi orang yang
mensyukuri rezeki. Dari segi mana bersyukur itu ada kaitanya dengan kesehatan?
Dari ketentraman hati. Itulah kaitanya. Sudah menjadi pengetahuan umum dalam
dunia kesehatan bahwa banyaknya masalah yang mengakibatkan kacaunya pemikiran
dan terlalu resahnya hati bisa
mengakibatkan munculnya berbagai penyakit. Sebut saja orang yang terkena
penyakit gula, darah tinggi, maka baginya harus menjauhi banyak berpikir, kalau
kepingin penyakitnya tidak kambuh. Dan semacam itu tidak bisa terlaksana
kecuali dengan banyak bersyukur.
Wallahu’alam
bishawab.
0 komentar:
Posting Komentar