Oleh: Saifudin
zainuri
( Ketua Mui Kec.
Silau Kahean dan Pengasuh Ponpes bah sarimah )
Agama
islam merupakan penyempurna bagi agama – agama sebelumnya. Karenanya, biasa
juga islam disebut dengan milah Ibrahim.
Artinya agama islam mencakup syariat – syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.
Misalnya : haji, khitan, qurban. Husus dalam qurban, syariat ini, berdasarkan
kejadian yang dialami Nabi Ibrahim dengan putranya, Nabi Ismail. Kejadian ini
diabadikan di dalam al-Qur’an.
“ Maka tatkala
anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". QS. 37: 102
Dalam
syariat qurban ini, sedikitnya ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama
: syariat Nabi Agung kita menggunakan syariat dari Nabi Ibrahim ( milah
Ibrahim ). Hikmah yang terdapat dalam syariat ini adalah mengajari kita
untuk tidak lupa akan sejarah. Sejarah dalam kehidupan manusia tidak bisa
dipandang sebelah mata kedudukanya. Pentingnya sejarah diperkuat dengan
banyaknya al-Quran menceritakan sejarah umat – umat lalu. Pemaparan sejarah
oleh al-Qur’an bukan tanpa maksud. Mengingat segala yang ada dalam al-Qur’an
adalah mu’jizat, maka termasuk di dalamnya penceritaan sejarah. Yang paling
terlihat adalah agar kita bisa mengambil hikmah umat – umat yang terdahulu.
Agar bisa menjadikan iktibar untuk menjadi pedoman dalam menghadapi kehidupan.
Bagaimana Allah swt meng-adzab umat yang terdahulu karena mereka banyak
melakukan maksiat. Bagaiaman Allah meninggikan drajat orang – orang yang
mengikuti aturan – aturan-Nya.
Husus
sejarah pada Nabi Ibrahim, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau
berhasil menjadikan generasi penerusnya menjadi generasi para nabi ( termasuk
Nabi Muhammad saw. )
Nabi
Ibrahim lebih mendahulukan yang di-inginkan oleh Allah ketimbang mendahulukan
apa yang menjadi keinginan dirinya. Sekian lama beliau menunggu lahirnya anak
dalam keluarganya. Setelah mempunyai anak, dalam keadaan anak sedang banyak
memberi tingka gemas – gemasnya, datang perintah dari Allah untuk memotong
anaknya, dan Nabi Ibrahim lebih memilih mengambil perintah Allah. Inilah benang
merah yang penting untuk ditarik guna menjadi pedoman. Sekarang banyak dari
kita yang memilih keinginaan diri dan
menomorduakan perintah Allah. Dan biasanya, gara – gara anak orang tua akan melakukan
apa saja walau melanggar syariat sekalipun. Padahal saat seseorang lebih
memilih Allah swt, disitu Allah mengetahui dan akan menjadi penolong baginya
dan anak keturunanya. Masalah ini sudah jauh dari pantaun umat. Kita ‘terlalu
sombong’ menganggap bahwa bisa menjadikan anak – anak kita anak yang baik
berbekal dengan pengetahuan yang kita dapati. Tidak sedikitpun – terkadang –
terlintas bahwa Allah campur tangan dalam masalah pendidikan anak. Memang
benar, ilmu yang kita punya bisa membantu. Tetapi itu hanya diantaranya, bukan
penyebab utama. Jika seseorang merasa mampu menjalani kehidupan dengan sendiri,
maka Allah akan menyerahkan semuanya kepadanya. Sampai sebatas mana sih
kemampuan kita dalam membendung waswasilkhonas?
‘Iitsar
fiddunyaa mathlubun’ begitulah kaidah fiqih mengajari kita. Mendahulukan
kepentingan orang lain, termasuk kepentingan Allah, itu dianjurkan. Kekuatan
mendahulukan kepentingan orang lain sangatlah besar manfaatnya dalam kehidupan
ini. Dan ternyata, manfaatnya tidak hanya untuk orang lain, melainkan merembet untuk kebaikan si pelakunya. Sampai
ke generasinya. Syeh Sadiduddin Asyirazi berkata, “berkata syeh kami,” ‘barang
siapa yang mengendaki anaknya ‘alim, maka hendaknya orang tersebut memperhatikan,
memulyakan, mengagungkan, dan memberi sesuatu kepada ulama fiqih yang hijrah.
Dan jika anaknya tidak alim, maka keterunanya yang alim.’ ( lihat Ta’lim muta’alim Syeh Ibrahim bin
Ismail. Soh. 17 )
Mendahulukan
kepentingan Allah berarti menyerahkan segalanya kepada-Nya. Jika sudah
demikian, Allah swt akan membantu semua urusan yang dihadapinya termasuk urusan
pendidikan anak – anaknya. Ingat dengan Nabi Ibrahim memilih melaksanakan
perintah menyembelih anaknya, Allah menggantinya dengan kambing dan menjadikan
keturunanya pemimpin – pemimpin orang shaleh termasuk Nabi agung kita, Nabi
Muhammad saw.
Kedua:
Nabi Ibrahim AS meminta pendapat Nabi Ismail AS. Seharusnya para orang tua
tidak usah segan meminta pendapat anak – anak kalau dirasa perlu seperti yang
dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Meminta pendapat kepada anak akan melahirkan
dampak positif bagi perkembangan psikolognya. Disinilah timbul ‘merasa dibutuhkan’ sehingga akan
membuat anak berusaha merealisasikanya. Sehingga sangat lah wajar apabila kita
menemukan anak – anak yang berpikir dewasa dan selalu cenderung positif didalam
keluarga yang harmonis. Kebalikanya, jangan heran mendapati anak – anak yang
cenderung melihatkan sikap negatif dalam keluarga yang tidak harmonis.
Secara
pemikirian (IQ) mungkin Nabi Ismail, saat dimintai pendapat belumlah cukup. Namun secara hati (EQ) belum tentu
demikian. Kecerdasaan hati yang dimiliki oleh Nabi ismail, dengan melihat
tegasnya beliau memberi jawaban, kuat dugaan karena dimintai pendapat oleh
ayahnya. Mungkin akan lain ceritanya
apabila Nabi Ibrahim langsung melaksanakan perintah dengan tanpa bermusyawarah
terlebih dulu.
Namun
sungguh sangat disayangkan banyak dari kita yang tidak menangkap pelajaran dari
sejarah masa lalu. Orang tua seringkali menganggap sepele anaknya. Jarang
sekali orang tua yang melibatkan anak – anaknya ikut bermusyawarah, mereka
lebih memilih memfonis salah terhadap
anaknya apabila anaknya melakukan kekeliruan. Tidak mempedulikan dampak
dari fonisnya. Memang diam si anak saat
dijatuhi fonis, tetapi apa ia hatinya juga diam? Sekali –duakali fonis
itu’manjur’ untuk menghakimi. Ketiga kalinya anak akan berontak dengan
bahasanya sendiri. ‘pelajaran’ yang didapat dari orang tuanya akan diadopsinya
dan diterapkan kepada sekelilingnya.
Mel
Levine, M.D dalam bukunya A Mind at a time yang diterjemahkan dalam
fersi Indonesia, “Menemukan bakat istimewa anak”, mengatakan bahwa
kondisi sosial-ekonomi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Dia
mencotohkan seorang anak yang oleh orangtuanya selalu diajak berdiskusi tentang
beberapa hal. Prestasi belajar anak tersebut sangat cemerlang dan ia selalu
haus akan pengetahuan baru.
Ketiga
: “Insyaalah engkau akan menemukan
saya dari golongan orang – orang sabar” begitulah yang dikatakan Nabi
Ismail. Kenakalan remaja baik tawuran, bolos sekolah, maupun yang lainya adalah
satu penyebabnya: tidak sabar.
Pendidikan
kesabaran disekolah pada saat sekarang ini bagaikan bidadari, sulit mencarinya.
Yang diujian nasionalkan contohnya, semuanya berbaziz pada IQ. Anak yang sabar
dengan IQ rendah bisa dipastikan tidak lulus. Kan aneh, yah? Setali tiga uang.
Dikehidupan rumah tangga hampir kebanyakan orang tua akan selalu mengikuti
kehendak anaknya. Sampai – sampai ada orang tua yang menjual apa saja karena
anaknya meminta sepeda motor. Permintaan anak bukan muncul saat sekarang saja.
Sejak dulu juga ada. Perbedaan dalam menyikapi permintaan saja yang menjadi
ukuran. Jika dulu orang tua menyadarkan anak dengan meminta untuk bersabar,
untuk berusaha memahami dan mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Lingkungan
juga membantu orang tua menanam sifat sabar seperti di sekolah – sekolah , di
tempat – tempat pengajian, di kehidupan bertetangga. Coba sekarang, langka!
Orang tua jelas berat berjuang sendiri mematri sifat sabar dalam diri anaknya.
Seluruhnya berlomba untuk meng-instan-kan masalah. ‘alon – alon asal
kelakon’ yang simbol kesabaran sudah terbang ke surga.
Penutup
Kenakalan remaja bisa diminimalkan
dengan memakai semangat qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Orang tua
harus berani ber-‘qurban’ menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan anaknya.
Berani mengorbankan kepentingan dirinya untuk memilih mendahulukan kepentingan
Yang Maha Kuasa. Sedini mungkin anak diajari sifat sabar. Mengalahkan rasa
‘kasihan’ kalau anak tidak dituruti keinginanya. Anak perlu belajar sabar terhadap keadaan dengan cara
orang tua tidak menuruti segala keinginanya.
Dan pemerintah tidak ada salahnya meninjau kembali pendidikan pada saat
ini. Bila perlu pendidikan kesabaran
diikutkan ujian nasional. Memang ketiga unsur yakni, berkurbanya orang tua, dan
pendidikan kesabaran anak, turut memperhatikanya pemerintah tidak lantas bisa
menyulap anak remaja menjadi baik seketika. Semua maklum bahwa sekarang
terdapat ribuan faktor yang mempengaruhi remaja. Namun, setidaknya ada langkah
konkrit berdasarkan nilai – nilai syariat yang jelas datang dari Dzat yang maha
tahu. Wallahu ;alam bishawab.
0 komentar:
Posting Komentar