Sabtu, 23 Januari 2016

Ternyata semua bid `ah tidak sesat



    
Bid’ah menurut bahasa adalah: mengadakan sesuatu dengan tanpa contoh; pembaharuan. Sedangkan menurut syara adalah : suatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rosul. Ini menurut Syeh Izzudin.
Pokok permasalahan bid’ah ini sebenarnya dari perbedaanya memaknai, mengartikan hadis riwayat Nasai berikut:
 “sejelek –jeleknya sesuatu adalah pembaharuan. Setiap pembaharuan adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat dan setiap sesat itu dalam neraka.”
Oleh orang yang selalu membid’ah –bid’ahkan, lafadz “kullun” diartikan dengan semua, seluruh. Sedangkan menurut kami, paham syafiiyah, “kullun” itu tidak semua bermakna seluruh, tapi ada juga yang bermakna sebagian. Dalam ilmu mantiq lafadz “kullun” itu ada yang juziyyah ( sebagian ), ada yang kuliyyah (keseluruhan).
Untuk lebih jelas dalam memahami bahwa kullun tidak semua bermakna seluruh, mari lihat dalil –dalil pendukungnya.
1.      QS. Kahfi : 79
" Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”
Kata “tiap-tiap” dalam ayat ini tidak bermakna seluruh perahu. Karena jika dimaknai seluruh perahu dirampas apa arti melubanginya Nabi Khidir terhadap perahunya nelayan miskin. Nabi Khidir melubangi perahu nelayan miskin tersebut agar perahunya tidak dirampas oleh raja yang dolim. Jadi, raja itu merampas perahu yang bagus –bagus saja. Perahu yang rusak di tinggalkanya.
2.      QS. Al-Ahkof : 25
 . yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.
Kata “setiap sesuatu” pada ayat ini tidak berarti seluruh sesuatu. Karena gunung, langit bumi tidak hancur. Bahkan lebih jelas lagi dengan diikuti kecuali masakinukum, tempat –tempat kalian. Artinya, ayat ini menegaskan bahwa kullun tidak semuanya berarti seluruh. Contoh yang dekat dengan kita adalah, “ tsunami di aceh telah menghancurkan semuanya”.  Kata semua itu tidak berarti semuanya sebab masih banyak yang tidak hancur seperti masjid baiturahman, masjid kecil di pinggir pantai. Sudahlah kami cukupkan disini saja dalil –dalil pendukungnya. Dari dalil ini, para ulama tidak menghukumi semua bid’ah itu sesat. Pemahaman ini harus dilakukan, sebab islam itu rohmatan lil alamin. Bagaimana bisa rohmatan lilalamin kalau semua kerjaan harus disesuaikan dengan yang pernah ada pada zaman rosul. Zaman sekarang dengan zaman dahulu jelas berbeda. Kalau dipaksakan semua harus mengikuti zaman dahulu yang ada hanya pembonsaian islam. Pembaharuan cara tidak bisa dielakan. Itu harus ada. Sebagai misal, kalau ada umat islam yang berdomisili di sekitar kutub utara, yang kadang matahari tidak tenggelam dalam beberapa bulan, apa yang harus dilakukan dalam hal urusan sholatnya? Berhubung sholat dalam islam itu dihubungkan dengan pergerakan matahari, apa dengan matahari tidak tenggalam, seseorang lantas tidak sholat? Jelas membutuhkan pembaharuan, kan?
Kami sodorkan beberapa sahabat yang melakukan bid’ah. Sahabat umar melakukan bid’ah dengan membuat tarawih berjamaah; sahabat Utsman membuat bidah dengan mengkodifikasikan quran, memberi titik –titik, baris, tasdid  pada qur’an. kalau semua bid’ah sesat, maka harus berani mengatakan orang yang membaca al-qur’an dengan segala harakat, tasdid, dan tanda baca lainya, layaknya qur’an yang kita punyai sekarang itu pelaku bid’ah. Asal tahu saja qur’an zaman rosululloh itu kosong tidak ada apa –apanya. Alhamdulilah saya mempunyai salinan tulisan Rosululoh saw saat beliau menyurati raja abasi. Tulisanya memang kosong sama sekali dari tanda titik apapun.
Bid’ah ini menurut para ulama terbagi kedalam lima hukum syariat, yakni bid’ah haram, makruh, wajib, sunah dan bid’ah mubah. Mungkin ada sebagian orang yang  dalam hati timbul kebingungan, bid’ah kok wajib. Jangan tidak terima duluan lalu membuang ini di paret. Bid’ah yang wajib itu seperti membukukan quran karena takut punah ; mengarang dan membukukan kitab tafsir agar generasi sesudahnya tidak salah dalam memahami al-qur’an; mempelajari ilmu nahu, sorof dan balagoh. Coba saja kalau bid’ah di ponis sesat semuanya, kira –kira orang Indonesia bisa tidak membaca al-qur’an, tidak, kan? Kalau semua bid’ah itu sesat pasti tidak ada ulama yang berani menulis kitab tafsir, mengarang kitab nahu. Kalau sudah demikian, kita generasi belakangan apa bisa mengartikan quran dengan benar?  Akan  seperti apa hukum yang didapat oleh kita –kita orang awam ini. Mengerikan!
Perhatikan juga hadis berikut!
Barang siapa menciptakan gagasan kebagusan dalam islam, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya...”HR. Muslim.
Apalagi yang melandasi mereka yang tidak menerima pembaharuan yang baik. Apa mau menakwili lafadz “sannatan” dengan sunah rosul?  Kalau ia, maka harus berani mengatakan ada sunah rosul yang sayyiah, jelek. Sebab lafadz “sanatan” disifati dengan “hasanatan.” Dan kita tahu sifat  itu berfungsi  menghusukan. Jadi, sebelum dihususkan  kata sanatan itu mencakup keumuman, baik tindak laku bagus, maupun tindak laku jelek semuanya terkandung di dalamnya. Singkatnya, hadis Nabi tersebut jelas mengajari kita untuk menciptakan kebagusan, menciptakan pembaharuan yang positif. Contoh jika ada ulama menciptakan pembaharuan dengan merumuskan sholatnya orang muslim yang ada di daerah pada garis green land,  misalnya Denmark itu disamakan dengan daerah tropis yang paling dekat dengannya, tidak ada salahnya untuk diapresiasi, bukan di bid’ah-bid’ah sesatkan. Benar bukan buatan, jika semua di bid’ah- bid’ahkan tanpa ada penyaringan, maka berarti mempoklamirkan pembonsain islam. Islam itu tinggi tidak ada yang lebih tinggi darinya, namun janganlah yang tinggi itu di-kuntetkan demi “menghiasi” halaman rumah nafsu dirinya.
Ini saya tuliskan pendapat ulama tentang bid’ah:
1.      Bid’ah haram: mempercayai ada Nabi setelah Nabi Muhammad seperti keyakinan orang Ahmadiya qodian yang mengatakan Mirza Gulam Ahmad seoarang Nabi; mempercayai bahwa Tuhan seperti manusia, sama –sama mempunyai tangan seperti yang di fatwakan oleh Ibnu Taimiyyah.
2.      Bid’ah Makruh : menghiasi Masjid dengan tulisan kaligrafi; sholat sunah berjamaah; menetapkan hari –hari khusus untuk berdikir.
3.      Bid’ah Wajib: membukukan qur’an seperti yang dilakukan oleh Sahabat Utsman dan sahabat lainya; mengarang dan membukukan kitab –kitab fiqih.
4.      Bid’ah Sunah: sholat tarawih 20 rokaat dengan berjamaah; membangun pondok pesantren; bangun saat mendengar cerita Nabi Muhammad saw.
5.      Bid’ah Mubah: menaiki mobil, membuat bermacam –macam makanan lezat, naik haji dengan naik pesawat.
Bagi Kawan yang mungkin sudah mendengar atau mengikuti pengajian “kaum muda” yang berlokomotifkan pada Imam Syatibi, Rasyid Rido, Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyyah ada baiknya mengajak berdiskusi terlebih dahulu dengan para Kiai, Buya sebelum mengungkapkan isi kajiannnya kepada masyarakat awam. Kalau kita punya semangat persaudaraan kuat, niscaya kekondusipan akan terlaksana, toleransi akan subur. Setelah berdiskusi, kita akan melek terhadap betapa kuatnya dalil yang dijadikan landasan ibadah oleh orang –orang dahulu.
Akhirul kalam ihdinashirotol mustaqim wassalam.

Petir dalam Kehidupan Kita



Oleh : Saifudin Zainuri
(Ketua MUI KEC. Silau Kahean Pengasuh Pones bah Sarimah)
“Dan ketika kamu berkata kepada Musa, tidak bakalan kami percaya kepadamu sampai kami melihat Tuhanmu dengan jelas. Kemudian kalian tersambar petir dan kalian melihat. Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah matinya kalian supaya kalian bersyukur.”QS 2:

Kawan, berapa kali kita meneliti apa –apa kejiadian yang menimpa kita? Lalu berpikirkah kita bahwa apa –apa yang menimpa kita adalah karena ulah kita?
Alkisah. Seorang ulama berangkat sholat jumat dengan tidak melaksanakan sunah mandi jum,at terlebih dahulu. Di tengah perjalanan putus sandalnya. Beliau tidak berhenti mengucapkan istigfar. Sambil terus istigfar ia mengakui kedzaliman yang ia buat: tidak mandi, sehingga rusak sandalnya.
Bagi kita, orang awam mungkin tidak akan beerpikir bahwa putusnya sandal disebabkan oleh kesalahan tidak mengikuti perintah mandi sebelum jum’at. Memang dalam ayat “Janganlah kamu merusak bumi” ,  perusakan bumi ditafsiri oleh para ulama dengan sebab maksiat. Memang, kalau kita mau meneliti lebih dalam sedikit terhadap lingkungan kita, maka kita akan menemukan bahwa kampung –kampung yang terlihat banyak kemaksiatanya, kita temukan  rusak jalanya. Jika siratan demikian dimengerti oleh kita, baik masyarakatnya, maupun pemimpinya, maka akan mudah mencari solusinya. Contohnya ada gang yang  becek dalam satu kampung, hancur jalanya misalnya, maka kepala desa tinggal mencari tahu masyarakat sekitar itu dan pasti akan menemukan beberapa  daari mereka yang menyalahi aturan.
Keterpurukan yang menimpa kita, baik ekonomi, keluarga, karir, masalah, semua   itu “petir” yang bertujuan untuk mengingatkan kita. begitulah yang diinformasikan oleh al-qur’an. Dalam menyikapi itu, sedikit kurang pas kalau menganggap itu sebuah ujian, kalau “petir” itu mengenai kita. tapi, jika mengenai orang lain, baru pas berkata itu adalah ujian. Begitulah yang diajarkan oleh para ulama dalam menyikapi apa –apa yang menimpa.
Kalau masalah yang sama terus menimpa, berarti kesalahan yang sama terulang juga. Belum lulus –lulus, itu singkatnya. Kalau terlihat pada seseorang yang selalu maksiat kenikmatan, kesenangan, kebahagian itu semata cuman kelihatanya. Atau bisa karena diulur oleh Alloh swt untuk diberikan kesempatan bertaubat. Jika ada pengeluran itu adalah anugrah. Namun, perlu hati –hati pada yang selalu diberi anugrah, karena biasanya dibelakang ada adzab yang sangat pedih. Tidakah Fir’aun diberi semua yang serba lebih, tapi ujungnya ia ditenggelamkan di laut?
Kalau kita merasakan hukuman itu langsung diberikan setiap kali berbuat kekeliruan, berbahagilah sebab denganya, kita tidak terlena, sehingga kita akan bisa memperbaiki tindak laku kita. dan ini adalah anugrah Alloh swt yang besar yang patut disyukuri bukan malah mengeluh lantaran terasa kesengsaraan selalu menimpa. Lagian, kesengsaraan itukan karena ulah kita sendiri. Yang paling bagus menyadari dan berusaha memperbaiki diri agar “petir” itu tidak mengenai. Dengan memahami filosofi ini, ada beberapa kebijaksanaan.  Diantaranya, dengan paham itu tidak merasa sok akrab dengan Alloh. Selalu merasa hamba yang banyak dosa,  dengan demikian tidak sembrono melakukan kesalahan lagi dan lagi. akrab itu bagus, lah sok akrab, ngeneki!
Musibah yang menimpa sejatinya untuk menyadarkan manusia agar jangan terlalu jauh dalam keterpelesetanya. Agar manusia pandai bersyukur. Biasanya seseorang akan merasakan syukur setelah mengalami kebalikanya. Misalnya, nikmat sehat tidak pernah dianggap nikmat sehingga tidak  pernah mensyukurinya. Tapi, setelah terkena penyakit barulah ia sadar betapa sehat adalah nikmat yang besar. Dan lebih nikmatnya lagi, disamping sebagai pengingat, musibah menjadi ladang subur untuk memanen pahala.
Kedzaliman terus menerus yang menarik datangnya musibah kepada kita. dzalim pada orang lain maupun dzalim kepada diri sendiri. Terlebih –lebih dzalim kepada Alloh swt.
Semua memang dari Alloh, tapi yang memulai kita. itulah sunatullahnya. Tidak rezeki, tidak musibah, semua dari Allah tapi kita yang mendahuluinya. Dalam rezeki, misalnya, Allah menunggu manusia memulai dengan berdoa dan berusaha terlebih dahulu, baru Dia memberikan rezekinya. Jadi tidak dibenarkan kalau ada seseorang hamba meminta banyak rezeki dengan tidak memulai kerja apa –apa sebagai pembukanya. Bagaimana dengan sakit? Sama. Pembukaanya adalah kita. contohnya karena tidak menyeimbangkan pola makan, maka sakit seperti kolestrol, gula akan datang menghampirinya; seperti orang yang terkena Aids adalah karena tidak tekontrolnya sahwat.  Jadi sangat tepat kalau apa pun yang menimpa itu berawal dari kita. karenanya, lebih mengena jika musibah yang menghampiri itu dirasakan sebagai hukuman, sehingga ada inisiatif untuk perbaikan.
Menyadari semua milik Alloh termasuk hidup-mati kita  juga memberikan energi lebih yang bisa membantu untuk lebih nerimo terhadap apa pun yang terjadi ;  lebih “sopan” berpersangka kepadaNya. dalam keterangan lain, semuanya, termasuk hidup –mati adalah uji coba untuk menyaring siapa –siapa yang baik. Kalau demikian, dengan lebih merasa banyak kesalahan –sehingga merasa apa –apa yang menimpa adalah hukuman, akan lebih nyambung dalam menghantarkan diri sebagai yang masuk dalam golongan baik.
Sekalipun hukuman, tetap saja itu kebaikan. Karena tujuanya adalah terciptanya kesadaran yang denganya manusia mendapati kebahagian. Kebahagiaan sebagai manusia yang bisa nurut sesuai asal penciptaanya, kebahagian mendapatkan balasan di akhirat.
Lalu, dengan melihat ayat di atas tentang tujuan dihidupkanya kembali setelah terkena petir itu guna bersyukur, bisa diambil pemahaman untuk tidak terkena “petir’” yah harus selalu bersyukur. Jangan menunggu ada petir terlebih dahulu baru bersyukur. Agaknya pijakan ini yang digunakan oleh orang –orang tua dulu. Sehingga mereka mampu menciptakan budaya yang kental dengan nuansa bersyukur. Itu bisa dilihat dengan banyaknya among –among ; seringnya kita mendengar ungkapan “alhamdulilah, Cuma terkilir. Padahal dilihat jatuhnya ukuranya patah” dan ungkapan –ungkapan yang senada denganya. Itu semua cerminan syukur.
Orang yang pandai bersyukur akan mendapati dirinya selalu bahagia. Namun sayang kebahagian sering dikuntet-kan hanya kepada duit banyak. Padahal kenyataanya duit banyak tidak selamanya membuat bahagia. Dimana letak bahagia orang bersyukur? Lihatlah orang  yang selalu bersyukur selalu bisa menikmati keidupan dengan senyum, dengan ringan. Jauh sekali resah dan hawatir dari kehidupan mereka. Tidak sedikit orang kaya yang merindukan kehidupan seperti orang yang sederhana dengan syukurnya. Dengan bersyukur, seseorang akan menikmati dan mengambil selalu sisi baik terhadap apapun. Misalnya, makan singkong itu terasa nikmat kalau tidak menghayal keju. Karena keinginan lah manusia tidak bisa menikmati apa yang ada. Dan yang begitu hanya bersyukur jalan keluarnya. Yang lebih extrim efeknya, bersyukur membuat seseorang sehat. Mungkin inilah janji bertambahnya nikmat bagi orang yang mensyukuri rezeki. Dari segi mana bersyukur itu ada kaitanya dengan kesehatan? Dari ketentraman hati. Itulah kaitanya. Sudah menjadi pengetahuan umum dalam dunia kesehatan bahwa banyaknya masalah yang mengakibatkan kacaunya pemikiran dan terlalu resahnya hati  bisa mengakibatkan munculnya berbagai penyakit. Sebut saja orang yang terkena penyakit gula, darah tinggi, maka baginya harus menjauhi banyak berpikir, kalau kepingin penyakitnya tidak kambuh. Dan semacam itu tidak bisa terlaksana kecuali dengan banyak bersyukur.
Wallahu’alam bishawab.

Jumat, 17 Mei 2013

Prasangka , Gosip Dan Kemunduran



Oleh : Saifudin Zain
(Ketua MUI  Kec. S. Kahean dan Pengasuh Pon Pes Al- Ittihadiyah Bah Sarimah S. Kahean)

´ … Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…” Q.S. Al- Hujaarat : 12

            Umat Islam belakangan ini sibuk dengan perasaan curiga terhadap sesama terlebih lagi bagi    orang awam dan orang yang puas dengan pengetahuan yang  dimilikinya. Dan   diperparah dengan sajian berita yang menyeret untuk selalu senang mencari – cari kelemahan seseorang baik media cetak maupun elektronik. Kecurigaan jika tidak dihentikan, maka akan mengajak untuk mencari – cari kesalahan dan pada ujungnya akan menggunjing, menceritakan aib saudaranya sendiri.
Ada tiga mutlaqunnahi ( larangan mutlak ) yang tersusun dalam ayat tersebut di atas. Pertama : jauhilah kebanyakan persangkaan. Kedua :  janganlah mencari – cari keburukan dan ketiga: janganlah menggunjing. Dalam kaidah ushul dilalah mutlaqunnahi adalah haram. Keharaman itu sangatlah wajar sebab memang banyak madhorot yang ditimbulkan oleh ketiganya baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

Madhorot Kecurigaan
            “ Takutlah kamu pada dzon ( prasangka ),  sungguh dzon itu paling dustanya perkataan…”H.R. Muslim
Kecurigaan akan menghantar seseorang untuk mengisi hari – harinya  dengan ketidak  - tenangan. Hari – harinya digunakan untuk selalu menerka orang lain yang pada ahirnya tidak bisa beraktifitas positif yang bermanfaat baginya. Dari kecurigaan, sifat sifat buruk lainya akan tumbuh berkembang dalam diri seseorang.  Kecurigaan laksana tanah subur untuk benih – benih keburukan lain seperti mencari – cari kesalahan ( tajassus ). Kalau sudah sampai ke tangga senang mencari kejelekan orang lain, seseorang akan melihat dirinya penuh sesak dengan kebaikan – kebaikan. Orang lain dilihat salah semua, yang benar hanyalah apa yang dilakukanya. Lebih parah lagi, jika sifat ini tidak berusaha dibuang, akan mempunyai  perasaan  tidak senang terhadap kesenangan orang lain.
Mereka – reka sangat tidak bermanfaat bagi manusia. Biasanya orang yang senang mereka – reka akan terjebak dalam masalah – masalah yang remeh ; akan membesar - besarkan masalah yang sepele dan terakhirnya tidak segan – segan membicarakan aib yang ada pada orang lain terhusus terhadap orang yang tidak disenangi.
Dalam agama, jangankan menggunjing, berlebihan berbicara yang tidak bermanfaat adalah tidak dibolehkan,  sampai – sampai bertanya pun dibatasi terhadap apa – apa yang bermanfaat. “ Hai orang yang beriman janganlah kamu menanyakan hal -  hal yang jika diterangkan kepadamu, maka ( hal itu ) akan menyusahkanmu” Q.S. Al –Maidah : 101.
Bahaya menggunjing tidak hanya untuk si pelaku ; ia akan kehilangan seluruh amal kebaikan yang terkumpul dan bertambah timbangan kejelekan karena berpindahnya seluruh kejelekan orang yang di gunjingkan, tetapi untuk orang yang digunjing, juga untuk perkembangan umat manusia. Kerugian ghibah untuk orang lain adalah ia akan terbatas langkahnya karena aib yang tesebar, terlebih – lebih bila yang di gunjing adalah tokoh. Seorang tokoh itu jangankan kesalahan yang terlihat, yang belum tentu kesalahan juga akan menjadi kesalahan baginya ; kewajaran untuk orang biasa bisa tidak wajar baginya.
Kerugian paling besar disebabkan prasangka yang diiringi ghibah adalah kemunduran umat. Bagaimana tidak mundur, kalau semua sibuk dengan masalah – masalah kecil. Dimatanya suatu kecil menjadi masalah besar, padahal orang – orang yang besar itu mengecilkan masalah besar. Bukankah sudah sunatullah bahwa orang mau besar harus melalui banjir masalah – masalah besar? Lalu, kalau semua sibuk terhadap masalah kecil, apakah akan sanggup menghadapi permasalahan besar yang menjadi syarat menjadi besar? Allah swt tidak akan memberikan derajat agung terhadap orang yang bermental kecil, karena itu namanya mendzolimi. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Q.S. 2 : 286

Penutup
            Untuk tidak terjebak dalam prasangka berlebihan yang membuahkan ghibah, ada beberapa langkah yang ditempuh. Pertama : memikirkan rentetan kerugian prasanka.  Pikirkan juga kerugian banyak berbicara . “Lebih baik menahan ucapan daripada menjadi tahananya”. “ Diam itu emas, berbicaralah saat menjadi berlian “. Kedua  : menyibukan diri dengan berbagai aktifitas seperti olahraga ; bersilaturahmi dengan orang – orang yang bisa menumbuhkan semangat  perubahan dalam hati ; memikirkan sudah seperberapakah langkah diri mengemban amanatNya sebagai pemimpin ; memperbanyak berkawan dengan buku. “ Anda akan mengetahui bahwa sebulan bergaul dengan buku akan lebih baik daripada bergaul dengan orang seumur hidup. “ Begitu kata Syaikh Aidh al-Qarni. Wallahu a’lam bishawab.

SERTIFIKASI KIAI, PERLUKAH?



OLEH : Saifuddin Zainiuri

( Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Pengasuh Pondok Pesantren Al- Ittihadiyah Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun )

Serangkaian teror bom yang terjadi di  negeri ini, memuncukan  wacana sertifikasi kiai. Jujur, pertama kali mendengar dari media elektronik, saya merasa bingung dan secara spontanitas muncul beberapa pertanyaan dalam benak. Apa hubunganya bom dengan kiai? Duluan siapa antara kiai dengan bom di negeri ini? Bukankah ‘cap’ kiai itu dari masyarakat? Kalau kiai disertifikasi, bukankah akan banyak kiai ‘tergantung’ di dinding dengan bingkai seperti ijazah yang dimiliki oleh anak sekaolah? apa sebutanya sesuatu yang menyematkan ke-kiai-an pada kiai?
“ Akan datang suatu masa dimana umatku lari dari ulama, maka Allah swt akan mencoba dengan tiga cobaan. Pertama: Allah mengangkat berkah dari usahanya. Kedua : Allah mengangkat kepadanya pemimpin yang dzalim. Ketiga :  keluar dari dunia dengan tanpa iman.” Al-Hadits

Wacana sertifikasi kiai semoga bukan indikasi menjauhnya umat dari ulama. Mengherankan memang, disaat keadaan umat butuh ulama, dengan semakin merebaknya pelanggaran – pelanggaran syariat tidak lagi sungkan, kenapa wacana ‘aneh’ itu mencul. Wacana demikian bisa melahirkan stigma negatif. Orang tentunya ‘ngelirik-mesem’ kepada kiai. Anggapan bahwa kiai adalah penyebar idiologi teror akan semakin menjauhkan umat dari ulama. Memang ulama bukan berarti kiai, namun yang melekat selama ini dalam masyarakat asal seorang sudah disebut kiai pasti ia adalah seorang ulama ditempatnya.
Beberapa kelemahan – bisa juga disebut kesalahan – dalam sertifikasi kiai adalah sebagai berikut. Pertama:  akan menanamkan kecurigaan terhadap kiai dihati orang awam, kalau tidak disebut pembunuhan karakter. Kiai, dari saat penulis lahir hingga sekarang, adalah ikon kebagusan, kebaikan. Jika ikon kebaikan ‘dihancurkan, ’ pelan – pelan kebagusanya akan ikut sirna juga. Rentetanya begini. Kecurigaan yang timbul dihati orang awam terhadap kiai akan semakin menambah keengganan umat mendekati agama. Kalau seseorang lari menjahui agama sudah bisa dipastikan ia akan terjerumus dalam langkah – langkah salah. Manusia lebih cenderung untuk melakukan kejahatan dibanding melakukan kebaikan. Bisanya manusia melakukan kebaikan karena ada yang mensuportnya, karena ada yang mengingatkanya. Sudah mafhum bahwa para ulama yang selama ini ngotot melakukan itu. Bukan yang lainya. Apalagi mereka yang pandai bersilat lidah hanya menginginkan kedudukan di penguasa.
Agama, yang gigih disampaikan oleh para kiai, adalah pengaruh dari luar ( baca: fenotif) dalam memnjadikan seseorang berbuat baik. Memang ada seseorang yang memiliki pengaruh baik pembawaan ( baca: genotif) tapi itu jumlahnya hitungan jari. Pengaruh luar, lingkungan sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang. Dan dalam hal ini agama lah yang sangat penting berperan. Sebagai contoh: anak yang mempunyai pembawan kurang baik, lambat laun, jika ia berada dilingkungan yang selalu didalamnya disampaikan agama, seperti di Pesantren misalnya, kebaikan akan mudah ia lakukan. Tapi coba ia berjalan dengan tanpa bimbingan, sedangkan pembawaanya kurang baik. Kira – kira apa yah yang akan ia perbuat?
Kedua : menimbulkan ketersinggungan di hati  umat islam. Mungkin pencetus wacana bisa berkelit bahwa pen-sertifikasi-an bukanlah pembunuhan karakter terhadap kiai, tetapi tetap saja ketersinggungan  dihati umat tidak bisa dihindari karena, jujur saja, saat ini melekat sekali ikon kebaikan dalam diri seorang kiai. Itu tidak bisa dipungkiri. Dan memang begitu kenyataanya. ( setidaknya sampai sekarang ) Jika ketersinggungan ini dibiarkan merembet, akan terjadi buruk sangka antar umara dan ulama. Padahal dua unsur tersebut sangat dibutuhkan oleh kehidupan bermasyarakat.
Ketiga : memperlihatkan aib sendiri. Ketidakmampuan menghadapi dan memecahkan masalah terlihat jelas,  bak matahari siang bolong, dengan dimunculkan masalah tersebut. Kalau mau menagkap ikan di sungai tidak perlu menggunakan bahan peledak. Yang demikian akan memusnahkan seluruh ikan yang di dalamnya, padahal hanya satu-dua ikan yang mau ditangkap. Dari wacana itu, juga didapati cupet akal yang  berarti menegaskan ketidak-mampuan menangani masalah.
Kata orang bijak, negara besar adalah negara yang penduduknya menghargai sejarah. Apa tidak ingat sejarah para kiai dan santrinya bersatu dengan masyarakat dalam mengusir penjejah di negeri ini.

PENUTUP

Tujuan baik dalam sertifikasi pasti ada. Sunguhpun demikiang ken, akan lebih baik dalam mengambil keputusan, seoran g pemimpin memperhatikan nilai – nilai lainya. Kaidah fiqih mengajari kita untuk berbuat demikian. “ dar’ul mafaasid muqadamun ‘ala jalbil mashaalih”, mencegah kemungkaran  lebih didahulukan  ketimbang menarik kebaikan.
Tidak usahlah memaksakan sebuah kebaikan, kalau karena itu menimbulkan kerusakan – kerusakan lainya. Sertifikasi, sekali lagi, pasti mempunyai nilai positif dari sisi lain, namun tidak kalah penting memperhatikan nilai – nilai negatif yang ditimbulkan olehnya.
Pemimpin adalah pengemban amanah untuk memberi ayoman kepada yang dipimpinya. Harapan kita semua, langkah bijaksana yang diambil oleh pemimpin negeri ini agar ketenangan, kedamaian bisa tercapai. Menilik evek negatif bisa timbul dari pensertifikasian kiai, rasanya tidak perlu sertifikasi diambil sebagai langkah antisifasi terjadinya teror. Masih terhampar ratusan, bahkan ribuan, cara yang lebih bijak. Sertifikasi, menurut hemat penulis tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan dihawatirkan menimbulkan masalah baru.
Dengan panduan hadits di atas, semestinya umara membantu umat, masyarakat mendekat kepada ulama agar cobaan berat dari Allah tidak menimpa umat. Bukan malah sebaliknya, berusaha menjauhkan umat dari ulama dengan cara – cara nyeleneh.
Mencari cara  bijak adalah solusinya. Walikota solo telah menerapkan hal itu. Disaat semua penguasa memilih menggunakan ‘tangan’ kekuasaan dalam menertibkan pedagang kaki lima, beliau malah mengundang para pedagang kaki lima untuk makan bersama. Dan  itu dilakukan berulang – ulang. Hasilnya sangat mengesankan. Para pedagang kaki lima mau dipindahkan tempat daganganya dengan tanpa kerusuhan.
Alkisah. Seorang kepala keluarga berniat melaksanakan ibadah qurban satu sapi. Ia mempunyai tujuh anggota keluarga. Niat itu tidak sempat dilaksanakan sampai istrinya yang mengandung melahirkan. Sehingga jumlah keluarganya menjadi delapan. Satu hari, kepala keluarga itu sowan ke kiai A. Diutarakan maksudnya berkorban dengan satu sapi, “ Kiai, kami ada niat qurban satu sapi. Bisa kan kiai kami berqorban untuk keluarga kami yang ada tujuh dan satu anak bayi kami?”
“ oh tidak bisa, pak”, jawab kiai A. “ satu sapi hanya bisa untuk tujuh nyawa. Walaupun bayi baru lahir tetap saja ia dihitung. Karena itu,  maaf, qurban itu tidak bisa dilaksanakan.”
Kepala keluarga itu kecewa. Setelah pulang dirumah, ia mengutarakan kekecewaanya kepada isterinya dan berniat membatalkan rencana qurbanya. Isterinya menganjurkan untuk bertanya kepada kiai B. Datang ke kiai B langsung diutarakan rencana qurbanya. Dijelaskan  permasalahan anak bayinya seperti ia menjelaskan pada  kiai A.
Jawaban kiai B diluar dugaan. Dikatakanya berqurban dengan begitu masalahnya dibolehkan. “Orang cuma anak bayi,  kan bisa dibonceng.” jawab Kiai B. Kiai B hanya menambahi untuk membonceng, karena masih kecil, dibutuhkan ‘tangga’. Tangganya berupa kambing satu. Singkat cerita keluarga itu ihlas membeli kambing untuk ‘tangga’ bayinya naik ke punggung sapi. Dan qurban dilaksanakan dengan demikian orang – orang miskin merasakan daging qurban.
Terkadang orang – orang yang mempunyai kekuasaan terlalu dini dalam mengambil keputusan. Padahal kalau sejenak berpikir mencari jalan yang lebih baik, insa Allah, akan menemukanya. Dalam masalah mengantisifasi terulangnya teror bom, coba berpikir lebih jauh untuk mencari jalan yang paling baik. Bukan mecetuskan sertifikasi para ulama.
Wallahu ‘alam bishawab. Waiyyaka nasta’in.

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut