Oleh : Saifudin Zain
(Ketua MUI Kec. S. Kahean dan Pengasuh Pon Pes Al-
Ittihadiyah Bah Sarimah S. Kahean)
´ … Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka
(kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…” Q.S.
Al- Hujaarat : 12
Umat Islam
belakangan ini sibuk dengan perasaan curiga terhadap sesama terlebih lagi bagi orang awam dan orang yang puas dengan pengetahuan
yang dimilikinya. Dan diperparah dengan sajian berita yang menyeret
untuk selalu senang mencari – cari kelemahan seseorang baik media cetak maupun
elektronik. Kecurigaan jika tidak dihentikan, maka akan mengajak untuk mencari
– cari kesalahan dan pada ujungnya akan menggunjing, menceritakan aib
saudaranya sendiri.
Ada tiga mutlaqunnahi ( larangan mutlak ) yang tersusun dalam
ayat tersebut di atas. Pertama : jauhilah kebanyakan persangkaan. Kedua : janganlah mencari – cari keburukan dan
ketiga: janganlah menggunjing. Dalam kaidah ushul dilalah mutlaqunnahi
adalah haram. Keharaman itu sangatlah wajar sebab memang banyak madhorot yang
ditimbulkan oleh ketiganya baik untuk orang lain maupun diri sendiri.
Madhorot Kecurigaan
“ Takutlah kamu
pada dzon ( prasangka ), sungguh dzon
itu paling dustanya perkataan…”H.R. Muslim
Kecurigaan akan menghantar seseorang untuk mengisi hari
– harinya dengan ketidak - tenangan. Hari – harinya digunakan untuk
selalu menerka orang lain yang pada ahirnya tidak bisa beraktifitas positif
yang bermanfaat baginya. Dari kecurigaan, sifat sifat buruk lainya akan tumbuh berkembang
dalam diri seseorang. Kecurigaan laksana
tanah subur untuk benih – benih keburukan lain seperti mencari – cari kesalahan
( tajassus ). Kalau sudah sampai ke tangga senang mencari kejelekan
orang lain, seseorang akan melihat dirinya penuh sesak dengan kebaikan –
kebaikan. Orang lain dilihat salah semua, yang benar hanyalah apa yang
dilakukanya. Lebih parah lagi, jika sifat ini tidak berusaha dibuang, akan
mempunyai perasaan tidak senang terhadap kesenangan orang lain.
Mereka – reka sangat tidak bermanfaat bagi manusia. Biasanya
orang yang senang mereka – reka akan terjebak dalam masalah – masalah yang
remeh ; akan membesar - besarkan masalah yang sepele dan terakhirnya tidak
segan – segan membicarakan aib yang ada pada orang lain terhusus terhadap orang
yang tidak disenangi.
Dalam agama, jangankan menggunjing, berlebihan berbicara
yang tidak bermanfaat adalah tidak dibolehkan,
sampai – sampai bertanya pun dibatasi terhadap apa – apa yang
bermanfaat. “ Hai orang yang beriman janganlah kamu menanyakan hal - hal yang jika diterangkan kepadamu, maka (
hal itu ) akan menyusahkanmu” Q.S. Al –Maidah : 101.
Bahaya menggunjing tidak hanya untuk si pelaku ; ia akan
kehilangan seluruh amal kebaikan yang terkumpul dan bertambah timbangan
kejelekan karena berpindahnya seluruh kejelekan orang yang di gunjingkan,
tetapi untuk orang yang digunjing, juga untuk perkembangan umat manusia.
Kerugian ghibah untuk orang lain adalah ia akan terbatas langkahnya karena aib
yang tesebar, terlebih – lebih bila yang di gunjing adalah tokoh. Seorang tokoh
itu jangankan kesalahan yang terlihat, yang belum tentu kesalahan juga akan
menjadi kesalahan baginya ; kewajaran untuk orang biasa bisa tidak wajar
baginya.
Kerugian paling besar disebabkan prasangka yang diiringi
ghibah adalah kemunduran umat. Bagaimana tidak mundur, kalau semua sibuk dengan
masalah – masalah kecil. Dimatanya suatu kecil menjadi masalah besar, padahal
orang – orang yang besar itu mengecilkan masalah besar. Bukankah sudah sunatullah
bahwa orang mau besar harus melalui banjir masalah – masalah besar? Lalu, kalau
semua sibuk terhadap masalah kecil, apakah akan sanggup menghadapi permasalahan
besar yang menjadi syarat menjadi besar? Allah swt tidak akan memberikan
derajat agung terhadap orang yang bermental kecil, karena itu namanya
mendzolimi. “Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Q.S. 2 : 286
Penutup
Untuk tidak terjebak dalam prasangka berlebihan yang
membuahkan ghibah, ada beberapa langkah yang ditempuh. Pertama : memikirkan
rentetan kerugian prasanka. Pikirkan
juga kerugian banyak berbicara . “Lebih baik menahan ucapan daripada menjadi
tahananya”. “ Diam itu emas, berbicaralah saat menjadi berlian “. Kedua : menyibukan diri dengan berbagai aktifitas
seperti olahraga ; bersilaturahmi dengan orang – orang yang bisa menumbuhkan
semangat perubahan dalam hati ; memikirkan
sudah seperberapakah langkah diri mengemban amanatNya sebagai pemimpin ;
memperbanyak berkawan dengan buku. “ Anda akan mengetahui bahwa sebulan bergaul
dengan buku akan lebih baik daripada bergaul dengan orang seumur hidup. “ Begitu
kata Syaikh Aidh al-Qarni. Wallahu a’lam bishawab.
0 komentar:
Posting Komentar