( Serial Sukses Dengan Tauhid bag: 1 )
Keadaan
disekitar kita sangat mempengaruhi dalam mengambil keputusan. Itu sudah menjadi tatanan kaidah
kehidupan. Semua dari kita harus menyadari itu, agar berhati – hati dalam mengambil
keputusan hidup. Sungguhpun sebagian besar kita sadar bahwa secara fitrah, kita
adalah terlahir sebagai pemenang, tetapi karena keadaan disekitarnya tidak
mendukung ke arah itu sehingga pada ending-nya
tidak menemukan diri dalam posisinya. Allah swt selalu mengasihi
hambanya dengan menyediakan peringatan – peringatan untuk hambanya selalu di
atas rel keberhasilan. Peringatan itu bisa lewat ayat taklimiat ( al-qur’an )
maupun lewat ayat takwiniat ( ciptaanya ).
“Adapun orang-orang yang beriman kepada
Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya
Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya
(surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus
(untuk sampai) kepada-Nya." QS. 4 : 175
Anda jangan dulu marah
saat kebingungan mencari – cari dari segi mana
ayat tersebut menjadi dalil dari pembahasan sedikit adalah besar, banyak
adalah kecil. Kalau anda bingung, penulisnya pun pasti sedang kebingungan
memulai dari mana menarik benang merah untuk memulai pembahasan. Marilah sama –
sama meminta kepada Allah agar semuanya dibukakan. Amin.
Banyak mana antara gajah
dan semut? Lalu, besaran mana antara keduanya? Banyakan mana antara batu dan
pasir? Lalu, besaran mana? Banyakan mana antara batu dan gunung? Lalu, besaran
mana? Banyakan mana burung elang dengan
burung pipit? Lalu, besaran mana? Banyakan mana nyamuk dengan kuda? Lalu,
besaran mana? Banyakan mana rambut dengan
gigi? Lalu, besaran mana? Dan anda boleh mencari sendiri kelanjutan
pertanyaan tersebut. Pasti jawabanya sama : Banyak =Kecil, sedikit = besar.
Dari sinilah kita memulai
pembahasaan ini. Dalam ayat di atas, ada terdapat dua syarat yang harus
dipenuhi oleh seorang hamba untuk mendapati rahmat besar dari Allah swt. Syarat
, sebagaimana dalam ranah mantiq, mempunyai jami’ dan mani’ yang denganya tidak
semua bisa masuk kedalamnya. Disebutkan orang beriman, atau percaya, dengan
sendirinya mengeluarkan golongan orang – orang yang tidak beriman. Dan
kenyataanya jumlah orang yang percaya lebih sedikit dibanding orang yang tidak
percaya. Satu syarat saja sudah keluar golongan mayoritas, belum lagi syarat
kedua. Dari yang sedikit akan terkeluarkan lagi oleh syarat berikutnya:
Berpegang teguh dengan kepercayaanya.
Dari yang percaya tidak
sedikit yang keluar, yang tidak sanggup untuk memegang teguh kepercayaanya.
Orang percaya bahwa bekerja adalah pengungkit bagi status dirinya. Tetapi pada
kenyataanya hanya sepersekian saja yang yakin dan berpegang teguh dengan
kerjaan yang diyakininya. Sehingga pada saat menemui beberapa cobaan dalam
kerjaanya, tidak jarang yang mundur baik dengan mundur teratur atau mendur
terlempar. Hanya sedikit orang yang berhasil menjadi besar karena berani
memilih dari golongan yang sedikit. Sekarang anda memilih yang mana, masuk golongan
banyak atau golongan yang sedikit? Tidak cukupkah informasi yang disampaikan
oleh al-Qur’an? Tidak bisa kah realita di sekitar kita menjadi ‘jubir’ Allah
untuk menginformasikan pelajaran ini?
Nyamuk, pasir,
semut, pipit, semua ‘teriak’
kepada kita, memberi-tahukan bahwa jika
mengikuti yang kebanyakan, maka siap – siaplah menjadi kecil. Tetapi aneh, banyak dari kita yang menginginkan mendapati dirinya pada level
besar, namun memakai pola pikir, pola kerja orang kebanyakan. Saking
mencoloknya perbedaan pola dan kerja orang – orang sukses dengan kebanyakan,
sampai – sampai terkadang digelari ‘ gila.’ Rasulullah pernah dianggap gila
lantaran yang disampaikan beliau sangat berbeda dengan kebiasaan pada masa itu.
( pembahasan perbedaan pada bab Mukholafatu lil hawaditsi )
Lucu lah kalau kita
mengharapkan diri ada dikemuliaan sementara pada tengah malam disaat kebanyakan
orang nyenyak tidur kita juga nyenyak ; luculah kalau kita menginginkan drajat
kita berbeda dengan kebanyakan sementara tidak ada satupun aktifitas dari kita
yang berbeda dari kebanyakan ; luculah kalau kita menginginkan sampai lebih
cepat dari yang lainya sementara berangkatnya sama – sama berjalan ; luculah
kalau kita ingin mendapatkan ilmu melebihi lainya sementara kerjaanya sama dengan
kebanyakan yang menghabiskan waktunya dengan yang tidak bermanfaat.
Pantaslah sahabat Ali, Karamallahu
wajhah, berdoa untuk di jadikan dari golongan yang sedikit. Dengan kata
lain, beliau berdoa untuk menjadi orang yang beruntung, berhasil. Sebab orang yang
sedikit adalah bukan orang biasa.
Bernostalgia dalam sekolah. Anak – anak yang
masuk sepuluh besar ( kok ada kata besarnya yah? Jangan – jangan itu sebagai
pertanda ) pasti bukan anak sembarangan. Sepuluh itu adalah sedikit apabila di
dalam kelas ada empat puluh siswa. Ada kesan berbeda bila berhadapan dengan
anak yang masuk sepuluh besar dibanding dengan anak yang kebanyakan. Dari
sepuluh besar disedikitkan lagi menjadi lima besar terus menjadi tiga besar.
semakin sedikit semakin besar pengaruh yang muncul.
Kebanyakan dari orang
banyak adalah menghabiskan waktu dengan yang tidak bermanfaat. Bahasa agamanya lahwun.
Karenanya, setelah mengetahui resikonya kebanyakan, tentunya kita segera
merubah kebiasan dan berpindah ke dalam kebiasaan orang yang sedikit. Dalam masalah ini al-Qur’an menegaskan.
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman, . (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna.” QS. 23 : 1,2, 3.
Orang yang percaya dan
melaksanakan kepercayaanya juga tidak tergiur dengan mainan – mainan yang bisa
melalaikan itulah orang yang sungguh bahagia. Bahagia bisa meraih kesuksesan.
Anda percaya dengan keahlian yang anda miliki lantas menjalankanya dengan penuh
ke-‘khusu’an, maka anda bersiap – siap untuk mendapati diri anda dalam
tempat yang banyak diingini oleh kebanyakan.
Dari ayat tersebut, bisa
didapati bahwa pengganggu ke-khusu’-an dalam menjalankan aktifitas yang
diyakini adalah permainan. Tidak ada kata ‘main –main’ dalam kamus kesuksesan.
Apapun bentuk aktifitasnya, sekalipun sekilas permainan, kalau disikapi dengan
khusu’ ( baca ; serius ) niscaya itu menjadikan pelakunya bahagia. Sebagai
contoh, atlit bulu tangkis. Mungkin bagi yang bukan atlit, bulu tangkis adalah
permainan yang tidak bisa mengangkat drajat, tetapi bagi yang
meng-khusu’-kanya, bulu tangkis akan menjadi dongkrak yang mengangkat baginya.
Yang harus dijauhi adalah apa – apa yang tidak bermanfaat. Dan yang demikian
relatif. Artinya, sekali lagi, tergantung kepada pelakunya. Sesuatu akan
menjadi permainan, atau menjadi ke-khusu’-an tergantung kepada orangnya.
Pemahaman ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw,” banyak amal berupa amal
dunia, karena bagusnya niat, maka menjadi amal akhirat. Dan banyak amal berupa
amal akhirat, karena baiknya niat, maka menjadi amal dunia...”
Masa sekarang, dimana
permainan sudah merata dimana – mana, adalah masa yang harus disikapi dengan
hati – hati betul. Pakem sederhananya, apa saja yang oleh kebanyakan
orang dikerjakan, kita harus memikirkan berulang kali untuk mengikutinya.
Singkatnya, masa sekarang, harus berani melawan arus agar bisa sukses berdiri.
Coba anda ambil papan. Lalu di atas papan dipasang mainan berbentuk orang – orangan , setelah itu ikat dengan
benang. Kemudian anda pergi ke sungai. Lempar orang-orangan itu dan pegang
ujung benangnya, maka ia akan berdiri
manakala melawan arus. Semakin besar arus, maka semakin ‘kokoh’ berdirinya. Tetapi
sebaliknya, jika ia mengikuti arus, maka ia tidak akan bisa berdiri.
Satu dua
bukti biasanya belum bisa menggerakan sesorang. Itulah penyakitnya, memang.
Sehingga, tentunya, dibutuhkan pencarian lebih untuk menambahi keyakinan bahwa
ikut kebanyakan menjadi kecil. Dan bila
anda mau mencarinya, anda akan menemukan lebih banyak lagi dari apa yang saya sebutkan. Namun saran saya
tidak usah perlu banyak bukti untuk melakukan sesuatu yang baik, yang sangat
penting adalah langsung melakukanya, dan, insyaallah, akan merasakan bahwa
ayat-ayatNya sungguh benar dan menuntun umat ke jalan yang baik. Ingat orang –
orang mu’min berkata ‘sami’naa wa atho’naa’, mendengar kami dan mengikut
kami. Stt... stop dulu jangan keburu buruk sangka. Maaf yah bukan anjuran saya
yang harus diikuti, tetapi ayat – ayat Allah swt yang harus diikuti. Ruginya
terlalu banyak membahas adalah nanti diberatkan oleh Allah, dan kata Mas Ippo,
kalau banyak membahas itu kerjaan otak kiri, susah majunya. Allah memberatkan
bani Israil saat bani Israail bertanya tentang masalah orang yang meninggal
yang tidak diketahui pembunuhnya. Bani israail memohonkan kepada Nabi Musa AS
untuk berdoa kepada Allah swt agar diberi tahukan siapa pembunuhnya. Setelah di
suruh Allah untuk memotong sapi sebagai wasilah untuk menghidupkan orang yang
mati, eh malah mrengkel nanya ini itu. Sapi yang bagaimana, yang warnanya apa.
Padahal kalau saat perintah pertama langsung dilaksanakan, mereka bisa memotong
sapi yang mana saja yang mudah didapat, tetapi karena mrengkelnya, sehingga
Allah memberikan keberatan dengan kreteria sapi yang sulit dicari.
Sudah menjadi sunatullah bahwa di dunia ini semakin banyak jumlahnya maka semakin kecil
bentuknya. Itu tidak bisa dielakan. Karena kita termasuk dalam dunia ini, so
ndak bisa tidak mengikuti aturan tersebut. Jika kita memaksa menginginkan
menjadi besar dengan mengikuti semua yang dilakukan oleh kebanyakan berarti ada
yang perlu diperbaiki program dalam
pikiran kita. Ada yang perlu di instal ulang komputer pikir kita.
Wallahu ‘alam.
Penulis adalah pengasuh Ponpes Bah Sariamah Kec. Silau
Kahean Kab. Simalungun.
0 komentar:
Posting Komentar