Jumat, 17 Mei 2013

Banyak Kecil, Sedikit Besar



( Serial Sukses Dengan Tauhid bag: 1 )
  
Keadaan disekitar kita sangat mempengaruhi dalam mengambil  keputusan. Itu sudah menjadi tatanan kaidah kehidupan. Semua dari kita harus menyadari itu, agar berhati – hati dalam mengambil keputusan hidup. Sungguhpun sebagian besar kita sadar bahwa secara fitrah, kita adalah terlahir sebagai pemenang, tetapi karena keadaan disekitarnya tidak mendukung ke arah itu sehingga pada ending-nya  tidak menemukan diri dalam posisinya. Allah swt selalu mengasihi hambanya dengan menyediakan peringatan – peringatan untuk hambanya selalu di atas rel keberhasilan. Peringatan itu bisa lewat ayat taklimiat ( al-qur’an ) maupun lewat ayat takwiniat ( ciptaanya ).
 “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang Lurus (untuk sampai) kepada-Nya." QS. 4 : 175
Anda jangan dulu marah saat kebingungan mencari – cari dari segi mana  ayat tersebut menjadi dalil dari pembahasan sedikit adalah besar, banyak adalah kecil. Kalau anda bingung, penulisnya pun pasti sedang kebingungan memulai dari mana menarik benang merah untuk memulai pembahasan. Marilah sama – sama meminta kepada Allah agar semuanya dibukakan. Amin.
Banyak mana antara gajah dan semut? Lalu, besaran mana antara keduanya? Banyakan mana antara batu dan pasir? Lalu, besaran mana? Banyakan mana antara batu dan gunung? Lalu, besaran mana?  Banyakan mana burung elang dengan burung pipit? Lalu, besaran mana? Banyakan mana nyamuk dengan kuda? Lalu, besaran mana? Banyakan mana rambut dengan  gigi? Lalu, besaran mana? Dan anda boleh mencari sendiri kelanjutan pertanyaan tersebut. Pasti jawabanya sama : Banyak =Kecil, sedikit = besar.
Dari sinilah kita memulai pembahasaan ini. Dalam ayat di atas, ada terdapat dua syarat yang harus dipenuhi oleh seorang hamba untuk mendapati rahmat besar dari Allah swt. Syarat , sebagaimana dalam ranah mantiq, mempunyai jami’ dan mani’ yang denganya tidak semua bisa masuk kedalamnya. Disebutkan orang beriman, atau percaya, dengan sendirinya mengeluarkan golongan orang – orang yang tidak beriman. Dan kenyataanya jumlah orang yang percaya lebih sedikit dibanding orang yang tidak percaya. Satu syarat saja sudah keluar golongan mayoritas, belum lagi syarat kedua. Dari yang sedikit akan terkeluarkan lagi oleh syarat berikutnya: Berpegang teguh dengan kepercayaanya.
Dari yang percaya tidak sedikit yang keluar, yang tidak sanggup untuk memegang teguh kepercayaanya. Orang percaya bahwa bekerja adalah pengungkit bagi status dirinya. Tetapi pada kenyataanya hanya sepersekian saja yang yakin dan berpegang teguh dengan kerjaan yang diyakininya. Sehingga pada saat menemui beberapa cobaan dalam kerjaanya, tidak jarang yang mundur baik dengan mundur teratur atau mendur terlempar. Hanya sedikit orang yang berhasil menjadi besar karena berani memilih dari golongan yang sedikit. Sekarang anda memilih yang mana, masuk golongan banyak atau golongan yang sedikit? Tidak cukupkah informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an? Tidak bisa kah realita di sekitar kita menjadi ‘jubir’ Allah untuk menginformasikan pelajaran ini?
Nyamuk, pasir, semut,  pipit, semua ‘teriak’ kepada kita,  memberi-tahukan bahwa jika mengikuti yang kebanyakan, maka siap – siaplah menjadi kecil. Tetapi aneh,  banyak dari kita yang  menginginkan mendapati dirinya pada level besar, namun memakai pola pikir, pola kerja orang kebanyakan. Saking mencoloknya perbedaan pola dan kerja orang – orang sukses dengan kebanyakan, sampai – sampai terkadang digelari ‘ gila.’ Rasulullah pernah dianggap gila lantaran yang disampaikan beliau sangat berbeda dengan kebiasaan pada masa itu. ( pembahasan perbedaan pada bab Mukholafatu lil hawaditsi )
Lucu lah kalau kita mengharapkan diri ada dikemuliaan sementara pada tengah malam disaat kebanyakan orang nyenyak tidur kita juga nyenyak ; luculah kalau kita menginginkan drajat kita berbeda dengan kebanyakan sementara tidak ada satupun aktifitas dari kita yang berbeda dari kebanyakan ; luculah kalau kita menginginkan sampai lebih cepat dari yang lainya sementara berangkatnya sama – sama berjalan ; luculah kalau kita ingin mendapatkan ilmu melebihi lainya sementara kerjaanya sama dengan kebanyakan yang menghabiskan waktunya dengan yang tidak bermanfaat.
Pantaslah sahabat Ali, Karamallahu wajhah, berdoa untuk di jadikan dari golongan yang sedikit. Dengan kata lain, beliau berdoa untuk menjadi orang yang beruntung, berhasil. Sebab orang yang sedikit adalah bukan orang biasa.
 Bernostalgia dalam sekolah. Anak – anak yang masuk sepuluh besar ( kok ada kata besarnya yah? Jangan – jangan itu sebagai pertanda ) pasti bukan anak sembarangan. Sepuluh itu adalah sedikit apabila di dalam kelas ada empat puluh siswa. Ada kesan berbeda bila berhadapan dengan anak yang masuk sepuluh besar dibanding dengan anak yang kebanyakan. Dari sepuluh besar disedikitkan lagi menjadi lima besar terus menjadi tiga besar. semakin sedikit semakin besar pengaruh yang muncul.
Kebanyakan dari orang banyak adalah menghabiskan waktu dengan yang tidak bermanfaat. Bahasa agamanya lahwun. Karenanya, setelah mengetahui resikonya kebanyakan, tentunya kita segera merubah kebiasan dan berpindah ke dalam kebiasaan orang yang sedikit.  Dalam masalah ini al-Qur’an menegaskan.
  Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, . (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” QS. 23 : 1,2, 3.
Orang yang percaya dan melaksanakan kepercayaanya juga tidak tergiur dengan mainan – mainan yang bisa melalaikan itulah orang yang sungguh bahagia. Bahagia bisa meraih kesuksesan. Anda percaya dengan keahlian yang anda miliki lantas menjalankanya dengan penuh ke-‘khusu’an, maka anda bersiap – siap untuk mendapati diri anda dalam tempat yang banyak diingini oleh kebanyakan.
Dari ayat tersebut, bisa didapati bahwa pengganggu ke-khusu’-an dalam menjalankan aktifitas yang diyakini adalah permainan. Tidak ada kata ‘main –main’ dalam kamus kesuksesan. Apapun bentuk aktifitasnya, sekalipun sekilas permainan, kalau disikapi dengan khusu’ ( baca ; serius ) niscaya itu menjadikan pelakunya bahagia. Sebagai contoh, atlit bulu tangkis. Mungkin bagi yang bukan atlit, bulu tangkis adalah permainan yang tidak bisa mengangkat drajat, tetapi bagi yang meng-khusu’-kanya, bulu tangkis akan menjadi dongkrak yang mengangkat baginya. Yang harus dijauhi adalah apa – apa yang tidak bermanfaat. Dan yang demikian relatif. Artinya, sekali lagi, tergantung kepada pelakunya. Sesuatu akan menjadi permainan, atau menjadi ke-khusu’-an tergantung kepada orangnya. Pemahaman ini telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw,” banyak amal berupa amal dunia, karena bagusnya niat, maka menjadi amal akhirat. Dan banyak amal berupa amal akhirat, karena baiknya niat, maka menjadi amal dunia...”
Masa sekarang, dimana permainan sudah merata dimana – mana, adalah masa yang harus disikapi dengan hati – hati betul. Pakem sederhananya, apa saja yang oleh kebanyakan orang dikerjakan, kita harus memikirkan berulang kali untuk mengikutinya. Singkatnya, masa sekarang, harus berani melawan arus agar bisa sukses berdiri. Coba anda ambil papan. Lalu di atas papan dipasang mainan berbentuk  orang – orangan , setelah itu ikat dengan benang. Kemudian anda pergi ke sungai. Lempar orang-orangan itu dan pegang ujung benangnya,  maka ia akan berdiri manakala melawan arus. Semakin besar arus, maka semakin ‘kokoh’ berdirinya. Tetapi sebaliknya, jika ia mengikuti arus, maka ia tidak akan bisa berdiri.
           
            Satu dua bukti biasanya belum bisa menggerakan sesorang. Itulah penyakitnya, memang. Sehingga, tentunya, dibutuhkan pencarian lebih untuk menambahi keyakinan bahwa ikut kebanyakan menjadi kecil.  Dan bila anda mau mencarinya, anda akan menemukan lebih banyak lagi  dari apa yang saya sebutkan. Namun saran saya tidak usah perlu banyak bukti untuk melakukan sesuatu yang baik, yang sangat penting adalah langsung melakukanya, dan, insyaallah, akan merasakan bahwa ayat-ayatNya sungguh benar dan menuntun umat ke jalan yang baik. Ingat orang – orang mu’min berkata ‘sami’naa wa atho’naa’, mendengar kami dan mengikut kami. Stt... stop dulu jangan keburu buruk sangka. Maaf yah bukan anjuran saya yang harus diikuti, tetapi ayat – ayat Allah swt yang harus diikuti. Ruginya terlalu banyak membahas adalah nanti diberatkan oleh Allah, dan kata Mas Ippo, kalau banyak membahas itu kerjaan otak kiri, susah majunya. Allah memberatkan bani Israil saat bani Israail bertanya tentang masalah orang yang meninggal yang tidak diketahui pembunuhnya. Bani israail memohonkan kepada Nabi Musa AS untuk berdoa kepada Allah swt agar diberi tahukan siapa pembunuhnya. Setelah di suruh Allah untuk memotong sapi sebagai wasilah untuk menghidupkan orang yang mati, eh malah mrengkel nanya ini itu. Sapi yang bagaimana, yang warnanya apa. Padahal kalau saat perintah pertama langsung dilaksanakan, mereka bisa memotong sapi yang mana saja yang mudah didapat, tetapi karena mrengkelnya, sehingga Allah memberikan keberatan dengan kreteria sapi yang sulit dicari.
Sudah menjadi sunatullah bahwa di dunia ini  semakin banyak jumlahnya maka semakin kecil bentuknya. Itu tidak bisa dielakan. Karena kita termasuk dalam dunia ini, so ndak bisa tidak mengikuti aturan tersebut. Jika kita memaksa menginginkan menjadi besar dengan mengikuti semua yang dilakukan oleh kebanyakan berarti ada yang perlu diperbaiki  program dalam pikiran kita. Ada yang perlu di instal ulang komputer pikir kita.
Wallahu ‘alam.
Penulis adalah pengasuh Ponpes Bah Sariamah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun.

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut