Jumat, 17 Mei 2013

Tahun Baru Hedonisme Dan Lupa Akhirat



Oleh : Saifudin Zebod
( Penulis adalah Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Khadim Pondok Pesantren  Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun )

“ Bermegah-megahan telah melailaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui ( akibat perbuatanmu itu ) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” Q.S At-Takatsur : 1-4
Setiap pergantian tahun, setiap itu pula pesta besar-besaran saling berlomba – lomba di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di dunia yang mayoritas penduduknya Islam seperti negeri kita. Tidak bisa terbayangkan berapa biaya yang keluar untuk membayar satu malam pergantian tahun baru. Mungkin,  jika dibolehkan berandai-andai, biaya malam tahun baru bisa untuk membiayai anak –anak miskin sekabupaten  bersekolah sampai jenjang kuliah. Maka, jika tahun berikutnya terulang dan begitu seterusnya, kebodohan yang menjadi pangkal kemiskinan bisa terkikis yang pada endingnya negeri ini terbebas dari kebodohan dan semakin dekat dengan kemakmuran.
Kesenangan Dunia
Seluruh rentetan acara pada malam pergantian tahun, sebagian besar – kalau tidak disebut semuanya- adalah menonjolkan hura-hura, berlebih –lebihan dalam kesenangan dunia. Hedonisme sudah meracuni sebagian penduduk negeri yang kita cintai ini dan kelihatanya cengkramanya akan berlangsung lama. Padahal sejarah telah mencatat bahwa hancurnya suatu kaum karena disebabkan oleh hubudunia. Hura-hura, dengan karakteristiknya; langsung terasa kenikmatanya, akan meninabobokan semua yang tidak menganggap penting efek darinya.
Sesuatu yang cepat, langsung terasanya, oleh Al-Qur’an disiratkan dengan menggunakan huruf “wawu” ( mutlaqul jam’i), sedangkan yang menggunakan proses, step by step informasinya disampaikan oleh huruf “fa” . Dan menggunakan “tsumma”, apabila prosesnya membutuhkan waktu yang lama. Dan yang sangat perlu diperhatikan adalah yang didahului oleh wawu berujung kejelekan, kesusahan.  Sedangkan berujung kebaikan, kesenangan apabila didahului dengan fa atau tsuma (Q.S 101:6-9) . Artinya, berangkat dari siratan pelajaran demikian, hura-hura yang manfaatnya langsung-kalau ada yang menyebut itu bermanfaat- masih perlu pertimbangan untuk dijadikan perayaan pergantian tahun baru.
Buaian hura-hura akan menyeret seseorang lalai akan kehidupan besok. Dan kelalaian ini akan berlangsung sampai seseorang diantar berziarah ke kubur, jika tidak secepatnya menyadarinya. Dan jangan sampai sadarnya oleh terlihatnya akibat darinya. Kalau sudah begitu tidak ada artinya kesadaran.
Melihat sejarah umat yang sudah-sudah. Seperti Islam di Spanyol misalnya, menurut ahli sejarah, faktor utama yang menyebabkan kehancuran umat Islam adalah bermegah-megahan dalam urusan dunia.  Tujuh abad kurang lebih Islam berjaya di Spanyol. Itu saja bisa roboh dengan sebab bermegah –megahan dalam kesenangan dunia, lalu bagaimana dengan yang di bawah itu?
Juga melihat sejarah kaum Saba. Saba adalah nama kabilah dari kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan Sabaiyyah dan berhasil membuat bendungan raksasa yang denganya negeri mereka subur dan makmur. Kemewahan, kemakmuran menyebabkan mereka mengingkari aturan –aturan Allah swt. Mereka tidak mengindahkan seruan para utusan. Karena keingkaranya, Allah swt mengirimkan banjir bandang yang menghancurkan apa-apa yang mereka banggakan. Kisah kaum Saba diabadikan oleh Allah swt dalam al-Qur’an sebagai i’tibar bagi umat yang setelahnya.
“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui...” Kalimat ini terulang penyampaianya. Pengulangan merupakan taukid, penguat sebagai pemberitahuan akan seriusnya kalimat tersebut. Biasanya karena yang dikhitabi mengingkari atau ditemukan indikasi keingkaran. ( Jauhar Maknun soh.22 ) Dan tidak terlalu berlebihan jika dikatakan saat ini indikasi keingkaran itu ditemukan. Bencana yang silih berganti termasuk di dalamnya banjir seakan hanya merupakan kejadian alam yang kebetulan saja, tidak sedikitpun dimaknai sebagai “SMS” dariNya atas berlebih-lebihan yang dilakukan.
Mengisi pergantian tahun dengan gegap-gempita pesta pun sebuah kejanggalan andai dilihat dengan kaca mata ahirat. Bukankah dengan bergantinya tahun berarti berkurang umur seseorang? Dan, berarti semakin dekat dengan giliran mati, bukan?
Mustahil logika pergantian tahun tidak dimengerti. Tidak lain hanya karena lupa ahirat, begitulah jawaban dari mengapa pergantian tahun diisi ala mereka yang tidak meyakini ada kehidupan setelah kehidupan ini. Belum lagi yang tidak terlihat nyata dalam acara. “ Pil KB diserbu ratusan ABG pada malam pergantian tahun baru” begitu informasi yang dimunculkan di bawah layar salah satu stasiun swasta.


0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut