Oleh : Saifudin Zebod
( Penulis adalah Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Khadim Pondok Pesantren Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun
)
“ Bermegah-megahan telah melailaikan
kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui ( akibat perbuatanmu itu ) dan janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui.” Q.S At-Takatsur : 1-4
Setiap
pergantian tahun, setiap itu pula pesta besar-besaran saling berlomba – lomba
di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di dunia yang mayoritas penduduknya
Islam seperti negeri kita. Tidak bisa terbayangkan berapa biaya yang keluar
untuk membayar satu malam pergantian tahun baru. Mungkin, jika dibolehkan berandai-andai, biaya malam
tahun baru bisa untuk membiayai anak –anak miskin sekabupaten bersekolah sampai jenjang kuliah. Maka, jika
tahun berikutnya terulang dan begitu seterusnya, kebodohan yang menjadi pangkal
kemiskinan bisa terkikis yang pada endingnya negeri ini terbebas dari kebodohan
dan semakin dekat dengan kemakmuran.
Kesenangan Dunia
Seluruh rentetan
acara pada malam pergantian tahun, sebagian besar – kalau tidak disebut
semuanya- adalah menonjolkan hura-hura, berlebih –lebihan dalam kesenangan
dunia. Hedonisme sudah meracuni sebagian penduduk negeri yang kita cintai ini
dan kelihatanya cengkramanya akan berlangsung lama. Padahal sejarah telah
mencatat bahwa hancurnya suatu kaum karena disebabkan oleh hubudunia. Hura-hura,
dengan karakteristiknya; langsung terasa kenikmatanya, akan meninabobokan semua
yang tidak menganggap penting efek darinya.
Sesuatu yang
cepat, langsung terasanya, oleh Al-Qur’an disiratkan dengan menggunakan huruf “wawu”
( mutlaqul jam’i), sedangkan yang menggunakan proses, step by step informasinya
disampaikan oleh huruf “fa” . Dan menggunakan “tsumma”, apabila prosesnya
membutuhkan waktu yang lama. Dan yang sangat perlu diperhatikan adalah yang
didahului oleh wawu berujung kejelekan, kesusahan. Sedangkan berujung kebaikan, kesenangan apabila
didahului dengan fa atau tsuma (Q.S 101:6-9) . Artinya, berangkat dari siratan
pelajaran demikian, hura-hura yang manfaatnya langsung-kalau ada yang menyebut
itu bermanfaat- masih perlu pertimbangan untuk dijadikan perayaan pergantian
tahun baru.
Buaian hura-hura
akan menyeret seseorang lalai akan kehidupan besok. Dan kelalaian ini akan
berlangsung sampai seseorang diantar berziarah ke kubur, jika tidak secepatnya
menyadarinya. Dan jangan sampai sadarnya oleh terlihatnya akibat darinya. Kalau
sudah begitu tidak ada artinya kesadaran.
Melihat sejarah
umat yang sudah-sudah. Seperti Islam di Spanyol misalnya, menurut ahli sejarah,
faktor utama yang menyebabkan kehancuran umat Islam adalah bermegah-megahan dalam
urusan dunia. Tujuh abad kurang lebih
Islam berjaya di Spanyol. Itu saja bisa roboh dengan sebab bermegah –megahan
dalam kesenangan dunia, lalu bagaimana dengan yang di bawah itu?
Juga melihat
sejarah kaum Saba. Saba adalah nama kabilah dari kabilah Arab yang tinggal di
daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan Sabaiyyah dan berhasil
membuat bendungan raksasa yang denganya negeri mereka subur dan makmur.
Kemewahan, kemakmuran menyebabkan mereka mengingkari aturan –aturan Allah swt.
Mereka tidak mengindahkan seruan para utusan. Karena keingkaranya, Allah swt
mengirimkan banjir bandang yang menghancurkan apa-apa yang mereka banggakan.
Kisah kaum Saba diabadikan oleh Allah swt dalam al-Qur’an sebagai i’tibar bagi
umat yang setelahnya.
“Janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui...” Kalimat ini terulang penyampaianya.
Pengulangan merupakan taukid, penguat sebagai pemberitahuan akan seriusnya
kalimat tersebut. Biasanya karena yang dikhitabi mengingkari atau ditemukan
indikasi keingkaran. ( Jauhar Maknun soh.22 ) Dan tidak terlalu berlebihan jika
dikatakan saat ini indikasi keingkaran itu ditemukan. Bencana yang silih
berganti termasuk di dalamnya banjir seakan hanya merupakan kejadian alam yang
kebetulan saja, tidak sedikitpun dimaknai sebagai “SMS” dariNya atas
berlebih-lebihan yang dilakukan.
Mengisi
pergantian tahun dengan gegap-gempita pesta pun sebuah kejanggalan andai
dilihat dengan kaca mata ahirat. Bukankah dengan bergantinya tahun berarti
berkurang umur seseorang? Dan, berarti semakin dekat dengan giliran mati,
bukan?
Mustahil logika
pergantian tahun tidak dimengerti. Tidak lain hanya karena lupa ahirat,
begitulah jawaban dari mengapa pergantian tahun diisi ala mereka yang tidak
meyakini ada kehidupan setelah kehidupan ini. Belum lagi yang tidak terlihat
nyata dalam acara. “ Pil KB diserbu ratusan ABG pada malam pergantian tahun
baru” begitu informasi yang dimunculkan di bawah layar salah satu stasiun
swasta.
0 komentar:
Posting Komentar