( Bagian 1 : wudlu )
Oleh : Saifudin Zain
(Ketua MUI Kec. S. Kahean dan Pengasuh Pon Pes Al-
Ittihadiyah Bah Sarimah S. Kahean)
Dewasa ini syariat Islam menjadi sorotan dunia. Oleh
sebagian pihak syariat Islam dianggap merepotkan
manusia. Berangkat dari anggapan tersebut, penulis mencoba - dengan sedikit
pengetahuan – menggali bahwa syariat islam itu tidak seperti yang mereka
anggap. Syariat Islam bahkan bisa menjadi rahmat bagi alam. Hikmah – hikmah
selalu menyertai pada setiap perintah dan larangan yang dibebankan kepada manusia.
Hikmah berwudlu dengan air
Bersuci ( wudlu ) dalam
agama menempati tempat yang penting. Kebanyakan ibadah – ibadah bisa dilakukan
setelah bersuci terlebih dulu, seperti sholat, memegang al-Qu ‘an, thawaf dan
lain – lain. lalu pertanyaan yang timbul dalam benak, mengapakah bersuci itu
menggunakan air? Imam Haramain menilai
hal tersebut sudah menjadi nash yang harus diikuti, tetapi Imam al-Ghazali
berpendapat bahwa pemakain air adalah, disamping nash syarí , juga
bersifat ma ‘qul al- ma ‘na (
rasional ) karena air memiliki sifat – sifat yang tidak dimiliki oleh benda lainya.
Air bukan hanya
menjadi sumber kehidupan bagi mahluk, jauh dari itu, air bisa mempengaruhi
terhadap emosi. “ sesungguhnya marah itu
dari setan. Dan sesungguhnya setan itu tercipta dari api dan api hanya
bisa dipadamkan dengan air, maka jika kamu marah berwudlukah. “ H.R. Abu
Dawud.
Studi ilmiah
mutakhir mengungkapkan bahwa tetesan air yang jatuh kekepala dan wajah dapat
menghilangkan rasa pusing dan
kegelisahan jiwa. Karena itu, para dokter menyarankan agar penderita insomnia (
sulit tidur ) agar mandi dengan air hangat. Para
ahli meyakini bahwa air memiliki
kekuatan magic karena pengaruhnya terhadap otot, syaraf dan kejiwaan.
Karenanya, banyak orang yang senang bernyanyi saat di kamar mandi karena pada
saat itu tercipta rasa santai dan bahagia.
Masih kekuatan air,
di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Barat
berhasil mengatasi para kecanduan narkoba dengan menggunakan terapi mandi waktu
subuh.
Lalu bagaimana
dengan hikmah kearifan wudlu? Mengapa kalau mau mengerjakan sholat mesti
berwudlu dulu? Sebagian ulama berpendapat bahwa wudlu itu bersifat ta ‘abudi. Artinya memang sudah aturan Allah
swt. Namun demikian , pendapat yang kuat ( qaul mu ‘tamad ) di kalangan
ulama menyebutkan bahwa kewajiban wudlu bersifat rasional. Hal itu, dialasi
oleh mereka, karena shalat itu sarana untuk menghadap Dzat yang maha tinggi,
maka harus bersih baik bathin maupun dhahir.
Ahmad Hammam, dalam
bukunya, terapi dengan ibadah, mengatakan bahwa berdasarkan survey, telah
terbukti kangker kulit merupakan jenis
kangker yang popular dan banyak
ditemukan di Negara- Negara Barat. Namun,
jenis kangker yang sama jarang ditemukan di Negara Islam. Padahal,
sengatan matahari di Negara tersebut sangat terik. Ternyata, hal ini disebabkan
mayoritas penduduknya senantiasa
melakuakan wudlu secara rutin.
Al- Qur’an memberitahukan anggota wudlu yang harus
dibasuh adalah wajah, tangan, kepala dan kaki. ( baca Q.S.5:06 ). Hal ini
menimbulkan pertanyaan, kenapa yang harus dibasuh cuma itu, apakah ada rahasia
dengan anggota tersebut? Secara ubudiyah, jawaban untuk pertanyaan ini adalah
seperti yang diterangkan Rasulullah saw. Beliau bersabda, “…ketika orang
yang berwdlu membasuh mukanya, maka dosa- dosanya akan keluar dari wajahnya
hingga dari ujung kedua matanya…al-Hadis” H.R Nasai No.103. Dalam tafsir Al- Haqqi,
penetapan anggota wudlu yang dibasuh berawal dari kesalahan Nabi Adam as.
Ketika Nabi Adam masih di surga, beliau memandang buah kuldi dengan wajah, menyentuh dengan tangan, berjalan dengan
kedua kaki dan meletakan kedua tangan di atas kepala. Sebagai syarat diampuni
dosa, Nabi Adam as diperintahkan membasuh anggota tersebut dengan air.
0 komentar:
Posting Komentar