Manusia, secara
hakiki, lahir, wujud, untuk mengabdi kepada Sang khalik. Kata Abdi bisa berarti
ibadah, juga bisa dengan arti hamba. Kalau diteliti kedua arti dari kata ‘abdi’
mempunyai hubungan erat. Mengabdi akan terwujud bilamana di dalam diri lahir
sikap layaknya seorang hamba. Karena seorang hamba, sudah sewajarnya bersikap
sebagaimana hamba. Semua di dunia ini diciptakan menempati posisinya masing –
masing. Semua, kecuali manusia, menyadari dan tunduk kepada aturan yang telah
ditetapkan. Sapi, contohnya, walau ia lebih mahal harganya dengan asbak rokok,
tetapi ia menerima di tempatkan di belakang rumah dan tidak ‘ngiri’ kepingin di
ruang tamu. Sepatu juga, ia tidak ‘ngiri’ dengan kopiah, padahal semua tahu
sepatu lebih berharga dari kopiah. Katanya, tata surya juga mengikuti aturan
ini. Semua menjalankan sesuai posisinya masing – masing. Andai saja ada salah
satu darinya yang mangkir, merajuk tidak mau bergerak dengan pergerakanya, maka
dunia ini akan hancur bertabrakan. Al-Qur’an, dalam masalah ini, menyampaikan :
“ langit yang tujuh, bumi dan semua yang
ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan
bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” QS. 17 :44
“ tidaklah kamu
tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan
(juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui
(cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka
kerjakan.” QS. 24 :41
Di atas saya katakan semua kecuali
manusia juga berdasarkan al-Qur’an.
“ Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali
akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”QS. 19:93
“ Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Sujudlah
kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang", mereka menjawab:"Siapakah
yang Maha Penyayang itu? Apakah Kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu
perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?", dan (perintah sujud itu) menambah
mereka jauh (dari iman).QS. 25:60
Semrawut. Begitu memang
kalau tidak menjalankan peran sesuai perintah dari Sang Maha sutradara. Sudah
dijadikan peran seorang hamba, eh malah memerankan raja. Bisa dipastikan,
jangankan sutradaranya, yang menonton saja pasti gemes. Yang nggeregeti lagi,
tidak sadar kekacauan plot cerita timbul
dari ‘ngerasa dan tindakanya’. Kalau saya sutradaranya, sudah saya coret
dan saya usir. Untungnya Sutradaranya Maha Pengasih dan Maha Pengampun.
Begitulah kebiasaan kita sebagai manusia, selalu cenderung meleset dari rel yang
telah ditetapkan.
Merasa pinter
itu adalah tindakan yang lahir dari keterplesatan sesorang dari relnya. Dan
secara alamiyah, bila seseorang tidak tahu hakiki dirinya, orang lain akan
memberikan ketidak-simpatikan pada dirinya. Coba saja anda bayangkan disamping
anda ada kawan yang selalu merasa pinter, biasanya ia selalu ingin menang
sendiri, perasaan apa yang tersimpan dalam hati anda terhadapnya? Nek.
Yah dari sinilah sebenarnya judul ini di bahas.
Semua dari kita
pasti merasa tidak senang dengan orang yang merasa pinter. Agaknya agama
menyuruh umatnya untuk merendah, mendahulukan orang lain, bermanfaat bagi orang
lain, dan semua yang masuk dalam kategori ‘hubunnas’, bertujuan untuk
disenangi oleh Tuhanya, oleh lainya. Yang pertama dalam memulai apa saja adalah
disenangi. Jika semua orang menyenangi anda, maka anda telah berhasil
mendapatkan apa – apa yang anda inginkan termasuk keberhasilan yang anda
dambakan. “yassiruu walaa tu’assiruu”, mudahkan jangan kamu susahkan,
begitulah salah satu ajaran syariat kita.
Sekarang stop
merasa pinter. Tidak ada menghasilkan apa – apa melainkan kerugian luar dalam.
Merugi sekali seseorang yang tidak bisa bersinergi dengan orang lain. Tidak ada
orang sukses dengan sendirinya ( pembahasanya di bag: Membonceng Buraq ). Karenanya,
sekali lagi, merasa pinter harus dijauhi kalau kepingin mendapati dirinya ada
di posisi yang banyak diinginkan orang.
Pinter Merasa
Kebalikanya,
jika menginginkan sukses, harus
menumbuh-suburkan pinter merasa. Orang yang pandai merasa dimana pun dia
berada, maka bumi semua akan menjadi tanah kelahiranya. Tidak ada istilah
merantau baginya. Merantau hanya milik Iko Uwais. Semua orang kan
menaruh simpatik kepada orang yang pinter merasa. Mertua pasti senang dengan
menantu yang tidak usah disuruh dalam beraktifitas; pemimpin pasti merasa
senang terhadap bawahanya yang mengerti dengan apa yang harus ia lakukan. Semua, kecuali orang yang dengki,
pasti akan menaruh simpati plus empati terhadap kita, jika kita mempunyai kepekaan
tinggi dalam pinter merasa.
orang yang pandai merasa, ia akan
memiliki tawadu’, tahu diri. Bukankah Nabi Muhamad gemetaran saat pertama kali
menerima wahyu. Beliau mengaku tidak bisa membaca, dan dinyatakan lewat gerak
ketakutan saat Malaikat Jibril menyuruh “Iqra”. Begitulah contoh yang di ‘uswah’kan
oleh teladan manusia. Tetapi sungguh sangat disayangkan, tidak sedikit dari
umatnya yang ‘lari’ dari ajaran panutanya. Nabi Muhammad itu Pintar merasa,
buktinya beliau gemetar ketakutan karena merasa tidak pinter.
Merasa
jabatan, pimpinan adalah amanah, terus kemudian menjalankan dengan sebaiknya
itulah cerminan orang – orang yang pandai merasa. Yang demikian jauh dari orang
– orang yang merasa pintar. Lalu kaitanya dengan keberhasilan, dimananya?
Keberhasilan dalam kehidupan dunia maupun ahirat pasti membutuhkan bantuan
orang lain. Orang lain akan mudah mengulurkan bantuan apabila – biasanya – ia
tertarik. Ketertarikan lahir dari sesuatu yang menyentuh. Dan imam dari semua
‘sentuh-menyentuh’ adalah pinter merasa. Tuan rumah akan tersentuh terhadap
tamu yang bangun duluan lantas mengerjakan apa – apa yang bisa dikerjakan untuk
membantu meringankan kerepotanya. Itulah tamu yang pinter merasa. Tetapi coba
tebak, kira-kira apa perasaan yang
muncul pada tuan rumah terhadap tamu yang bangunya saat matahari di atas
kepala? Lalu, kira – kira simpati dan empati milik siapa, andai tuan rumah
disuruh untuk memberikan itu?
Disamping itu,
pinter merasa, bisa menumbuhkan sifat bagus berikutnya seperti amanah, bisa
dipercaya, komitmen, tidak pernah mengeluh yang kesemuanya adalah potongan puzzle
yang akan menyempurnakan bentuk gambar keberhasilan. Ndak percaya? Jika
seorang yang selalu menjadi imam dari tindakanya adalah perasaan, maka orang
tersebut akan sekuat tenaga untuk tidak disuruh. Karena, di matanya, yang
namanya disuruh itu hanya untuk orang yang ‘telmi’, alias telat mikir. Bila
seseorang mempunyai filosofi demikian, bisa dipastikan ia akan banyak disenangi
orang.
Saya
duduk di kursi dalam bus menuju Jakarta. Duduk disamping saya seorang pengusaha
sukses dari Madura. Saya mengetahui beliau setelah melalui basa – basi sebagai
tetangga kursi. Setelah panjang lebar beliau menceritakan pengalamanya, ada
yang sangat menarik perhatian saya: Beliau meraih kesuksesanya hanya
bermodalkan kepercayaan dan pandai merasanya. Katanya kepercayaan itu lebih
berharga dari apapun, dan kepercayaan itu lahir dari mengertinya kita terhadap
apa yang digeluti.
Agama diturunkan
untuk mengatur kebahagiaan manusia. Karenanya, sangat wajar, agama melarang
manusia berbuat sombong, ujub, merasa pinter, sebab semua itu, kalau diteliti
lebih, adalah penyebab penghalang kebahagiaan, juga kesuksesan. Biasanya, orang
yang merasa pinter akan menutup hikmah yang datang bukan dari apa yang ia
senangi. Dalam masalah ilmu, contohnya, ia tidak akan menerima kalau bukan dari
yang sealiran denganya, biasanya menyepelekan ilmu yang keluar dari orang yang
tidak ada ‘embel-embel’ nama belakangnya. Itu kan rugi ‘pangkat tiga’
namanya. Padahal Rasulullah saw sudah
mewanti – wanti bahwa hikmah adalah milik orang mu’min, dan jika menemukanya
harus diambil tidak usah dipedulikan ada dimana ditemukanya.
Dalam masalah
kesuseksesan, banyak hikmah yang bisa
diambil dari orang yang kadang tidak
masuk hitungan seperti pada anak – anak. Terkadang orang yang dewasa malah
kalah dibanding anak – anak. Anak – anak mempunyai sifat pantang menyerah,
seperti saat mereka belajar naik sepada misalnya, puluhan jatuh tidak bisa
menghentikan mereka dari keinginanya naik sepeda. Pada sisi lain, tidak jarang
orang dewasa baru mengalami satu dua jatuh dalam memperjuangkan keinginanya
langsung kapok.
Katakan “ Merasa
pintar No, pinter merasa yes!” wallohu’alam bishawab waiyyaka nasta’in.
Penulis adalah ketua Umum MUI Kec. Silau Kahean dan
Pengasuh Ponpes Bah Sarimah Kec. Silau kahean Kab. Simalungun
0 komentar:
Posting Komentar