( serial sukses dengan
tauhid bag: 4 )
Kenapa orang –orang israil selalu
jaya. Bukankah dia orang yang selalu mendzolimi orang lain. Terhusus terhadap
orang islam. Dimanakah Allah swt? Bukankah Dia dzat yang maha perkasa dan maha
mengetahui segala sesuatu. Lalu kenapakah orang yang jahat dibiarkan menguasai
dunia?
Berapa
pertanyaan mengalir memualai pengajian tauhid. Yang menarik untuk dimusyawarahkan
adalah pertanyaan apakah Allah bisa ‘melenyapkan’ orang yang jahat. Kalau bisa,
kenapakah orang – orang yang menghina islam, orang – orang yang sudah sangat
menganiaya seperti israel yang begitu bengis terhadap palestina masih tetap
berjaya. Masalah ini memang menjadi pembahasan yang menarik, karena merembet
zona ‘gelap’:taqdir. Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Berkaitan
dengan’membiarkan’ orang – orang yang berbuat dzalim dimuka bumi, kalau kita
teliti secara seksama dengan bantuan petunjuk al-qur’an, maka akan kita temukan
bahwa Allah akan membantu umat islam jika umatnya terlebih dulu membantu diri
sendiri dengan cara mengerjakan apa – apa yang harus dikerjakan. Bahwa ada
‘m0u’ antara Allah dengan hambanya dalam perjalanan di dunia. Mari lihat Q.S. 1
: 49
“
Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan
pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya,
mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu
yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar
dari Tuhanmu.”
Juga
Q.S.44:30, Q.S. 41:18, Q.S. 20 : 40,
Q.S. 10 : 73, Q.S. 21 :71, 74,76,88
Kami selamatkan kamu semua. Ungkapan Allah menggunakan kami banyak ditemui dalam
al-qur’an. Sebagaimana saat Allah menyelamtkan Nabi Musa dan umatnya dari
kekejaman Fir’aun, saat Allah mengangkat nabi Daud menjadi khalifah. Kata kami,
sejatinya diperuntukan untuk pembicara lebih dari satu. Tetapi kenapa Allah
memilih kata ‘kami’ padahalkan Allah itu esa. Dari sini pembahasan ini dimulai.
Berpijakan dengan keyakinan bahwa seluruh yang ada dalam alqur’an adalah
mu’jizat, besar harapan kita juga merasakan kemukjizatanya lewat penyampaian
Allah menggunakan ‘kami'. Penyampaian pembicara dengan menggunakan dlomir naa
sighot mutakalim ma’al ghoir
Gampangan ngomongnya Allah menunggu kita berusaha
terlebih dulu barulah menunjukan kekuasaanya. Kalau orang – orang yang jahat
ingin dihilangkan, maka jelas dibutuhkan usaha secara dunia dulu baru Allah
akan membantu. Tidak cukup hanya berdoa
dan mengharap Allah mengadzab mereka. Ingat bahwa Allah tidak langsung
melenyapkan Fir’aun dan tentaranya di dalam kerajaanya, melainkan setelah ada
usaha Nabi Musa dan kaumnya ‘menyeret’ Fir’aun ke arah lautan. Setelah samapai
ke tengah laut baru Allah melenyapakanya. Itulah m0u dalam kehidupan dunia.
Karenanya tidak pantaslah mengharap israel di adzab oleh Allah begitu saja
dengan duduk-manisnya kita. Bukan Allah tidak mampu tetapi memang sudah ada
m0u-nya. Kalau Allah meng-adzab langasung kepada orang – orang dzalim dengan tanpa
ada usaha dari orang yang terdzalimi berarti al-qur’an tadi disangsikan
kemukjizatanya. ( menggunakan kata kami berarti Alllah memberi kesempatan
kepada manusia
Demikian itu juga berlaku terhadap semua hal yang ada
di dalam kehidupan dunia. Begitu juga dengan kesuksesan. Orang yang
menginginkan kesuksesan tidak boleh menunggu kesuksesan datang menghampirinya,
menunggu Allah memberikan kesuksesan ditempat tidurnya. Gunakan segala
kemampuan yang telah diberikan Allah untuk ‘menyeret’ kesusesan tersebut agar
Allah swt mengasihkanya. Bagi sebagian umat islam yang masih mempunyai
pemahaman, perasaan bahwa Allah maha pengasih sehingga tidak usahlah capai -
capai bekerja, berarti ia menyalahi aturan Allah di dunia. Menyalahi aturan
yang sudah ditetapkan oleh Allah, maka resikonya orang tersebut mendapati lebel
dalam dirinya ‘orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri’. Baca Q.S .65:1 Yah rugi sendiri. Ndak percaya? Coba
saja tidak pernah berusaha mencari rezeqiNya. Apakah akan datang rezeqi dari
langit? Menganiaya dirinya itu yang akan dirasakan. Bagaimana tidak teraniaya,
orang dia masuk golongan orang – orang yang kalah, orang –orang yang tidak
sanggup mewarnai sekitarnya. Namun sungguh sangat disayangkan kebanyakan kalau
sudah’kalah’ melemparkanya kepada Allah dengan berbagai alasan. “ sudah
taqdirnya saya miskin, saya tidak sukses.” Alangkah lebih baik dia mengoreksi
apa yang salah pada dirinnya.seterusnya memperbaiki diri dan tentunya harus
sadar juga bahwa Allah maha menepati janji.
Mengerti
bahwa Allah menggunakan sifat ar’rahman dalam kehidupan dunia, sesuai
pendapat para ahli tafsir dalam menafsiri bismillahirrahmanir ahim, juga
menjadi penyebab seseorang akan giat ‘bekerja sama’ dengan Allah. Arrahman
berarti pengasih di dunia. Artinya siapa yang ada di dunia pasti akan dikasih
tidak pandang dia taat atau tidak. Namun tentunya mereka yang mengikuti aturan
main di dunia. Aturan main dunia coba perhatikan Q.S. Huud: 93
"Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya
akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab
yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan),
Sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu."
Ayat pertama sangat jelas Allah memberi tahu
bahwa Dia akan bekerja setelah manusia membantu dirinya dengan cara bekerja
pada tempatnya. Tempatnya bisa diartikan apa – apa yang telah ia ketahui.
Jelasnya begini, apabila seseorang bekerja dan pekerjaanya sesuai yang telah ia
kuasai ( ini ta,wilan lafadz makanatikum), maka Allah akan bekerja dan
seterusnya “fasaufa ta,malun” kalian
akan melihat. Melihat apa? Melihat hasil menakjubkan yang lahir dari “kerja
bareng” antara seorang hamba dengan Tuhanya. Pondok Pesantren yang saya dirikan
berawal dari terus menerusnya saya dan kawan – kawan bermusyawarah mendalami
tauhid. Tidak disadari, bahkan terdetak dalam hati pun tidak , keistiqomahaan
pengajian tersebut adalah “usaha menyeret” keberuntungan lainya: berdirinya Pondok
Pesantren. Tidak berlebihan kalau ahirnya saya mengucapkan ‘subhanallah’.
Berdirinya Pondok Pesantren saya sudah cukup jadi bukti bagi saya, juga bagi
anda, bahwa allah adalah Dzat yang
menepati janji. Tidak usah pun meminta, tetapi tetap harus meminta dong. Itu
lebih baik, ternyata Allah tidak melupakan janji-janjinya yang tertera dalam
al-Qur’an. Bahwa sangat wajar kalau israel dikasih banyak rezeqi, kata mas
Ippo, pakar otak kanan, dalam bukunya yang mega best seller, mereka ngotot
menjadi pengusaha. Sampai – sampai tesis para mahasiswa bukanlah menggunakan
brendelan kertas, tetapi mendirikan perusahaan. Kita harus mengakui itu. Sorry
bukan saya pendukung Israel, cuman berusaha memandang dengan objektif. Kembali
pada masalah tafsir arrahman. Saya sangat setuju dengan tafsir tersebut.
Keterangan itu menjadi jawaban dari ratusan pertanyaan yang nyelonong dalam
hati. Pertanyaan kenapa mereka sukses padahal mereka adalah orang arang jauh dari
Allah dengan sendirinya luntur. Lah ya lah, jahat atau baik asal masih di dunia
yah harus terima terhadap m0u-nya dunia : siapa yang bekerja ia akan mendapat.
Lain masalahnya kalau sudah di ahirat nanti. Disana baru Allah mengasihi siapa
– siapa yang mengikut saja. Orang – orang yang tidak pernah mengikuti aturan
Allah akan “klepek –klepek”.
Tidak usah jauh sampai ke israel. Di sekitar kita saja, kalau mau meneliti lebih
jauh, pasti akan ditemukan banyak ‘orang baik’ yang mengeluh tidak jauh dari
itu. Mereka biasanya tidak sadar mengucapkan perkataan yang rawan menggelincirkan
akidah, mana kala kesempitan hidup menghimpitnya bertubi – tubi. “kenapa yah si
A yang tidak pernah sholat, tidak pernah puasa. Kerjaanya selalu main judi,
main perempuan tetapi kok rezekinya banyak, sedangkan si Anu yang setiap hari
rajin ke masjid. Sholat tidak pernah ditinggalkan kok hidupnya susah untuk
sekedar menyekolahkan anak saja terasa megap-megap.
Allah tidak adil?” begitulah kebanyakan orang yang merasa baik sering mengeluh.
Buku ini akan menjadi setitik cahaya dalam menjawab
kegundahan dalam melangkah meniti jalan Allah. Memang memegang agama sampai
nanti batas waktu yang sudah ditentukan sangat
berat. Godaan – godaan rasanya setiap saat semakin tambah berat. Disamping itu,
buku ini juga bisa membuka wacana tentang “rahmatan lil alamin” nya syariat
agama. Bahwaa kalau kita umat manusia mau mengikuti aturan – aturan yang telah
ditetapkan oleh Sang Maha Tahu, Sang Maha pemurah, niscaya akan mendapati jalan
terang dalam kehidupanya. Baik kehidupan di dunia (kehidupan sekarang ) maupun
kehidupan ahirat ( kehidupan masa depan ). Mau bukti? tarulah ajaran agama yang
berupa qonaah, menerima. Mempunyai sifat menerima terhadap apa-apa yang
diberikan oleh Allah akan menghasilkan kekuatan sangat luar biasa. Jika hanya
sepintas sifat ini terkesan menjadi penghambat
kemajuan dunia. Umumnya, kata para motifator, untuk maju dibutuhkan
sifat tidak menerima dengan keadaan. Sepintas paradoks. Namun, sekali lagi jika
mau mendalami dengan seksama dan memandang dengan cara berbeda, pasti akan
ditemukan sifat menerima itu adalah rahmat besar bagi manusia. Coba perhatikan
bukti – bukti berikut.
Di salah satu desa di Brebes, Jawa Tengah ada seorang
yang sukses, setidaknya menurut orang setempat. Ia sukses bertani bawang merah.
Kesuksesanya dikarenakan penerimaanya dia dengan apa yang ia bisa. Ia hanya
bisa bertani. Tidak disadarinya, dengan sikap nerimo ing pandum, ia telah melaksanakan fokus didalam usaha.
Padahal sudah sangat mafhum bahwa fokus dalam satu bidang adalah syarat
kesuksesan. Dan terbukti dia sukses. Orang itu adalah saudara ipar saya.
Ajaran menerima apa saja yang diberi oleh Allah, alias
qonaah, mengandung energi keuletan. Bukankah semua yang berhasil adalah mereka
yang mbeling dengan bidangnya, mereka
yang tetap setia dengan bidangnya. Bukan
mereka yang sebentar – sebentar berpindah hanya karena dirasakan tidak
menguntungkan.
Ajaran qonaah adalah anugrah Allah yang sangat
bernilai. Orang tidak perlu capai – capai mencari banyak contoh akan hebatnya
keuletan. Cukup dengan sikap qonaah berarti ia telah berhasil menjadi pelaku
keuletan. Tidak lagi membutuhkan bukti – bukti agar bisa ulet. Ijaz ( singkat tidak bertele – tele ) betul
qonaah ini. Bukankah termasuk orang yang qonaah Thomas Alva Edison itu? Dua ribu kegagalan dalam menciptakan
lampu, kata sebagian sumber, tetapi
masih tetap menerimanya. Ia tidak lantas pindah menekuni bidang lain.
Ahirnya dia berhasil. Dia telah mengikuti m0u dunia. Dan Allah maha menepati janjinya.
Sekarang kita yang merasakan manfaatnya.
Selama ini qonaah diartikan berkonotasi negatif.
Qonaah hanya buat orang – orang yang menjahui kesenangan dunia. Qonaah hanya
akan membuat seseorang malas bekerja. Inikan sudah salah kaprah.
Bekerja bareng dengan Allah harus difahami dengan
proporsional. Keputusan pemberian mutlak di ‘tangan’ Allah. Pemahaman itu harus
tertanam dalam diri kuat – kuat. Sungguhpun demikian , namun Allah tetap
memberi kesempatan pada hambanya untuk ikut memberii keputusan. Seorang hamba harus ikut andil menentukan
keputusan tersebut dengan cara melakukan apa – apa yang berkaitan dengan
keputusan tersebut. Jika seseorang ingin
Allah memberi keputusan kepada dirinya menjadi orang yang sukses dibidang
pendidikan, misalnya, maka ia harus ikut andil dengan cara menekuni,
mempelajari, dan menggeluti bidang tersebut. Coba ulangi lagi meneliti ayat
berikut.
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan
apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang
dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Ayo kapan lagi kita menerima ‘surat lamaran kerja’
dari Allah Dzat Yang Maha memberi. Jangan sangsi terhadap janji-Nya. Janji
Allah tidak seperti janji elite politik saat kampanye, janji-Nya juga tidak
seperti para pengobral janji. Percayalah tidak ada ruginya berbisnis dengan
Allah. Yang ada hanya untung terus. Walaupun kita sering melanggar kesepakatan,
namun Allah tetap memaafkan kita dan selalu memberi kesempatan kepada kita.
0 komentar:
Posting Komentar