( Serial Sukses
Dengan Tauhid Bag. 5 )
Setiap tahun umat Islam memperingati Isra dan
mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. Alasanya syiar Islam, kata para orang – orang
alim. Nabi Muhammad melakukan perjalan ke langit dengan naik buraq. Timbul
pertanyaan kenapa yah rosulullah mesti naik buraq, apakah tidak bisa Allah
langsung menerbangkan Beliau? Kenapa juga ada malaikat Jibril sebagai pemandu
perjalanan? Sekali lagi kenapa, yah?
Pernyataan itu wajar keluar dari orang yang
berpikir. Bahkan, bila diteliti, malah pertanyaan tersebut harus dimunculkan.
Dengan kalkulasi bahwa Allah swt mustahil salah dan tidak mungkin tidak tahu
dengan apa yang dikerjakan. Bukan untuk mengeritik Allah, tapi justru, dengan
pertanyaan itu akan didapati mukjizat. Sudah banyak bukti dimana orang – orang
yang memusuhi Islam dan berusaha mencari kelemahan ql-Qur’an, bukanya menemukan
kelemahan, tetapi justru malah mendapati kebenaran. Orang yang berangkat dengan
kebencian saja ditengah jalan ditunjukan oleh al-Qur’an, besar harapan, dengan pertanyaan di atas,
akan dikasih Allah hikmah – hikmah yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj.
Coba lihat ahir kalimat dalam ayat berikut:
“ Maha suci Allah,
yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke
Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” QS. Al-Israa :1
Coba
perhatikan ayat luar biasa ini ditutup dengan “ sesungguhnya Dia adalah Maha
mendengar lagi Maha mengetahui”. Yah
sudah didengarlah pertanyaan di atas dan sudah dilihat apa maksudnya.
Mengapa Allah tidak
langsung menerbangkan Rosulullah melainkan melalui pelantaraan buraq. Dalam
kejadian itu ada beberapa yang bisa kijta petik untuk dijadikan panduan. Kita
diajari untuk berhasil dalam kehidupan dunia dengan cara melibatkan orang lain
terlebih – lebih orang yang telah berhasil duluan sebagai buraq untuk kita
tumpangi agar bisa naik juga kelangit. Apakah Allah tidak bisa menjawab doa
kita yang ingin maju dengan tanpa bantuan orang lain, alias maju sendiri? Bisa.
Bisa. Tapi yah itu tadi Allah telah menetapkan aturan main dalam dunia.
Memaksakan keinginan maju tanpa bantuan orang lain akan menganiaya diri
sendiri, sebab menyalahi kaidah yang sudah Allah swt tetapkan. Tidak usahlah
memperpanjang pembahasan kaidah maju dengan pelantaran orang lain. Yang penting
sekarang membahas sudahkah anda
menemukan ‘buraq.’ Jangan banyak pikiran ini itu. Disekeliling kita pasti ada
orang – orang yang telah berhasil. Kenapa tidak kita mintai pendapatnya.
Biasanya setelah kita meminta pendapat, bukan cuman pendapat yang diberikan,
tetapi sekaligus solusinya. Bahkan kesananya bisa dengan bantuan materi. Orang
– orang yang telah berhasil biasanya senang sekali kalau dimintai
pendapat,karena yang demikian mengandung pujian, sanjungan. Asal tentunya kita
pandai – pandai mencari waktu yang tepat. Kalau anda mau minta pendapat tidak mungkin
anda mengetuk pintu rumahnya pada jam 12 siang dimana orang tersebut sedang
istirahat. Orang sukses biasanya tidak banyak mempunyai waktu, jadi
mengaktifkan hadir di majlis – majlis yang banyak orang sukses sangat perlu
diperhatikan. Lalu jika anda merasa kesulitan untuk menemui ‘buraq’, anda tidak
boleh berputus asa, masih ada ‘malaikat jibril’ yang bisa menghantarkan
kepadanya. Jika susah menemui orang yang sukses secara langsung, anda dapat
memulai dengan mendekat pada orang – orang yang dekat denganya. Bahkan kalau
bisa mendekati orang – orang yang dikasihi olehnya. Biasanya seseorang akan
memperhatikan kepada orang – orang yang memperhatikan apa – apa yang
dikasihinya. Percayalah dengan anda memperhatikan anak –anaknya, seseorang
tersebut akan menyediakan waktu untuk bisa berbasa – basi dengan anda.
Birokrasi mendekat dengan
cara demikian, bukan tanpa dasar. Allah
menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi. Itulah dasarnya. Dengan seseorang
bershalawat atas Nabi berarti ia memperhatikan ‘yang disayang Allah’, sehingga
Allah cepat – cepat mendatangi dan memenuhi doanya. Begitulah birokrasi ahirat.
Memang Allah maha mendengar dan maha tahu atas segala doa. Namun pada
kenyataanya didapati ada yang cepat dikabulkanya ada juga yang lama. Yang cepat
itu biasanya menggunakan cara tidak langsung mengutarakan permintaanya kepada
Allah, biasanya ia menghadiahkan fatihah terlebih dulu kepada Nabi, kepada para
kekasih Allah baru mengutarakan maksudnya. Yang demikian bukan berarti meminta
pada selain Allah, melainkan, sekali lagi, birokrasi.
Peristiwa buraq terjadi
disegala tempat. Dipenerimaan PNS misalnya. Siapa yang mempunyai ‘buraq’ sudah
bisa dipastikan lenggang kangkung. dipenerimaan instansi mana saja, coba
perhatikan, ada tidak yang ‘buraq’ tidak berperan ‘menghantar’ ke ‘langit’?
tidak ada. Lah kalau sudah tahu begitu. Apa perlu membesarkan urat leher ,
tentunya akan lebih baik, mengikuti aturan main apabila merasa mampu. Maaf yang
banyak kepada adik – adik mahasiswa. Bukan saya menentang perjuangan anda
memerangi nepotisme, cuman urun rembuk bahwa nepotisme - sekali lagi, ini murni
pendapat saya – tidak bisa dihilangkan di muka bumi ini. Akan lebih rasional,
nepotisme itu diarahkan yang benar. Artinya,
bolehlah bernepotisme selagi mempunyai kemampuan. Kan tidak aib sih
kalau anda mampu di satu bidang kemudian ada orang penting membantu anda menempatkan
pada tempat yang memang spesialis anda.
Setelah meyakini bahwa harus ada buraq dalam mengatrol
keberhasilan hidup, muncul pertanyaan : bagaimana caranya agar mengenal buraq?
Bagaimana dengan keadaan saya yang pemalu, tidak bisa bergaul, apa lagi bergaul
dengan orang besar. Bagaimana yah caranya?
Mengikuti organisasi yang ada seperti bergamung dengan
organisasi remaja masjid, misalnya. Percayalah dengan banyak bergabung dengan
orang – orang yang pandai bergaul- biasanya mereka ada di organisasi – lambat
laun anda bisa mengikuti. Organisasi yang sekupnya kecil dulu yang diikuti agar
keberanian berdiskusi bisa tumbuh. Setelah tumbuh dan terbiasa berdiskusi barulah
mulai melirik organisasi – organisasi yang networknya luas. Sebab kalau ikut
langsung organisasi yang besar, bukanya keberanian yang lahir, ditakutkan malah
sebaliknya, kuntet.
Bagi yang tidak tertarik lewat jalur organisasi, bisa
ikut jalur olah raga seperti klub bulu tangkis, klub bola voli. Biasanya
setelah istirahat sehabis main, sambil melepas lelah, sering kali antar anggota
ngomongi ngalor-ngidul. Apalagi ada anggota baru. Dan usahkan anggota
barunya adalah anda. Saat ngomong ngalor
ngidul, itulah moment terbaik anda untuk ikut nimbrung. Yang anda bicarakan
janganlah dulu menyangkut masalah anda. Bertanyalah tentang apa – apa yang
menyenangkan ‘target buraq’. Sudah lazim orang – orang berhasil senang
disanjung, walaupun ada yang terang – terangan, ada yang tertutup. “idholussurur,
“ membahagiakan orang lain. Begitulah bahasa agamanya.
Berbagai macam jalur terhampar dihadapan anda. tinggal
anda yang menentukan jalur mana yang sesuai untuk diri anda. saya teringat
keterangan Pak Ary Ginanjar dalam bukunya, ESQ. Beliau menceritakan dua ekor
ikan yang mendengar perbincangan dua orang yang membahas majunya bisnis air
dalam kemasan. Mendengar hal
tersebut, ikan tadi saling berusaha
menemukan “air.”( maaf kalau ada kesalahan. Habis bukunya sedang dipinjam
orang)
Begitulah terkadang didepan kita terhampar banyak jalur
untuk mendekati buraq, namun karena kita kurang pandai, kurang jeli,
kurang ngotot, sehingga jalur itu terlihat hanya jalur buntu. Sayang, kan?
Untuk bisa maju, untuk bisa naik ke langit, dengan
peristiwa Isra Mi’raj, hampir bisa dipastikan bahwa itu tidak bisa sendiri.
Harus melalui ‘buraq-buraq’. Subhanallah. “barang siapa menentang hukum –
hukum Allah sungguh ia mendzalimi dirinya sendiri.”
Kalau anda ngotot merasa
bisa maju dengan tanpa bantuan orang lain, berarti anda ‘menentang’, atau
setidaknya tidak ngerewes, dan siap – siap anda mendzolimi diri sendiri,
kensekwensinya anda kecapean. Kalau ada yang lebih nikmat, kenapa tidak?
Idealisme, perfeksionis.
Atas nama ini, biasanya seseorang tidak mengindahkan teori – teori dari Yang
Maha Mengetahui. Dia maha mengetahui termasuk mengetahui apa yang bermanfaat
bagi hambanya. Dia tidak medzalimi hambanya, karenanya Dia menyediakan semua yang dibutuhkan hambanya untuk bisa digunakan
bagi kebaikan kehidupanya.
Wallahu’alam bishawab
waiyyaka nasta’in.
( Penulis adalah
ketua MUI dan pengasuh ponpes Bah Sarimah Kec. Silau Kahean kab. Simalungun
)
0 komentar:
Posting Komentar