Jumat, 17 Mei 2013

Memboceng Buraq



( Serial Sukses Dengan Tauhid Bag. 5 )
     
Setiap tahun umat Islam memperingati Isra dan mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. Alasanya syiar Islam, kata para orang – orang alim. Nabi Muhammad melakukan perjalan ke langit dengan naik buraq. Timbul pertanyaan kenapa yah rosulullah mesti naik buraq, apakah tidak bisa Allah langsung menerbangkan Beliau? Kenapa juga ada malaikat Jibril sebagai pemandu perjalanan? Sekali lagi kenapa, yah?
Pernyataan itu wajar keluar dari orang yang berpikir. Bahkan, bila diteliti, malah pertanyaan tersebut harus dimunculkan. Dengan kalkulasi bahwa Allah swt mustahil salah dan tidak mungkin tidak tahu dengan apa yang dikerjakan. Bukan untuk mengeritik Allah, tapi justru, dengan pertanyaan itu akan didapati mukjizat. Sudah banyak bukti dimana orang – orang yang memusuhi Islam dan berusaha mencari kelemahan ql-Qur’an, bukanya menemukan kelemahan, tetapi justru malah mendapati kebenaran. Orang yang berangkat dengan kebencian saja ditengah jalan ditunjukan oleh al-Qur’an,  besar harapan, dengan pertanyaan di atas, akan dikasih Allah hikmah – hikmah yang terkandung dalam peristiwa Isra Mi’raj. Coba lihat ahir kalimat dalam ayat berikut:
 “ Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” QS.  Al-Israa :1
            Coba perhatikan ayat luar biasa ini ditutup dengan “ sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.  Yah sudah didengarlah pertanyaan di atas dan sudah dilihat apa maksudnya.
Mengapa Allah tidak langsung menerbangkan Rosulullah melainkan melalui pelantaraan buraq. Dalam kejadian itu ada beberapa yang bisa kijta petik untuk dijadikan panduan. Kita diajari untuk berhasil dalam kehidupan dunia dengan cara melibatkan orang lain terlebih – lebih orang yang telah berhasil duluan sebagai buraq untuk kita tumpangi agar bisa naik juga kelangit. Apakah Allah tidak bisa menjawab doa kita yang ingin maju dengan tanpa bantuan orang lain, alias maju sendiri? Bisa. Bisa. Tapi yah itu tadi Allah telah menetapkan aturan main dalam dunia. Memaksakan keinginan maju tanpa bantuan orang lain akan menganiaya diri sendiri, sebab menyalahi kaidah yang sudah Allah swt tetapkan. Tidak usahlah memperpanjang pembahasan kaidah maju dengan pelantaran orang lain. Yang penting sekarang membahas sudahkah  anda menemukan ‘buraq.’ Jangan banyak pikiran ini itu. Disekeliling kita pasti ada orang – orang yang telah berhasil. Kenapa tidak kita mintai pendapatnya. Biasanya setelah kita meminta pendapat, bukan cuman pendapat yang diberikan, tetapi sekaligus solusinya. Bahkan kesananya bisa dengan bantuan materi. Orang – orang yang telah berhasil biasanya senang sekali kalau dimintai pendapat,karena yang demikian mengandung pujian, sanjungan. Asal tentunya kita pandai – pandai mencari waktu yang tepat. Kalau anda mau minta pendapat tidak mungkin anda mengetuk pintu rumahnya pada jam 12 siang dimana orang tersebut sedang istirahat. Orang sukses biasanya tidak banyak mempunyai waktu, jadi mengaktifkan hadir di majlis – majlis yang banyak orang sukses sangat perlu diperhatikan. Lalu jika anda merasa kesulitan untuk menemui ‘buraq’, anda tidak boleh berputus asa, masih ada ‘malaikat jibril’ yang bisa menghantarkan kepadanya. Jika susah menemui orang yang sukses secara langsung, anda dapat memulai dengan mendekat pada orang – orang yang dekat denganya. Bahkan kalau bisa mendekati orang – orang yang dikasihi olehnya. Biasanya seseorang akan memperhatikan kepada orang – orang yang memperhatikan apa – apa yang dikasihinya. Percayalah dengan anda memperhatikan anak –anaknya, seseorang tersebut akan menyediakan waktu untuk bisa berbasa – basi dengan anda.
Birokrasi mendekat dengan cara demikian,  bukan tanpa dasar. Allah menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi. Itulah dasarnya. Dengan seseorang bershalawat atas Nabi berarti ia memperhatikan ‘yang disayang Allah’, sehingga Allah cepat – cepat mendatangi dan memenuhi doanya. Begitulah birokrasi ahirat. Memang Allah maha mendengar dan maha tahu atas segala doa. Namun pada kenyataanya didapati ada yang cepat dikabulkanya ada juga yang lama. Yang cepat itu biasanya menggunakan cara tidak langsung mengutarakan permintaanya kepada Allah, biasanya ia menghadiahkan fatihah terlebih dulu kepada Nabi, kepada para kekasih Allah baru mengutarakan maksudnya. Yang demikian bukan berarti meminta pada selain Allah, melainkan, sekali lagi, birokrasi.
Peristiwa buraq terjadi disegala tempat. Dipenerimaan PNS misalnya. Siapa yang mempunyai ‘buraq’ sudah bisa dipastikan lenggang kangkung. dipenerimaan instansi mana saja, coba perhatikan, ada tidak yang ‘buraq’ tidak berperan ‘menghantar’ ke ‘langit’? tidak ada. Lah kalau sudah tahu begitu. Apa perlu membesarkan urat leher , tentunya akan lebih baik, mengikuti aturan main apabila merasa mampu. Maaf yang banyak kepada adik – adik mahasiswa. Bukan saya menentang perjuangan anda memerangi nepotisme, cuman urun rembuk bahwa nepotisme - sekali lagi, ini murni pendapat saya – tidak bisa dihilangkan di muka bumi ini. Akan lebih rasional, nepotisme itu diarahkan yang benar. Artinya,  bolehlah bernepotisme selagi mempunyai kemampuan. Kan tidak aib sih kalau anda mampu di satu bidang kemudian ada orang penting membantu anda menempatkan pada tempat yang memang spesialis anda.
Setelah meyakini bahwa harus ada buraq dalam mengatrol keberhasilan hidup, muncul pertanyaan : bagaimana caranya agar mengenal buraq? Bagaimana dengan keadaan saya yang pemalu, tidak bisa bergaul, apa lagi bergaul dengan orang besar. Bagaimana yah caranya?
Mengikuti organisasi yang ada seperti bergamung dengan organisasi remaja masjid, misalnya. Percayalah dengan banyak bergabung dengan orang – orang yang pandai bergaul- biasanya mereka ada di organisasi – lambat laun anda bisa mengikuti. Organisasi yang sekupnya kecil dulu yang diikuti agar keberanian berdiskusi bisa tumbuh. Setelah tumbuh dan terbiasa berdiskusi barulah mulai melirik organisasi – organisasi yang networknya luas. Sebab kalau ikut langsung organisasi yang besar, bukanya keberanian yang lahir, ditakutkan malah sebaliknya, kuntet.
Bagi yang tidak tertarik lewat jalur organisasi, bisa ikut jalur olah raga seperti klub bulu tangkis, klub bola voli. Biasanya setelah istirahat sehabis main, sambil melepas lelah, sering kali antar anggota ngomongi ngalor-ngidul. Apalagi ada anggota baru. Dan usahkan anggota barunya adalah anda.  Saat ngomong ngalor ngidul, itulah moment terbaik anda untuk ikut nimbrung. Yang anda bicarakan janganlah dulu menyangkut masalah anda.  Bertanyalah tentang apa – apa yang menyenangkan ‘target buraq’. Sudah lazim orang – orang berhasil senang disanjung, walaupun ada yang terang – terangan, ada yang tertutup. “idholussurur, “ membahagiakan orang lain. Begitulah bahasa agamanya.
Berbagai macam jalur terhampar dihadapan anda. tinggal anda yang menentukan jalur mana yang sesuai untuk diri anda. saya teringat keterangan Pak Ary Ginanjar dalam bukunya, ESQ. Beliau menceritakan dua ekor ikan yang mendengar perbincangan dua orang yang membahas majunya bisnis air dalam kemasan.  Mendengar hal tersebut,  ikan tadi saling berusaha menemukan “air.”( maaf kalau ada kesalahan. Habis bukunya sedang dipinjam orang)
Begitulah terkadang didepan kita terhampar banyak jalur untuk mendekati buraq, namun karena kita kurang pandai, kurang jeli, kurang ngotot, sehingga jalur itu terlihat hanya jalur buntu. Sayang, kan?
Untuk bisa maju, untuk bisa naik ke langit, dengan peristiwa Isra Mi’raj, hampir bisa dipastikan bahwa itu tidak bisa sendiri. Harus melalui ‘buraq-buraq’. Subhanallah. “barang siapa menentang hukum – hukum Allah sungguh ia mendzalimi dirinya sendiri.”
Kalau anda ngotot merasa bisa maju dengan tanpa bantuan orang lain, berarti anda ‘menentang’, atau setidaknya tidak ngerewes, dan siap – siap anda mendzolimi diri sendiri, kensekwensinya anda kecapean. Kalau ada yang lebih nikmat, kenapa tidak?
Idealisme, perfeksionis. Atas nama ini, biasanya seseorang tidak mengindahkan teori – teori dari Yang Maha Mengetahui. Dia maha mengetahui termasuk mengetahui apa yang bermanfaat bagi hambanya. Dia tidak medzalimi hambanya, karenanya Dia menyediakan semua  yang dibutuhkan hambanya untuk bisa digunakan bagi kebaikan kehidupanya.


Wallahu’alam bishawab waiyyaka nasta’in.
( Penulis adalah ketua MUI dan pengasuh ponpes Bah Sarimah Kec. Silau Kahean kab. Simalungun )

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut