Sabtu, 23 Januari 2016

Ternyata semua bid `ah tidak sesat



    
Bid’ah menurut bahasa adalah: mengadakan sesuatu dengan tanpa contoh; pembaharuan. Sedangkan menurut syara adalah : suatu pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rosul. Ini menurut Syeh Izzudin.
Pokok permasalahan bid’ah ini sebenarnya dari perbedaanya memaknai, mengartikan hadis riwayat Nasai berikut:
 “sejelek –jeleknya sesuatu adalah pembaharuan. Setiap pembaharuan adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat dan setiap sesat itu dalam neraka.”
Oleh orang yang selalu membid’ah –bid’ahkan, lafadz “kullun” diartikan dengan semua, seluruh. Sedangkan menurut kami, paham syafiiyah, “kullun” itu tidak semua bermakna seluruh, tapi ada juga yang bermakna sebagian. Dalam ilmu mantiq lafadz “kullun” itu ada yang juziyyah ( sebagian ), ada yang kuliyyah (keseluruhan).
Untuk lebih jelas dalam memahami bahwa kullun tidak semua bermakna seluruh, mari lihat dalil –dalil pendukungnya.
1.      QS. Kahfi : 79
" Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.”
Kata “tiap-tiap” dalam ayat ini tidak bermakna seluruh perahu. Karena jika dimaknai seluruh perahu dirampas apa arti melubanginya Nabi Khidir terhadap perahunya nelayan miskin. Nabi Khidir melubangi perahu nelayan miskin tersebut agar perahunya tidak dirampas oleh raja yang dolim. Jadi, raja itu merampas perahu yang bagus –bagus saja. Perahu yang rusak di tinggalkanya.
2.      QS. Al-Ahkof : 25
 . yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.
Kata “setiap sesuatu” pada ayat ini tidak berarti seluruh sesuatu. Karena gunung, langit bumi tidak hancur. Bahkan lebih jelas lagi dengan diikuti kecuali masakinukum, tempat –tempat kalian. Artinya, ayat ini menegaskan bahwa kullun tidak semuanya berarti seluruh. Contoh yang dekat dengan kita adalah, “ tsunami di aceh telah menghancurkan semuanya”.  Kata semua itu tidak berarti semuanya sebab masih banyak yang tidak hancur seperti masjid baiturahman, masjid kecil di pinggir pantai. Sudahlah kami cukupkan disini saja dalil –dalil pendukungnya. Dari dalil ini, para ulama tidak menghukumi semua bid’ah itu sesat. Pemahaman ini harus dilakukan, sebab islam itu rohmatan lil alamin. Bagaimana bisa rohmatan lilalamin kalau semua kerjaan harus disesuaikan dengan yang pernah ada pada zaman rosul. Zaman sekarang dengan zaman dahulu jelas berbeda. Kalau dipaksakan semua harus mengikuti zaman dahulu yang ada hanya pembonsaian islam. Pembaharuan cara tidak bisa dielakan. Itu harus ada. Sebagai misal, kalau ada umat islam yang berdomisili di sekitar kutub utara, yang kadang matahari tidak tenggelam dalam beberapa bulan, apa yang harus dilakukan dalam hal urusan sholatnya? Berhubung sholat dalam islam itu dihubungkan dengan pergerakan matahari, apa dengan matahari tidak tenggalam, seseorang lantas tidak sholat? Jelas membutuhkan pembaharuan, kan?
Kami sodorkan beberapa sahabat yang melakukan bid’ah. Sahabat umar melakukan bid’ah dengan membuat tarawih berjamaah; sahabat Utsman membuat bidah dengan mengkodifikasikan quran, memberi titik –titik, baris, tasdid  pada qur’an. kalau semua bid’ah sesat, maka harus berani mengatakan orang yang membaca al-qur’an dengan segala harakat, tasdid, dan tanda baca lainya, layaknya qur’an yang kita punyai sekarang itu pelaku bid’ah. Asal tahu saja qur’an zaman rosululloh itu kosong tidak ada apa –apanya. Alhamdulilah saya mempunyai salinan tulisan Rosululoh saw saat beliau menyurati raja abasi. Tulisanya memang kosong sama sekali dari tanda titik apapun.
Bid’ah ini menurut para ulama terbagi kedalam lima hukum syariat, yakni bid’ah haram, makruh, wajib, sunah dan bid’ah mubah. Mungkin ada sebagian orang yang  dalam hati timbul kebingungan, bid’ah kok wajib. Jangan tidak terima duluan lalu membuang ini di paret. Bid’ah yang wajib itu seperti membukukan quran karena takut punah ; mengarang dan membukukan kitab tafsir agar generasi sesudahnya tidak salah dalam memahami al-qur’an; mempelajari ilmu nahu, sorof dan balagoh. Coba saja kalau bid’ah di ponis sesat semuanya, kira –kira orang Indonesia bisa tidak membaca al-qur’an, tidak, kan? Kalau semua bid’ah itu sesat pasti tidak ada ulama yang berani menulis kitab tafsir, mengarang kitab nahu. Kalau sudah demikian, kita generasi belakangan apa bisa mengartikan quran dengan benar?  Akan  seperti apa hukum yang didapat oleh kita –kita orang awam ini. Mengerikan!
Perhatikan juga hadis berikut!
Barang siapa menciptakan gagasan kebagusan dalam islam, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan setelahnya...”HR. Muslim.
Apalagi yang melandasi mereka yang tidak menerima pembaharuan yang baik. Apa mau menakwili lafadz “sannatan” dengan sunah rosul?  Kalau ia, maka harus berani mengatakan ada sunah rosul yang sayyiah, jelek. Sebab lafadz “sanatan” disifati dengan “hasanatan.” Dan kita tahu sifat  itu berfungsi  menghusukan. Jadi, sebelum dihususkan  kata sanatan itu mencakup keumuman, baik tindak laku bagus, maupun tindak laku jelek semuanya terkandung di dalamnya. Singkatnya, hadis Nabi tersebut jelas mengajari kita untuk menciptakan kebagusan, menciptakan pembaharuan yang positif. Contoh jika ada ulama menciptakan pembaharuan dengan merumuskan sholatnya orang muslim yang ada di daerah pada garis green land,  misalnya Denmark itu disamakan dengan daerah tropis yang paling dekat dengannya, tidak ada salahnya untuk diapresiasi, bukan di bid’ah-bid’ah sesatkan. Benar bukan buatan, jika semua di bid’ah- bid’ahkan tanpa ada penyaringan, maka berarti mempoklamirkan pembonsain islam. Islam itu tinggi tidak ada yang lebih tinggi darinya, namun janganlah yang tinggi itu di-kuntetkan demi “menghiasi” halaman rumah nafsu dirinya.
Ini saya tuliskan pendapat ulama tentang bid’ah:
1.      Bid’ah haram: mempercayai ada Nabi setelah Nabi Muhammad seperti keyakinan orang Ahmadiya qodian yang mengatakan Mirza Gulam Ahmad seoarang Nabi; mempercayai bahwa Tuhan seperti manusia, sama –sama mempunyai tangan seperti yang di fatwakan oleh Ibnu Taimiyyah.
2.      Bid’ah Makruh : menghiasi Masjid dengan tulisan kaligrafi; sholat sunah berjamaah; menetapkan hari –hari khusus untuk berdikir.
3.      Bid’ah Wajib: membukukan qur’an seperti yang dilakukan oleh Sahabat Utsman dan sahabat lainya; mengarang dan membukukan kitab –kitab fiqih.
4.      Bid’ah Sunah: sholat tarawih 20 rokaat dengan berjamaah; membangun pondok pesantren; bangun saat mendengar cerita Nabi Muhammad saw.
5.      Bid’ah Mubah: menaiki mobil, membuat bermacam –macam makanan lezat, naik haji dengan naik pesawat.
Bagi Kawan yang mungkin sudah mendengar atau mengikuti pengajian “kaum muda” yang berlokomotifkan pada Imam Syatibi, Rasyid Rido, Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyyah ada baiknya mengajak berdiskusi terlebih dahulu dengan para Kiai, Buya sebelum mengungkapkan isi kajiannnya kepada masyarakat awam. Kalau kita punya semangat persaudaraan kuat, niscaya kekondusipan akan terlaksana, toleransi akan subur. Setelah berdiskusi, kita akan melek terhadap betapa kuatnya dalil yang dijadikan landasan ibadah oleh orang –orang dahulu.
Akhirul kalam ihdinashirotol mustaqim wassalam.

0 komentar:

Posting Komentar

resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut