Jumat, 17 Mei 2013

Prasangka , Gosip Dan Kemunduran



Oleh : Saifudin Zain
(Ketua MUI  Kec. S. Kahean dan Pengasuh Pon Pes Al- Ittihadiyah Bah Sarimah S. Kahean)

´ … Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…” Q.S. Al- Hujaarat : 12

            Umat Islam belakangan ini sibuk dengan perasaan curiga terhadap sesama terlebih lagi bagi    orang awam dan orang yang puas dengan pengetahuan yang  dimilikinya. Dan   diperparah dengan sajian berita yang menyeret untuk selalu senang mencari – cari kelemahan seseorang baik media cetak maupun elektronik. Kecurigaan jika tidak dihentikan, maka akan mengajak untuk mencari – cari kesalahan dan pada ujungnya akan menggunjing, menceritakan aib saudaranya sendiri.
Ada tiga mutlaqunnahi ( larangan mutlak ) yang tersusun dalam ayat tersebut di atas. Pertama : jauhilah kebanyakan persangkaan. Kedua :  janganlah mencari – cari keburukan dan ketiga: janganlah menggunjing. Dalam kaidah ushul dilalah mutlaqunnahi adalah haram. Keharaman itu sangatlah wajar sebab memang banyak madhorot yang ditimbulkan oleh ketiganya baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

Madhorot Kecurigaan
            “ Takutlah kamu pada dzon ( prasangka ),  sungguh dzon itu paling dustanya perkataan…”H.R. Muslim
Kecurigaan akan menghantar seseorang untuk mengisi hari – harinya  dengan ketidak  - tenangan. Hari – harinya digunakan untuk selalu menerka orang lain yang pada ahirnya tidak bisa beraktifitas positif yang bermanfaat baginya. Dari kecurigaan, sifat sifat buruk lainya akan tumbuh berkembang dalam diri seseorang.  Kecurigaan laksana tanah subur untuk benih – benih keburukan lain seperti mencari – cari kesalahan ( tajassus ). Kalau sudah sampai ke tangga senang mencari kejelekan orang lain, seseorang akan melihat dirinya penuh sesak dengan kebaikan – kebaikan. Orang lain dilihat salah semua, yang benar hanyalah apa yang dilakukanya. Lebih parah lagi, jika sifat ini tidak berusaha dibuang, akan mempunyai  perasaan  tidak senang terhadap kesenangan orang lain.
Mereka – reka sangat tidak bermanfaat bagi manusia. Biasanya orang yang senang mereka – reka akan terjebak dalam masalah – masalah yang remeh ; akan membesar - besarkan masalah yang sepele dan terakhirnya tidak segan – segan membicarakan aib yang ada pada orang lain terhusus terhadap orang yang tidak disenangi.
Dalam agama, jangankan menggunjing, berlebihan berbicara yang tidak bermanfaat adalah tidak dibolehkan,  sampai – sampai bertanya pun dibatasi terhadap apa – apa yang bermanfaat. “ Hai orang yang beriman janganlah kamu menanyakan hal -  hal yang jika diterangkan kepadamu, maka ( hal itu ) akan menyusahkanmu” Q.S. Al –Maidah : 101.
Bahaya menggunjing tidak hanya untuk si pelaku ; ia akan kehilangan seluruh amal kebaikan yang terkumpul dan bertambah timbangan kejelekan karena berpindahnya seluruh kejelekan orang yang di gunjingkan, tetapi untuk orang yang digunjing, juga untuk perkembangan umat manusia. Kerugian ghibah untuk orang lain adalah ia akan terbatas langkahnya karena aib yang tesebar, terlebih – lebih bila yang di gunjing adalah tokoh. Seorang tokoh itu jangankan kesalahan yang terlihat, yang belum tentu kesalahan juga akan menjadi kesalahan baginya ; kewajaran untuk orang biasa bisa tidak wajar baginya.
Kerugian paling besar disebabkan prasangka yang diiringi ghibah adalah kemunduran umat. Bagaimana tidak mundur, kalau semua sibuk dengan masalah – masalah kecil. Dimatanya suatu kecil menjadi masalah besar, padahal orang – orang yang besar itu mengecilkan masalah besar. Bukankah sudah sunatullah bahwa orang mau besar harus melalui banjir masalah – masalah besar? Lalu, kalau semua sibuk terhadap masalah kecil, apakah akan sanggup menghadapi permasalahan besar yang menjadi syarat menjadi besar? Allah swt tidak akan memberikan derajat agung terhadap orang yang bermental kecil, karena itu namanya mendzolimi. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Q.S. 2 : 286

Penutup
            Untuk tidak terjebak dalam prasangka berlebihan yang membuahkan ghibah, ada beberapa langkah yang ditempuh. Pertama : memikirkan rentetan kerugian prasanka.  Pikirkan juga kerugian banyak berbicara . “Lebih baik menahan ucapan daripada menjadi tahananya”. “ Diam itu emas, berbicaralah saat menjadi berlian “. Kedua  : menyibukan diri dengan berbagai aktifitas seperti olahraga ; bersilaturahmi dengan orang – orang yang bisa menumbuhkan semangat  perubahan dalam hati ; memikirkan sudah seperberapakah langkah diri mengemban amanatNya sebagai pemimpin ; memperbanyak berkawan dengan buku. “ Anda akan mengetahui bahwa sebulan bergaul dengan buku akan lebih baik daripada bergaul dengan orang seumur hidup. “ Begitu kata Syaikh Aidh al-Qarni. Wallahu a’lam bishawab.

SERTIFIKASI KIAI, PERLUKAH?



OLEH : Saifuddin Zainiuri

( Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Pengasuh Pondok Pesantren Al- Ittihadiyah Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun )

Serangkaian teror bom yang terjadi di  negeri ini, memuncukan  wacana sertifikasi kiai. Jujur, pertama kali mendengar dari media elektronik, saya merasa bingung dan secara spontanitas muncul beberapa pertanyaan dalam benak. Apa hubunganya bom dengan kiai? Duluan siapa antara kiai dengan bom di negeri ini? Bukankah ‘cap’ kiai itu dari masyarakat? Kalau kiai disertifikasi, bukankah akan banyak kiai ‘tergantung’ di dinding dengan bingkai seperti ijazah yang dimiliki oleh anak sekaolah? apa sebutanya sesuatu yang menyematkan ke-kiai-an pada kiai?
“ Akan datang suatu masa dimana umatku lari dari ulama, maka Allah swt akan mencoba dengan tiga cobaan. Pertama: Allah mengangkat berkah dari usahanya. Kedua : Allah mengangkat kepadanya pemimpin yang dzalim. Ketiga :  keluar dari dunia dengan tanpa iman.” Al-Hadits

Wacana sertifikasi kiai semoga bukan indikasi menjauhnya umat dari ulama. Mengherankan memang, disaat keadaan umat butuh ulama, dengan semakin merebaknya pelanggaran – pelanggaran syariat tidak lagi sungkan, kenapa wacana ‘aneh’ itu mencul. Wacana demikian bisa melahirkan stigma negatif. Orang tentunya ‘ngelirik-mesem’ kepada kiai. Anggapan bahwa kiai adalah penyebar idiologi teror akan semakin menjauhkan umat dari ulama. Memang ulama bukan berarti kiai, namun yang melekat selama ini dalam masyarakat asal seorang sudah disebut kiai pasti ia adalah seorang ulama ditempatnya.
Beberapa kelemahan – bisa juga disebut kesalahan – dalam sertifikasi kiai adalah sebagai berikut. Pertama:  akan menanamkan kecurigaan terhadap kiai dihati orang awam, kalau tidak disebut pembunuhan karakter. Kiai, dari saat penulis lahir hingga sekarang, adalah ikon kebagusan, kebaikan. Jika ikon kebaikan ‘dihancurkan, ’ pelan – pelan kebagusanya akan ikut sirna juga. Rentetanya begini. Kecurigaan yang timbul dihati orang awam terhadap kiai akan semakin menambah keengganan umat mendekati agama. Kalau seseorang lari menjahui agama sudah bisa dipastikan ia akan terjerumus dalam langkah – langkah salah. Manusia lebih cenderung untuk melakukan kejahatan dibanding melakukan kebaikan. Bisanya manusia melakukan kebaikan karena ada yang mensuportnya, karena ada yang mengingatkanya. Sudah mafhum bahwa para ulama yang selama ini ngotot melakukan itu. Bukan yang lainya. Apalagi mereka yang pandai bersilat lidah hanya menginginkan kedudukan di penguasa.
Agama, yang gigih disampaikan oleh para kiai, adalah pengaruh dari luar ( baca: fenotif) dalam memnjadikan seseorang berbuat baik. Memang ada seseorang yang memiliki pengaruh baik pembawaan ( baca: genotif) tapi itu jumlahnya hitungan jari. Pengaruh luar, lingkungan sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang. Dan dalam hal ini agama lah yang sangat penting berperan. Sebagai contoh: anak yang mempunyai pembawan kurang baik, lambat laun, jika ia berada dilingkungan yang selalu didalamnya disampaikan agama, seperti di Pesantren misalnya, kebaikan akan mudah ia lakukan. Tapi coba ia berjalan dengan tanpa bimbingan, sedangkan pembawaanya kurang baik. Kira – kira apa yah yang akan ia perbuat?
Kedua : menimbulkan ketersinggungan di hati  umat islam. Mungkin pencetus wacana bisa berkelit bahwa pen-sertifikasi-an bukanlah pembunuhan karakter terhadap kiai, tetapi tetap saja ketersinggungan  dihati umat tidak bisa dihindari karena, jujur saja, saat ini melekat sekali ikon kebaikan dalam diri seorang kiai. Itu tidak bisa dipungkiri. Dan memang begitu kenyataanya. ( setidaknya sampai sekarang ) Jika ketersinggungan ini dibiarkan merembet, akan terjadi buruk sangka antar umara dan ulama. Padahal dua unsur tersebut sangat dibutuhkan oleh kehidupan bermasyarakat.
Ketiga : memperlihatkan aib sendiri. Ketidakmampuan menghadapi dan memecahkan masalah terlihat jelas,  bak matahari siang bolong, dengan dimunculkan masalah tersebut. Kalau mau menagkap ikan di sungai tidak perlu menggunakan bahan peledak. Yang demikian akan memusnahkan seluruh ikan yang di dalamnya, padahal hanya satu-dua ikan yang mau ditangkap. Dari wacana itu, juga didapati cupet akal yang  berarti menegaskan ketidak-mampuan menangani masalah.
Kata orang bijak, negara besar adalah negara yang penduduknya menghargai sejarah. Apa tidak ingat sejarah para kiai dan santrinya bersatu dengan masyarakat dalam mengusir penjejah di negeri ini.

PENUTUP

Tujuan baik dalam sertifikasi pasti ada. Sunguhpun demikiang ken, akan lebih baik dalam mengambil keputusan, seoran g pemimpin memperhatikan nilai – nilai lainya. Kaidah fiqih mengajari kita untuk berbuat demikian. “ dar’ul mafaasid muqadamun ‘ala jalbil mashaalih”, mencegah kemungkaran  lebih didahulukan  ketimbang menarik kebaikan.
Tidak usahlah memaksakan sebuah kebaikan, kalau karena itu menimbulkan kerusakan – kerusakan lainya. Sertifikasi, sekali lagi, pasti mempunyai nilai positif dari sisi lain, namun tidak kalah penting memperhatikan nilai – nilai negatif yang ditimbulkan olehnya.
Pemimpin adalah pengemban amanah untuk memberi ayoman kepada yang dipimpinya. Harapan kita semua, langkah bijaksana yang diambil oleh pemimpin negeri ini agar ketenangan, kedamaian bisa tercapai. Menilik evek negatif bisa timbul dari pensertifikasian kiai, rasanya tidak perlu sertifikasi diambil sebagai langkah antisifasi terjadinya teror. Masih terhampar ratusan, bahkan ribuan, cara yang lebih bijak. Sertifikasi, menurut hemat penulis tidak bisa menyelesaikan masalah, bahkan dihawatirkan menimbulkan masalah baru.
Dengan panduan hadits di atas, semestinya umara membantu umat, masyarakat mendekat kepada ulama agar cobaan berat dari Allah tidak menimpa umat. Bukan malah sebaliknya, berusaha menjauhkan umat dari ulama dengan cara – cara nyeleneh.
Mencari cara  bijak adalah solusinya. Walikota solo telah menerapkan hal itu. Disaat semua penguasa memilih menggunakan ‘tangan’ kekuasaan dalam menertibkan pedagang kaki lima, beliau malah mengundang para pedagang kaki lima untuk makan bersama. Dan  itu dilakukan berulang – ulang. Hasilnya sangat mengesankan. Para pedagang kaki lima mau dipindahkan tempat daganganya dengan tanpa kerusuhan.
Alkisah. Seorang kepala keluarga berniat melaksanakan ibadah qurban satu sapi. Ia mempunyai tujuh anggota keluarga. Niat itu tidak sempat dilaksanakan sampai istrinya yang mengandung melahirkan. Sehingga jumlah keluarganya menjadi delapan. Satu hari, kepala keluarga itu sowan ke kiai A. Diutarakan maksudnya berkorban dengan satu sapi, “ Kiai, kami ada niat qurban satu sapi. Bisa kan kiai kami berqorban untuk keluarga kami yang ada tujuh dan satu anak bayi kami?”
“ oh tidak bisa, pak”, jawab kiai A. “ satu sapi hanya bisa untuk tujuh nyawa. Walaupun bayi baru lahir tetap saja ia dihitung. Karena itu,  maaf, qurban itu tidak bisa dilaksanakan.”
Kepala keluarga itu kecewa. Setelah pulang dirumah, ia mengutarakan kekecewaanya kepada isterinya dan berniat membatalkan rencana qurbanya. Isterinya menganjurkan untuk bertanya kepada kiai B. Datang ke kiai B langsung diutarakan rencana qurbanya. Dijelaskan  permasalahan anak bayinya seperti ia menjelaskan pada  kiai A.
Jawaban kiai B diluar dugaan. Dikatakanya berqurban dengan begitu masalahnya dibolehkan. “Orang cuma anak bayi,  kan bisa dibonceng.” jawab Kiai B. Kiai B hanya menambahi untuk membonceng, karena masih kecil, dibutuhkan ‘tangga’. Tangganya berupa kambing satu. Singkat cerita keluarga itu ihlas membeli kambing untuk ‘tangga’ bayinya naik ke punggung sapi. Dan qurban dilaksanakan dengan demikian orang – orang miskin merasakan daging qurban.
Terkadang orang – orang yang mempunyai kekuasaan terlalu dini dalam mengambil keputusan. Padahal kalau sejenak berpikir mencari jalan yang lebih baik, insa Allah, akan menemukanya. Dalam masalah mengantisifasi terulangnya teror bom, coba berpikir lebih jauh untuk mencari jalan yang paling baik. Bukan mecetuskan sertifikasi para ulama.
Wallahu ‘alam bishawab. Waiyyaka nasta’in.

QURBAN SOLUSI KENAKALAN REMAJA



Oleh: Saifudin zainuri
( Ketua Mui Kec. Silau Kahean dan Pengasuh Ponpes bah sarimah )

Agama islam merupakan penyempurna bagi agama – agama sebelumnya. Karenanya, biasa juga  islam disebut dengan milah Ibrahim. Artinya agama islam mencakup syariat – syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Misalnya : haji, khitan, qurban. Husus dalam qurban, syariat ini, berdasarkan kejadian yang dialami Nabi Ibrahim dengan putranya, Nabi Ismail. Kejadian ini diabadikan di dalam al-Qur’an.
“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". QS. 37: 102
Dalam syariat qurban ini, sedikitnya ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama : syariat Nabi Agung kita menggunakan syariat dari Nabi Ibrahim ( milah Ibrahim ). Hikmah yang terdapat dalam syariat ini adalah mengajari kita untuk tidak lupa akan sejarah. Sejarah dalam kehidupan manusia tidak bisa dipandang sebelah mata kedudukanya. Pentingnya sejarah diperkuat dengan banyaknya al-Quran menceritakan sejarah umat – umat lalu. Pemaparan sejarah oleh al-Qur’an bukan tanpa maksud. Mengingat segala yang ada dalam al-Qur’an adalah mu’jizat, maka termasuk di dalamnya penceritaan sejarah. Yang paling terlihat adalah agar kita bisa mengambil hikmah umat – umat yang terdahulu. Agar bisa menjadikan iktibar untuk menjadi pedoman dalam menghadapi kehidupan. Bagaimana Allah swt meng-adzab umat yang terdahulu karena mereka banyak melakukan maksiat. Bagaiaman Allah meninggikan drajat orang – orang yang mengikuti aturan – aturan-Nya.
Husus sejarah pada Nabi Ibrahim, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau berhasil menjadikan generasi penerusnya menjadi generasi para nabi ( termasuk Nabi Muhammad saw. )
Nabi Ibrahim lebih mendahulukan yang di-inginkan oleh Allah ketimbang mendahulukan apa yang menjadi keinginan dirinya. Sekian lama beliau menunggu lahirnya anak dalam keluarganya. Setelah mempunyai anak, dalam keadaan anak sedang banyak memberi tingka gemas – gemasnya, datang perintah dari Allah untuk memotong anaknya, dan Nabi Ibrahim lebih memilih mengambil perintah Allah. Inilah benang merah yang penting untuk ditarik guna menjadi pedoman. Sekarang banyak dari kita yang memilih keinginaan diri  dan menomorduakan perintah Allah. Dan biasanya, gara – gara anak orang tua akan melakukan apa saja walau melanggar syariat sekalipun. Padahal saat seseorang lebih memilih Allah swt, disitu Allah mengetahui dan akan menjadi penolong baginya dan anak keturunanya. Masalah ini sudah jauh dari pantaun umat. Kita ‘terlalu sombong’ menganggap bahwa bisa menjadikan anak – anak kita anak yang baik berbekal dengan pengetahuan yang kita dapati. Tidak sedikitpun – terkadang – terlintas bahwa Allah campur tangan dalam masalah pendidikan anak. Memang benar, ilmu yang kita punya bisa membantu. Tetapi itu hanya diantaranya, bukan penyebab utama. Jika seseorang merasa mampu menjalani kehidupan dengan sendiri, maka Allah akan menyerahkan semuanya kepadanya. Sampai sebatas mana sih kemampuan kita dalam membendung waswasilkhonas?
‘Iitsar fiddunyaa mathlubun’ begitulah kaidah fiqih mengajari kita. Mendahulukan kepentingan orang lain, termasuk kepentingan Allah, itu dianjurkan. Kekuatan mendahulukan kepentingan orang lain sangatlah besar manfaatnya dalam kehidupan ini. Dan ternyata, manfaatnya tidak hanya untuk orang lain, melainkan  merembet untuk kebaikan si pelakunya. Sampai ke generasinya. Syeh Sadiduddin Asyirazi berkata, “berkata syeh kami,” ‘barang siapa yang mengendaki anaknya ‘alim, maka hendaknya orang tersebut memperhatikan, memulyakan, mengagungkan, dan memberi sesuatu kepada ulama fiqih yang hijrah. Dan jika anaknya tidak alim, maka keterunanya yang alim.’   ( lihat Ta’lim muta’alim Syeh Ibrahim bin Ismail. Soh. 17 )
Mendahulukan kepentingan Allah berarti menyerahkan segalanya kepada-Nya. Jika sudah demikian, Allah swt akan membantu semua urusan yang dihadapinya termasuk urusan pendidikan anak – anaknya. Ingat dengan Nabi Ibrahim memilih melaksanakan perintah menyembelih anaknya, Allah menggantinya dengan kambing dan menjadikan keturunanya pemimpin – pemimpin orang shaleh termasuk Nabi agung kita, Nabi Muhammad saw.
Kedua: Nabi Ibrahim AS meminta pendapat Nabi Ismail AS. Seharusnya para orang tua tidak usah segan meminta pendapat anak – anak kalau dirasa perlu seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Meminta pendapat kepada anak akan melahirkan dampak positif bagi perkembangan psikolognya. Disinilah  timbul ‘merasa dibutuhkan’ sehingga akan membuat anak berusaha merealisasikanya. Sehingga sangat lah wajar apabila kita menemukan anak – anak yang berpikir dewasa dan selalu cenderung positif didalam keluarga yang harmonis. Kebalikanya, jangan heran mendapati anak – anak yang cenderung melihatkan sikap negatif dalam keluarga yang tidak harmonis.
Secara pemikirian (IQ) mungkin Nabi Ismail, saat dimintai pendapat belumlah  cukup. Namun secara hati (EQ) belum tentu demikian. Kecerdasaan hati yang dimiliki oleh Nabi ismail, dengan melihat tegasnya beliau memberi jawaban, kuat dugaan karena dimintai pendapat oleh ayahnya.  Mungkin akan lain ceritanya apabila Nabi Ibrahim langsung melaksanakan perintah dengan tanpa bermusyawarah terlebih dulu.
Namun sungguh sangat disayangkan banyak dari kita yang tidak menangkap pelajaran dari sejarah masa lalu. Orang tua seringkali menganggap sepele anaknya. Jarang sekali orang tua yang melibatkan anak – anaknya ikut bermusyawarah, mereka lebih memilih memfonis salah terhadap  anaknya apabila anaknya melakukan kekeliruan. Tidak mempedulikan dampak dari fonisnya. Memang  diam si anak saat dijatuhi fonis, tetapi apa ia hatinya juga diam? Sekali –duakali fonis itu’manjur’ untuk menghakimi. Ketiga kalinya anak akan berontak dengan bahasanya sendiri. ‘pelajaran’ yang didapat dari orang tuanya akan diadopsinya dan diterapkan kepada sekelilingnya.
Mel Levine, M.D dalam bukunya A Mind at a time yang diterjemahkan dalam fersi Indonesia, “Menemukan bakat istimewa anak”, mengatakan bahwa kondisi sosial-ekonomi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Dia mencotohkan seorang anak yang oleh orangtuanya selalu diajak berdiskusi tentang beberapa hal. Prestasi belajar anak tersebut sangat cemerlang dan ia selalu haus akan pengetahuan baru.
Ketiga :  “Insyaalah engkau akan menemukan saya dari golongan orang – orang sabar” begitulah yang dikatakan Nabi Ismail. Kenakalan remaja baik tawuran, bolos sekolah, maupun yang lainya adalah satu penyebabnya: tidak sabar.
Pendidikan kesabaran disekolah pada saat sekarang ini bagaikan bidadari, sulit mencarinya. Yang diujian nasionalkan contohnya, semuanya berbaziz pada IQ. Anak yang sabar dengan IQ rendah bisa dipastikan tidak lulus. Kan aneh, yah? Setali tiga uang. Dikehidupan rumah tangga hampir kebanyakan orang tua akan selalu mengikuti kehendak anaknya. Sampai – sampai ada orang tua yang menjual apa saja karena anaknya meminta sepeda motor. Permintaan anak bukan muncul saat sekarang saja. Sejak dulu juga ada. Perbedaan dalam menyikapi permintaan saja yang menjadi ukuran. Jika dulu orang tua menyadarkan anak dengan meminta untuk bersabar, untuk berusaha memahami dan mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Lingkungan juga membantu orang tua menanam sifat sabar seperti di sekolah – sekolah , di tempat – tempat pengajian, di kehidupan bertetangga. Coba sekarang, langka! Orang tua jelas berat berjuang sendiri mematri sifat sabar dalam diri anaknya. Seluruhnya berlomba untuk meng-instan-kan masalah. ‘alon – alon asal kelakon’ yang simbol kesabaran sudah terbang ke surga.

Penutup
Kenakalan remaja bisa diminimalkan dengan memakai semangat qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Orang tua harus berani ber-‘qurban’ menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan anaknya. Berani mengorbankan kepentingan dirinya untuk memilih mendahulukan kepentingan Yang Maha Kuasa. Sedini mungkin anak diajari sifat sabar. Mengalahkan rasa ‘kasihan’ kalau anak tidak dituruti keinginanya. Anak perlu  belajar sabar terhadap keadaan dengan cara orang tua tidak menuruti segala keinginanya.  Dan pemerintah tidak ada salahnya meninjau kembali pendidikan pada saat ini.  Bila perlu pendidikan kesabaran diikutkan ujian nasional. Memang ketiga unsur yakni, berkurbanya orang tua, dan pendidikan kesabaran anak, turut memperhatikanya pemerintah tidak lantas bisa menyulap anak remaja menjadi baik seketika. Semua maklum bahwa sekarang terdapat ribuan faktor yang mempengaruhi remaja. Namun, setidaknya ada langkah konkrit berdasarkan nilai – nilai syariat yang jelas datang dari Dzat yang maha tahu. Wallahu ;alam bishawab.


Tahun Baru Hedonisme Dan Lupa Akhirat



Oleh : Saifudin Zebod
( Penulis adalah Ketua MUI Kec. Silau Kahean dan Khadim Pondok Pesantren  Bah Sarimah Kec. Silau Kahean Kab. Simalungun )

“ Bermegah-megahan telah melailaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui ( akibat perbuatanmu itu ) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” Q.S At-Takatsur : 1-4
Setiap pergantian tahun, setiap itu pula pesta besar-besaran saling berlomba – lomba di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di dunia yang mayoritas penduduknya Islam seperti negeri kita. Tidak bisa terbayangkan berapa biaya yang keluar untuk membayar satu malam pergantian tahun baru. Mungkin,  jika dibolehkan berandai-andai, biaya malam tahun baru bisa untuk membiayai anak –anak miskin sekabupaten  bersekolah sampai jenjang kuliah. Maka, jika tahun berikutnya terulang dan begitu seterusnya, kebodohan yang menjadi pangkal kemiskinan bisa terkikis yang pada endingnya negeri ini terbebas dari kebodohan dan semakin dekat dengan kemakmuran.
Kesenangan Dunia
Seluruh rentetan acara pada malam pergantian tahun, sebagian besar – kalau tidak disebut semuanya- adalah menonjolkan hura-hura, berlebih –lebihan dalam kesenangan dunia. Hedonisme sudah meracuni sebagian penduduk negeri yang kita cintai ini dan kelihatanya cengkramanya akan berlangsung lama. Padahal sejarah telah mencatat bahwa hancurnya suatu kaum karena disebabkan oleh hubudunia. Hura-hura, dengan karakteristiknya; langsung terasa kenikmatanya, akan meninabobokan semua yang tidak menganggap penting efek darinya.
Sesuatu yang cepat, langsung terasanya, oleh Al-Qur’an disiratkan dengan menggunakan huruf “wawu” ( mutlaqul jam’i), sedangkan yang menggunakan proses, step by step informasinya disampaikan oleh huruf “fa” . Dan menggunakan “tsumma”, apabila prosesnya membutuhkan waktu yang lama. Dan yang sangat perlu diperhatikan adalah yang didahului oleh wawu berujung kejelekan, kesusahan.  Sedangkan berujung kebaikan, kesenangan apabila didahului dengan fa atau tsuma (Q.S 101:6-9) . Artinya, berangkat dari siratan pelajaran demikian, hura-hura yang manfaatnya langsung-kalau ada yang menyebut itu bermanfaat- masih perlu pertimbangan untuk dijadikan perayaan pergantian tahun baru.
Buaian hura-hura akan menyeret seseorang lalai akan kehidupan besok. Dan kelalaian ini akan berlangsung sampai seseorang diantar berziarah ke kubur, jika tidak secepatnya menyadarinya. Dan jangan sampai sadarnya oleh terlihatnya akibat darinya. Kalau sudah begitu tidak ada artinya kesadaran.
Melihat sejarah umat yang sudah-sudah. Seperti Islam di Spanyol misalnya, menurut ahli sejarah, faktor utama yang menyebabkan kehancuran umat Islam adalah bermegah-megahan dalam urusan dunia.  Tujuh abad kurang lebih Islam berjaya di Spanyol. Itu saja bisa roboh dengan sebab bermegah –megahan dalam kesenangan dunia, lalu bagaimana dengan yang di bawah itu?
Juga melihat sejarah kaum Saba. Saba adalah nama kabilah dari kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan Sabaiyyah dan berhasil membuat bendungan raksasa yang denganya negeri mereka subur dan makmur. Kemewahan, kemakmuran menyebabkan mereka mengingkari aturan –aturan Allah swt. Mereka tidak mengindahkan seruan para utusan. Karena keingkaranya, Allah swt mengirimkan banjir bandang yang menghancurkan apa-apa yang mereka banggakan. Kisah kaum Saba diabadikan oleh Allah swt dalam al-Qur’an sebagai i’tibar bagi umat yang setelahnya.
“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui...” Kalimat ini terulang penyampaianya. Pengulangan merupakan taukid, penguat sebagai pemberitahuan akan seriusnya kalimat tersebut. Biasanya karena yang dikhitabi mengingkari atau ditemukan indikasi keingkaran. ( Jauhar Maknun soh.22 ) Dan tidak terlalu berlebihan jika dikatakan saat ini indikasi keingkaran itu ditemukan. Bencana yang silih berganti termasuk di dalamnya banjir seakan hanya merupakan kejadian alam yang kebetulan saja, tidak sedikitpun dimaknai sebagai “SMS” dariNya atas berlebih-lebihan yang dilakukan.
Mengisi pergantian tahun dengan gegap-gempita pesta pun sebuah kejanggalan andai dilihat dengan kaca mata ahirat. Bukankah dengan bergantinya tahun berarti berkurang umur seseorang? Dan, berarti semakin dekat dengan giliran mati, bukan?
Mustahil logika pergantian tahun tidak dimengerti. Tidak lain hanya karena lupa ahirat, begitulah jawaban dari mengapa pergantian tahun diisi ala mereka yang tidak meyakini ada kehidupan setelah kehidupan ini. Belum lagi yang tidak terlihat nyata dalam acara. “ Pil KB diserbu ratusan ABG pada malam pergantian tahun baru” begitu informasi yang dimunculkan di bawah layar salah satu stasiun swasta.


resep donat empuk ala dunkin donut resep kue cubit coklat enak dan sederhana resep donat kentang empuk lembut dan enak resep es krim goreng coklat kriuk mudah dan sederhana resep es krim coklat lembut resep bolu karamel panggang sarang semut