( Serial sukses dengan tauhid
bag: 3 )
‘’ Sesungguhnya Allah tiada malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang
lebih rendah dari itu. Adapun
orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari
Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah
menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang
diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang
yang fasik. “ Q.S. 1 : 26
Jangan malu dengan yang
kecil – kecil dalam memulai langkah. Coba pikirkan! Allah saja Yang maha Kuasa
menegaskan bahwa tidak malu menciptakan perumpamaan nyamuk atau yang lebih
kecil dari itu. Menarik sekali diskusi dalam pengajian tauhid membahas ayat
ini. Andaikan saja Allah tidak menegaskan, ‘ sesungguhnya Allah tidak malu...’
sah – sah saja. Orang Allah yang maha segalanya. Kita lah yang harus mencari
hikmah dalam penegasan penyampaian tersebut. Ada apa yah kira – kira, kok Allah
‘nyempetin’ mengungkapkan itu. Setidaknya, dalam penyebutan sesuatu,
menurut ahli sastra arab, terdapat penguatan kalimat yang bersangkutan. Juga,
bisa bermaksud untuk menginformasikan nilai lebih yang terkandung didalamnya.
Husus dalam ayat di atas, banyak
menggunakan penguat bahasa. Diantaranya, menurut pengamatan saya, adalah : harfutaukid, jumlah ismiyyah, dan
penyebutan ‘baudhoh’ dengan menggunakan nakirah. Singkatnya,
dalam bahasa kita, ayat tersebut terbaca demikian, ..”sungguh, suwer, samber
bledek Allah tidak malu membuat nyamuk...”
Pembahasan dari segi
bahasa untuk menterjemahkan ayat di atas dirasa perlu agar bisa menemukan
‘ijaz’-nya. Tidak sadarkah kita Allah
mewanti – wanti kepada manusia agar jangan pernah sedikitkan meremehkan hal-
hal positif sekecil apapun. Dan, subhanallah, memang pada realitasnya banyak
orang yang gagal, kalah hanya karena menyepelehkan perkara kecil.
Salah seorang pengusaha
dari Jakarta yang kebetulan ikut pada malam pengajian tauhid di pondok pesantren
Bah Sarimah membenarkan masalah gagal hanya karena perkara sepele. “ saya gagal
mendapatkan kesepakatan kontrak yang lumayan nilainya karena saya telat 10
menit. Sepele awalnya saya rasa, tapi itu tadi gara – gara sepele gagal yang
saya rencanakan.” Beliau menceritakan pengalaman kegagalanya di hadapan
musyawirin sambil menampakan muka tidak percaya bahwa al-Qur’an telah membahas
kegagalan dirinya yang menyepelekan perkara sepele.
Rasanya lebih banyak
orang jatuh kesandung krikil daripada jatuh kesandung batu
sebesar gunung , betul tidak?
Dengan sudut pandang
berlawanan, pun, perkara kecil tetap harus diperhatikan. Kalau tadi kita
mengetahui ‘bahaya’-nya perkara kecil dalam menjadikan orang gagal. Sekarang
coba dengan kacamata kesuksesan. Apa bisa perkara kecil bisa membuat seseorang
sukses? Bisa. Orang akan lebih sukses memakan semangka dengan dipotong kecil –
kecil daripada sekaligus memakanya. Cara kerjanya pun lebih enak dan lebih
bersih hasilnya. Namun coba orang yang makanya sekaligus, bisa dipastikan blepotan
dan tidak bersih. Masih banyak yang tersisa. Milih mana?
Ngaku atau tidak, ‘orang kecil’ yang dibutuhkan oleh elite
politik pada musim kampanye. Dan ada pemandangan yang menarik perhatian
saya-berhubung saya ndak tertarik dunia politik –yakni terpilihnya gebernur
Jakarta pada 2012 adalah orang yang melekat dengan orang kecil. Ternyata ada
kekuatan luar biasa dalam sesuatu yang kecil. Pantasan agama menyuruh manusia
untuk ‘mengecilkan’ dirinya ( baca: tawadlu’, merendah)
Burung pipit yang masih
banyak kita jumpai dibanding burung elang. padahal yang kecil yang biasanya
jadi makanan yang besar. Tapi kenyataan
burung pipt yang berhasil mempertahankan
generasinya. Jangan – jangan karena burung pipit kecil, yah? Wallohu ‘alam.
Kembali pada pemahaman
ayat di atas. Allah sudah meyakinkan bahwa Dia tidak malu membuat nyamuk.
Lalu, kenapa kita seorang hamba yang
lemah kok malu mengambil langkah – langkah untuk kemajuan hanya karena dirasa
kecil dan tidak ada prestise di dalamnya.
Pikirkan juga ancaman
bagi orang yang tidak berusaha memahami ciptaan Allah walau sekecil nyamuk. Ingat dengan ciptaan nyamuk, banyak yang
Allah sesatkan dan denganya pula banyak yang ditunjukan oleh-Nya. Harapan kita
orang – orang yang diberi petunjuk adalah kita. Dan orang – orang yang
disesatkanya adalah Israel dan Amerika. Amin ya rabal ‘alamin.
Karenanya, marilah kita
jangan pernah menyepelekan sesuatu yang bisa menghantarkan ke tempat
keberhasilan. Tidak usah malu pada yang demikian. Malunya kita harus diarahkan
pada yang bersangkutan dengan pelanggaran ibadah seperti membiarkan diri kita
lari dari rel aslinya : khairo umatin.
Nabi Sulaiman berhenti
sejenak memberi kesempatan kepada semut untuk bersembunyi dalam rumahnya agar
terhindar dari rombongan yang akan lewat. Begitu hebatnya kekuasaan nabi
Sulaiaman, masih sempat memperhatikan semut yang kecil.
Tidak ada yang tidak
berawal dari kecil. Coba perhatikan sekeliling kita, seluruhnya tidak ada yang ‘bimsalabim’
langsung besar. Lah...kalau sudah tahu begitu, apalagi alasanya untuk malu.
Menghitung saja dimulai dari yang kecil : Dari mulai satu, dua, tiga dan
seterusnya. Tidak mungkinlah langsung seratus,
seribu, sejuta. Sebagai penegas bahwa semuanya berawal dari hal kecil, adalah
QS. An –Nisa : 1
“ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah
menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lai], dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Sangat terang dalil –
dalil yang menjelaskan agar kita tidak menyepelehkan perkara kecil. Jika kita
mau mencarinya lebih gigih lagi, niscaya akan ditemukan lagi dalil – dalil yang
lainya dengan berpijak dari banyaknya umat yang menyepelekan perkara kecil.
Biasa dalam bahasa qur’an, disaat banyak yang ingkar, penyebutanya diulang –
ulang sebagai penguat.
Wallahu’alam bishawab.
0 komentar:
Posting Komentar